CIREBON – Ribuan warga memadati halaman Keraton Kanoman Cirebon pada Rabu (26/8/2026) malam. Mereka datang untuk menyaksikan langsung prosesi Panjang Jimat Keraton Kanoman, ritual puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sarat sejarah dan simbol budaya.
Berlangsung bertepatan dengan 12 Rabiul Awal, prosesi Malam Pelal Ageng atau Panjang Jimat menjadi salah satu tradisi paling ditunggu masyarakat Cirebon setiap peringatan Maulid Nabi.
Di balik kemeriahan arak-arakan pusaka, ternyata tersimpan rangkaian tradisi yang tidak dilakukan secara singkat.
Keluarga Keraton Kanoman bersama para abdi dalem mempersiapkan ritual tersebut selama 40 hari. Selama masa persiapan, berbagai ritual spiritual dan tradisi leluhur kembali dijalankan.
Juru Bicara Kesultanan Kanoman Cirebon, Raja Ratu Arimbi Nurtina, mengatakan Panjang Jimat merupakan puncak dari rangkaian peringatan Maulid Nabi.
“Tradisi Pelal ataupun Panjang Jimat merupakan hari puncak peringatan Maulid Nabi. Selama 40 hari sebelumnya kami melaksanakan ritual spiritual dan berbagai persiapan,” ujar Arimbi, Kamis (27/8/2026).
Ada Pusaka Bernama Panjang
Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam ritual Panjang Jimat Keraton Kanoman adalah arak-arakan benda-benda pusaka.
Di antara pusaka yang dibawa terdapat sebuah piring berukuran besar bernama “Panjang”.
Pusaka tersebut memiliki cerita tersendiri. Berdasarkan catatan yang diwariskan di lingkungan keraton, piring Panjang merupakan pemberian seorang pertapa bernama Sanghyang Bango dari Gunung Siangkup.
Piring tersebut kemudian dirawat secara turun-temurun dan menjadi salah satu pusaka Keraton Kanoman.
Nama Panjang selanjutnya menjadi bagian dari istilah Panjang Jimat, nama yang hingga kini melekat pada ritual puncak Maulid Nabi di Keraton Kanoman.
Menurut Arimbi, istilah “jimat” tidak semata-mata dimaknai sebagai benda yang memiliki kekuatan tertentu.
Jimat dalam tradisi tersebut lebih berkaitan dengan benda pusaka yang memiliki nilai sejarah dan harus terus dijaga serta diwariskan.
Pemaknaan itu juga dikaitkan dengan ungkapan Jawa siji kang diuri-uri, yakni sesuatu yang harus terus dirawat dan dipelihara.
Warisan yang dijaga melalui tradisi Panjang Jimat pun bukan hanya benda.
Di dalamnya terdapat pesan tauhid serta warisan ajaran Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
40 Hari Sebelum Panjang Jimat
Banyak masyarakat mungkin hanya melihat kemeriahan Malam Pelal Ageng pada malam puncak.
Namun, persiapannya telah berlangsung jauh sebelumnya.
Selama 40 hari, keluarga keraton dan abdi dalem menjalankan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah Memayu, berupa perawatan, perbaikan, dan perapihan lingkungan serta bangunan cagar budaya di kawasan Keraton Kanoman.
Memayu tidak sekadar pekerjaan mempercantik bangunan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan keraton sebagai ruang yang menyimpan jejak perjalanan sejarah Cirebon.
Tradisi lainnya adalah Mipis, yakni pembuatan boreh atau ramuan rempah dengan cara tradisional.
Ada pula Bikin Banjir, yaitu proses pembuatan minyak kelapa menggunakan cara tradisional tanpa mesin modern.
Seluruh proses tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan leluhur.
Arak-arakan Pusaka Bukan Sekadar Pertunjukan
Saat malam puncak tiba, benda-benda pusaka peninggalan Syekh Syarif Hidayatullah dan leluhur Keraton Kanoman dikeluarkan dari tempat penyimpanannya.
Pusaka kemudian diarak di hadapan masyarakat.
Ribuan mata mengikuti prosesi tersebut. Namun, di balik arak-arakan itu terdapat pesan simbolik yang berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Arak-arakan beberapa pusaka kami yang merupakan peninggalan Syekh Syarif dan leluhur sebelumnya itu merupakan simbolisasi alat-alat perlengkapan untuk kelahiran,” jelas Arimbi.
“Maulid Nabi merupakan peringatan kelahiran, sehingga ini menjadi pawai alegoris yang menggambarkan perjalanan sebuah kelahiran Kanjeng Nabi,” lanjutnya.
Dengan pemaknaan tersebut, setiap benda yang dibawa dalam tradisi Panjang Jimat Keraton Kanoman bukan sekadar benda kuno.
Pusaka menjadi bagian dari narasi sejarah sekaligus media untuk menyampaikan filosofi dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Panjang Jimat Juga Jadi Ajang Silaturahmi
Selain memiliki nilai religius dan budaya, Panjang Jimat Keraton Kanoman juga memiliki fungsi sosial.
Setiap tahun, tradisi tersebut menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar keraton yang tersebar di berbagai daerah.
Para wargi, keturunan, cicit, hingga keluarga lainnya datang ke Keraton Kanoman untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi.
“Ini merupakan kegiatan yang dilakukan setahun sekali. Para wargi, keturunan, cicit, moyang dan keluarga lainnya datang untuk memperingati Maulid di Keraton Kanoman. Ini menjadi ajang silaturahmi dan kami bisa saling mengenal satu sama lain,” kata Arimbi.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk meneruskan tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Anak-anak mengenal pusaka dan sejarah keluarganya. Generasi muda mendengar kembali cerita tentang leluhur. Sementara generasi yang lebih tua menjaga agar makna tradisi tidak hilang ditelan zaman.
Pada akhirnya, tradisi Panjang Jimat di Keraton Kanoman Cirebon bukan hanya tentang prosesi yang berlangsung pada satu malam.
Ada perjalanan panjang selama 40 hari di baliknya.
Ada bangunan bersejarah yang dirawat, ramuan yang dibuat secara tradisional, minyak kelapa yang diproses tanpa mesin, hingga pusaka yang diarak sebagai simbol kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di tengah perubahan zaman, Panjang Jimat menjadi bukti bahwa sebuah tradisi dapat tetap hidup ketika tidak hanya diwariskan sebagai ritual, tetapi juga dipahami makna dan sejarahnya.
Piring pusaka “Panjang” menjadi salah satu saksi dari perjalanan tersebut.
Benda yang disebut sebagai pemberian Sanghyang Bango itu kini bukan hanya menjadi pusaka Keraton Kanoman, tetapi juga pengingat bahwa jejak sejarah akan tetap bertahan selama ada generasi yang bersedia merawat dan mewariskannya. (ade)
















