Kota Cirebon Catat Inflasi Tertinggi di Jawa Barat, Harga Cabai Merah dan Beras Jadi Pemicu

Kota Cirebon mencatat inflasi tertinggi di Jawa Barat pada bulan Oktober 2026

CIREBON – Kota Cirebon mencatatkan inflasi tahunan sebesar 3,02 persen pada Oktober 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan 10 kabupaten/kota di Jawa Barat yang masuk dalam wilayah pemantauan inflasi Badan Pusat Statistik (BPS).

Tingginya inflasi tersebut menunjukkan adanya tekanan kenaikan harga barang dan jasa di Kota Cirebon. Sejumlah komoditas pangan, terutama cabai merah dan beras, menjadi faktor yang turut memengaruhi perkembangan harga sepanjang 2026.

Kepala BPS Kota Cirebon, Samiran SSi MT, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan harga pada Oktober 2026 dibandingkan September 2026, Kota Cirebon mengalami inflasi bulanan atau month to month (mtm) sebesar 0,26 persen.

“Inflasi Oktober terutama didorong oleh makanan, minuman, dan tembakau,” jelas Samiran kepada Radar Cirebon, Senin (2/11/2026).

Selain inflasi bulanan, BPS mencatat inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mencapai 2,43 persen. Sementara inflasi tahunan atau year on year (yoy) berada di angka 3,02 persen.

Samiran menerangkan, inflasi tahunan merupakan perbandingan indeks harga konsumen pada Oktober 2026 dengan periode yang sama pada 2025. Berdasarkan indikator tersebut, Kota Cirebon menempati posisi tertinggi di antara 10 daerah pemantauan inflasi di Jawa Barat.

“Inflasi secara year on year (yoy) itu menggambarkan perbandingan antara indeks harga pada Oktober sekarang dengan Oktober tahun lalu. Kita 3,02 persen dan itu paling tinggi di antara 10 kabupaten/kota yang dipantau inflasinya di Jawa Barat,” katanya.

Harga Cabai Merah dan Beras Beri Tekanan Inflasi

Salah satu komoditas yang menjadi penyumbang kenaikan harga pada Oktober 2026 adalah cabai merah. Menurut Samiran, kenaikan harga komoditas tersebut berkaitan dengan penurunan produksi yang berdampak terhadap berkurangnya pasokan di pasar.

Ketika ketersediaan cabai merah menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap berjalan, harga komoditas tersebut cenderung mengalami kenaikan. Kondisi ini kemudian memberikan tekanan terhadap kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau.

Di sisi lain, jika melihat perkembangan inflasi dalam periode yang lebih panjang, kenaikan harga beras dan bahan bakar minyak (BBM) juga memberikan kontribusi cukup besar.

Samiran menyebutkan, harga beras yang mengalami kenaikan sejak awal tahun ikut memengaruhi akumulasi inflasi Kota Cirebon. Sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat, perubahan harga beras memiliki pengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.

Selain beras, perubahan harga BBM, terutama solar nonsubsidi, turut memberikan tekanan terhadap perkembangan harga barang dan jasa. Bahkan, harga solar nonsubsidi sempat mencapai Rp24.000 per liter.

Kenaikan harga bahan bakar berpotensi memengaruhi biaya operasional berbagai sektor, termasuk transportasi dan distribusi barang. Dampaknya dapat merambat pada harga komoditas yang dipasarkan kepada konsumen.

Inflasi 2026 Lebih Tinggi Dibandingkan Tahun Lalu

BPS juga melihat perkembangan inflasi Kota Cirebon sepanjang 2026 cenderung lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut terlihat dari inflasi tahun kalender yang pada sebagian besar periode 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Tren serupa juga terlihat pada indikator inflasi tahunan. Samiran menyampaikan, hampir seluruh bulan sepanjang 2026 menunjukkan inflasi tahunan lebih tinggi dibandingkan 2025. Pengecualian terjadi pada Juli.

Adapun inflasi tahunan tertinggi selama Januari hingga Oktober 2026 terjadi pada Februari, yakni mencapai 4,83 persen.

Tingginya angka inflasi pada Februari salah satunya dipengaruhi penyesuaian tarif listrik. Sebelumnya, masyarakat sempat menikmati program diskon tarif listrik sehingga perubahan tarif setelah periode tersebut ikut memengaruhi perhitungan inflasi.

Sementara itu, perkembangan harga pada Juli menunjukkan kondisi berbeda. Pada bulan tersebut, Kota Cirebon justru mengalami deflasi bulanan sebesar 0,07 persen.

Berdasarkan perhitungan tahun kalender, deflasi sebesar 0,44 persen juga tercatat pada Januari.

Harga Kebutuhan Pokok Perlu Terus Dipantau

Samiran menilai perkembangan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau perlu mendapatkan perhatian serius. Pasalnya, kelompok pengeluaran tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari.

Berbeda dengan sejumlah kebutuhan lain, konsumsi makanan dan minuman sulit dikurangi karena menjadi kebutuhan utama setiap rumah tangga.

Karena itu, kenaikan harga bahan pangan berpotensi langsung memengaruhi daya beli masyarakat. Ketika harga beras, cabai, dan komoditas pangan lainnya meningkat, masyarakat harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, konsumsi BBM dalam kondisi tertentu masih memungkinkan untuk dikendalikan atau dikurangi. Hal tersebut membuat kenaikan harga pangan memiliki dampak yang lebih langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.

Dengan inflasi tahunan Kota Cirebon yang mencapai 3,02 persen dan menjadi tertinggi di Jawa Barat, perkembangan harga kebutuhan pokok perlu terus menjadi perhatian.

Pemantauan pasokan dan stabilitas harga komoditas pangan menjadi penting agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat. Terlebih, ketersediaan bahan pangan di pasar menjadi salah satu faktor yang menentukan pergerakan inflasi daerah. (cep)