
CIREBON – Ajang pemilihan Jaka Rara Kota Cirebon 2026 tidak hanya diarahkan untuk melahirkan ikon promosi pariwisata. Para duta wisata yang terpilih diharapkan mampu mengambil peran lebih luas dalam memperkenalkan potensi daerah sekaligus ikut mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM.
Pesan tersebut mengemuka dalam Grand Final Jaka Rara Kota Cirebon 2026 yang digelar di Grage City Hub, Sabtu (19/9) malam.
Kegiatan berlangsung meriah dengan konsep outdoor. Hadir dalam acara tersebut Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati, Ketua TP PKK Kota Cirebon Noviyanti Edo, Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib, serta sejumlah tamu undangan.
Sebanyak 22 finalis tampil dalam malam puncak tersebut. Mereka merupakan perwakilan dari kelurahan di Kota Cirebon yang sebelumnya telah mengikuti serangkaian proses seleksi hingga akhirnya dinyatakan sebagai finalis Jaka Rara Kota Cirebon 2026.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon Agus Sukmanjaya mengatakan, pelaksanaan Jaka Rara tahun ini memiliki tantangan tersendiri karena kondisi anggaran yang terbatas.
Persiapan kegiatan bahkan telah dilakukan sejak awal tahun melalui pembahasan bersama Paguyuban Jaka Rara Kota Cirebon.
Menurut Agus, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pembinaan generasi muda melalui ajang tersebut.
“Penyelenggaraan grand final ini sangat panjang. Dari awal tahun kami sudah merembuk dengan Paguyuban Jaka Rara, karena penyelenggaraan ini menjadi istimewa dengan keterbatasan anggaran,” ujar Agus.
Ia menyebut antusiasme panitia, paguyuban, dan para peserta tetap tinggi. Proses seleksi pun berjalan hingga menghasilkan 22 finalis yang menjadi representasi dari kelurahan-kelurahan di Kota Cirebon.
“Di tengah keterbatasan anggaran, alhamdulillah tidak menyurutkan semangat teman-teman untuk tetap melaksanakannya, mulai dari proses seleksi hingga terpilihnya 22 finalis yang menjadi perwakilan dari setiap kelurahan,” katanya.
Selain keterbatasan anggaran, konsep acara tahun ini juga dibuat berbeda. Grand final yang sebelumnya identik dengan ruangan tertutup kali ini dikemas secara outdoor sehingga memberikan suasana yang lebih terbuka dan meriah.
Namun, Agus menegaskan bahwa keberhasilan Jaka Rara tidak boleh berhenti pada malam puncak atau sekadar penobatan pemenang.
Para Jaka Rara terpilih nantinya diharapkan mampu menjalankan fungsi sebagai duta pariwisata sekaligus ikut mengampanyekan literasi keuangan. Mereka juga diharapkan mampu menjadi penghubung antara potensi daerah dengan masyarakat, wisatawan, pelaku UMKM, maupun sektor ekonomi kreatif.
Hal senada disampaikan Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati. Ia mengapresiasi antusiasme masyarakat dan kemampuan para finalis yang tampil dalam Grand Final Jaka Rara Kota Cirebon 2026.
Menurut Rida, generasi muda tidak hanya memiliki tugas untuk mewarisi sejarah dan kebudayaan Kota Cirebon. Lebih dari itu, mereka juga memiliki ruang untuk menciptakan sejarah baru melalui berbagai kontribusi positif bagi daerah.
Karena itu, ajang Jaka Rara tidak semestinya hanya dilihat sebagai kontes yang mengutamakan penampilan fisik.
“Predikat Jaka dan Rara bukanlah sekadar instrumen visual promosi daerah. Lebih dari itu, mereka harus menjadi wujud nyata dari kapasitas generasi muda Kota Cirebon yang berwawasan luas, cerdas, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap arah pembangunan kotanya,” tegas Rida.
Ia menilai duta pariwisata harus mampu memperkenalkan Kota Cirebon secara lebih utuh. Bukan hanya mengenai keraton, kuliner, maupun peninggalan sejarah, tetapi juga potensi Cirebon dalam menghadapi perkembangan ekonomi modern.
Sektor pariwisata dan kebudayaan, kata dia, memiliki keterkaitan dengan banyak aspek ekonomi. Mulai dari inklusi keuangan, pergerakan ekonomi lokal, keberlangsungan UMKM hingga perkembangan industri kreatif.
Dengan demikian, keberadaan Jaka Rara diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Mereka perlu memiliki kapasitas untuk mengkomunikasikan potensi daerah sekaligus mengajak masyarakat, terutama generasi muda, ikut terlibat dalam pembangunan.
Rida juga mengapresiasi Disbudpar Kota Cirebon yang secara konsisten menyelenggarakan pembinaan Jaka Rara dari tahun ke tahun.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembangunan kota bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Dibutuhkan sinergi lintas sektor yang kuat. Keberhasilan acara malam ini adalah bukti nyata dari kolaborasi yang sehat antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta,” ucapnya.
Kepada para finalis, Rida berpesan agar siapa pun yang nantinya menyandang predikat Jaka dan Rara Kota Cirebon 2026 mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.
“Jadikan selempang yang melingkar di pundak sebagai pengingat akan tanggung jawab sosial, bukan sekadar simbol kebanggaan semata,” tuturnya.
Sementara bagi finalis yang belum meraih posisi teratas, Rida meminta agar tidak berkecil hati. Menurutnya, kontribusi untuk Kota Cirebon tidak hanya dapat dilakukan melalui satu gelar atau satu panggung.
Ketua TP PKK Kota Cirebon Noviyanti Edo juga menilai para finalis memiliki potensi besar untuk memperkenalkan pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Cirebon kepada khalayak yang lebih luas.
Menurutnya, generasi muda memiliki kemampuan untuk mengemas potensi daerah dengan cara yang lebih kreatif, tanpa meninggalkan kekuatan sejarah dan budaya yang menjadi identitas Kota Cirebon.
Ia berharap Jaka Rara terpilih nantinya benar-benar mampu menjalankan perannya sebagai representasi daerah.
“Grand Final Jaka Rara Kota Cirebon 2026 ini diharapkan tidak berhenti sebagai ajang pemilihan duta pariwisata, tetapi menjadi momentum untuk melahirkan generasi muda yang mampu merawat budaya, mengembangkan kreativitas, serta turut menggerakkan sektor pariwista dan ekonomi kreatif di Kota Cirebon,” pungkasnya. (its)















