Waspadai Kenaikan Harga Pangan Jelang Nataru, Beras hingga Cabai Jadi Perhatian DKPPP Kota Cirebon

DKPPP Kota Cirebon waspadai kenaikan harga pangan jelang Nataru 2026, soroti beras, cabai, bawang, telur dan daging ayam meski stok masih surplus.

CIREBON – Masyarakat Kota Cirebon diminta mewaspadai potensi kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Beras, cabai, bawang merah, telur ayam ras, hingga daging ayam ras menjadi komoditas yang diprediksi rentan mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat pada akhir tahun.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon mulai mengantisipasi kemungkinan tersebut dengan memantau perkembangan harga dan ketersediaan stok pangan di pasaran.

Meski potensi kenaikan harga perlu diwaspadai, kondisi pasokan pangan di Kota Cirebon hingga awal November 2026 masih relatif aman. Bahkan, berdasarkan neraca pangan yang dihitung setiap bulan, Kota Cirebon tercatat mengalami surplus untuk 11 komoditas pangan strategis.

Kepala DKPPP Kota Cirebon, Elmi Masruroh, mengatakan ketersediaan pangan di Kota Cirebon sejauh ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut juga didukung posisi Kota Cirebon sebagai salah satu pusat perdagangan dan distribusi bahan pangan di wilayah Ciayumajakuning.

Keberadaan pasar-pasar besar, seperti Pasar Induk Jagasatru dan Pasar Pagi, turut mendukung kelancaran distribusi berbagai kebutuhan pokok.

“Alhamdulillah, ketersediaan pangan di Kota Cirebon cukup melimpah. Berdasarkan neraca pangan yang kami hitung setiap bulan, Kota Cirebon selalu surplus untuk 11 komoditas pangan strategis,” kata Elmi saat ditemui di Kantor DKPPP Kota Cirebon, Senin (2/11/2026).

Beras hingga Cabai Berpotensi Mengalami Kenaikan

Walaupun ketersediaan stok masih mencukupi, DKPPP tidak ingin mengabaikan potensi kenaikan harga menjelang Nataru. Sebab, momentum akhir tahun biasanya diikuti peningkatan aktivitas belanja masyarakat, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan persiapan perayaan hari besar.

Peningkatan permintaan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga apabila tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai.

Elmi menyebutkan, terdapat lima komoditas yang menjadi perhatian utama pemerintah daerah karena memiliki potensi mengalami kenaikan harga.

Komoditas tersebut meliputi beras, cabai, bawang merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Pergerakan harga bahan pangan tersebut akan terus diperhatikan agar pemerintah dapat mengantisipasi gejolak pasar lebih awal.

Menurutnya, ketersediaan stok yang mencukupi memang menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas pangan. Namun, keseimbangan antara jumlah pasokan dan permintaan masyarakat juga menjadi faktor yang menentukan pergerakan harga di tingkat konsumen.

Karena itu, pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap ketersediaan barang, tetapi juga perkembangan harga di berbagai jalur perdagangan.

Mall Pangling Jadi Upaya Tekan Harga Pangan

Untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, DKPPP Kota Cirebon tetap menjalankan program Gerakan Pangan Murah (GPM).

Salah satu bentuk pelaksanaannya dilakukan melalui Mobil Pangan Keliling atau yang dikenal dengan Mall Pangling. Program ini dijadwalkan beroperasi setiap Jumat dengan mendatangi sejumlah wilayah di Kota Cirebon.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat bisa membeli berbagai kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau. Kehadiran mobil pangan keliling diharapkan dapat menjadi alternatif belanja sekaligus membantu menjaga daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.

Tidak hanya berlangsung berdasarkan jadwal rutin, pelaksanaan GPM melalui Mall Pangling juga bisa dilakukan di luar hari Jumat.

DKPPP membuka kesempatan bagi kelurahan maupun komunitas masyarakat yang ingin mengajukan permintaan pelaksanaan kegiatan tersebut. Apabila diperlukan, pelayanan dapat dijadwalkan pada Sabtu atau Minggu.

Elmi menjelaskan, keberadaan GPM diharapkan mampu membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sekaligus menyediakan persediaan bahan pokok di rumah.

Dengan begitu, masyarakat memiliki alternatif tempat berbelanja dan tidak seluruhnya bergantung pada pembelian di pasar dalam waktu bersamaan.

“Dengan adanya GPM, masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pangan dan memiliki persediaan di rumah. Artinya, permintaan di pasar bisa berkurang. Salah satu penyebab kenaikan harga adalah permintaan yang tinggi, sementara stok tetap atau bahkan berkurang,” jelasnya.

Meski demikian, DKPPP belum merencanakan pelaksanaan GPM dalam skala besar menjelang Nataru. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktor yang membuat kegiatan tersebut belum dapat direalisasikan.

Namun, masyarakat tidak perlu khawatir karena program Mall Pangling dipastikan tetap berjalan hingga penghujung 2026.

“Untuk GPM berskala besar, saat ini belum ada rencana karena memang tidak tersedia anggaran. Namun, Mall Pangling atau mobil pangan keliling masih akan berjalan sampai akhir tahun,” ungkap Elmi.

Pantau Pasar Tradisional hingga Distributor

Selain mengandalkan program pangan murah, DKPPP Kota Cirebon juga memperkuat pengawasan terhadap perkembangan harga dan stok berbagai komoditas.

Pemantauan dilakukan di sejumlah pasar tradisional, distributor, hingga pasar modern. Langkah ini bertujuan mendapatkan gambaran mengenai kondisi pasokan dan pergerakan harga pangan secara langsung.

Pengawasan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mengantisipasi gejolak harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), termasuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Faktor cuaca juga menjadi perhatian tersendiri. Memasuki musim hujan, pemerintah berharap produksi berbagai komoditas pangan di daerah sentra dapat meningkat sehingga kebutuhan pasokan untuk Kota Cirebon tetap terpenuhi.

Pasalnya, Kota Cirebon bukan merupakan daerah produsen utama bahan pangan. Sebagian besar kebutuhan masyarakat masih harus didatangkan dari daerah lain.

Ketergantungan tersebut terlihat dari pemenuhan kebutuhan beras. Elmi mengungkapkan, hampir 95 persen kebutuhan beras di Kota Cirebon masih bergantung pada pasokan luar daerah.

“Kota Cirebon ini bukan daerah produsen. Untuk komoditas beras saja, hampir 95 persen kebutuhannya bergantung pada pasokan dari luar Kota Cirebon,” tuturnya.

Adapun sejumlah daerah yang selama ini menjadi pemasok kebutuhan pangan Kota Cirebon antara lain Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, Majalengka, dan Kuningan.

Untuk komoditas cabai, pasokan antara lain berasal dari Kabupaten Majalengka. Sementara kebutuhan bawang merah didatangkan dari Majalengka dan Brebes.

Kondisi tersebut membuat kelancaran distribusi dari daerah pemasok menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di Kota Cirebon.

DKPPP pun terus memperhatikan perkembangan produksi di daerah sentra, termasuk kemungkinan gangguan distribusi akibat perubahan cuaca.

Dengan ketersediaan stok yang masih mencukupi, pemantauan harga secara berkala, serta keberlanjutan program Mall Pangling, pemerintah daerah berharap kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi.

Masyarakat juga diharapkan dapat berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Sebab, kepanikan berbelanja atau panic buying justru berpotensi meningkatkan permintaan secara mendadak dan memicu tekanan harga di pasaran. (ade)