Krisis Air Bersih di Kopi Luhur, Wakil Wali Kota Cirebon Turun Langsung Cek Kondisi Warga

Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida turun langsung melihat krisis air bersih yang melanda Kopi Luhur, keluarahan Argasunya, dan meminta PDAM segera mengirim bantuan air.

CIREBON – Krisis air bersih masih membayangi warga di kawasan Kopi Luhur, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Dampak musim kemarau yang berkepanjangan membuat pasokan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semakin terbatas. Sejumlah penampungan air warga bahkan dilaporkan kosong, sementara beberapa sumur sudah lama tidak lagi mengeluarkan air.

Kondisi tersebut mendorong Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, turun langsung meninjau lokasi terdampak pada Selasa siang, 13 Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut, perempuan yang akrab disapa Rida itu mendatangi RT 6 RW 8 Kopi Luhur untuk memastikan kondisi ketersediaan air bersih sekaligus mendengarkan keluhan masyarakat.

Saat berdialog dengan warga, Rida menerima laporan mengenai sulitnya mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Untuk memastikan kondisi di lapangan, ia juga memeriksa bak penampungan air yang biasa digunakan masyarakat.

Hasilnya, ketika keran dibuka, tidak ada air yang mengalir karena bak penampungan dalam kondisi kosong.

“Benar, ini penampungan airnya kosong,” ujar Rida saat melihat langsung kondisi tersebut.

Krisis Air Bersih di Kopi Luhur Semakin Memprihatinkan

Rida menjelaskan, kunjungannya ke kawasan Kopi Luhur dilakukan setelah menerima laporan warga mengenai krisis air bersih yang semakin dirasakan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi geografis wilayah tersebut turut menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan air masyarakat.

Menurutnya, RT 6 RW 8 merupakan salah satu titik dengan posisi ketinggian yang cukup menonjol dibandingkan wilayah di sekitarnya. Kondisi ini membuat distribusi air bersih menjadi persoalan tersendiri, terlebih ketika musim kemarau berlangsung berkepanjangan.

Berdasarkan hasil peninjauan, warga mengalami kesulitan memperoleh pasokan air yang memadai. Distribusi air bersih juga mengalami keterlambatan karena pasokan terbatas dan penyalurannya harus dilakukan secara bergiliran.

Situasi tersebut semakin berat karena sejumlah sumber air milik warga sudah tidak dapat diandalkan. Beberapa sumur dilaporkan mengering, bahkan ada sumur yang tidak mengeluarkan air selama empat tahun.

Selain itu, kerusakan pompa air dan kosongnya bak penampungan turut memperburuk kondisi masyarakat. Warga pun harus menghadapi keterbatasan air untuk berbagai kebutuhan dasar, mulai dari memasak, mencuci, hingga menjaga kebersihan lingkungan.

“Ada sumur sudah empat tahun tidak ada airnya,” tegas Rida.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan air bersih di Kopi Luhur bukan hanya berkaitan dengan keterlambatan distribusi, tetapi juga terbatasnya sumber air yang dapat dimanfaatkan warga.

Wakil Wali Kota Hubungi PDAM untuk Kirim Bantuan Air

Menanggapi keluhan masyarakat, Rida mengaku langsung menghubungi Direktur Utama PDAM untuk meminta bantuan pengiriman air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.

Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan dasar warga dapat segera terpenuhi sembari menunggu penanganan lebih lanjut terhadap persoalan distribusi air di kawasan Kopi Luhur.

“Tadi saya sudah telepon PDAM agar bergerak memberikan bantuan air bersih. Dipastikan akan segera dikirimkan langsung ke lokasi,” ungkapnya.

Rida menegaskan, Pemerintah Kota Cirebon akan terus berupaya mendorong agar penyaluran air bersih ke wilayah Kopi Luhur dapat segera dilakukan. Pemerintah juga diharapkan memastikan distribusi bantuan berlangsung merata sehingga seluruh warga yang membutuhkan memperoleh akses air bersih.

Penanganan ini menjadi penting mengingat air merupakan kebutuhan mendasar yang tidak dapat ditunda. Ketika sumber air warga mengering dan penampungan tidak lagi terisi, bantuan pasokan air menjadi salah satu langkah mendesak untuk meringankan beban masyarakat.

Warga Diminta Hemat Air Sambil Menunggu Penanganan

Di tengah kondisi tersebut, Rida mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan menggunakan air bersih secara bijak. Warga diminta memprioritaskan penggunaan air untuk kebutuhan yang paling mendesak selama pasokan belum kembali normal.

Ia juga mengajak masyarakat memperbanyak doa dan istigasah untuk memohon agar kondisi segera membaik.

Saat peninjauan berlangsung, cuaca di kawasan Kopi Luhur terpantau mulai mendung. Kondisi tersebut diharapkan menjadi pertanda datangnya musim hujan yang dapat membantu mengurangi dampak kekeringan.

Meski demikian, warga masih membutuhkan langkah penanganan nyata agar ketersediaan air bersih tetap terjaga. Bantuan distribusi air diharapkan dapat segera direalisasikan, terutama bagi masyarakat yang tidak lagi memiliki sumber air alternatif.

Krisis air bersih di Kopi Luhur menjadi pengingat pentingnya penanganan kekeringan secara cepat dan terkoordinasi. Selain bantuan darurat, upaya menjaga keberlanjutan pasokan air juga diperlukan agar warga tidak terus menghadapi persoalan serupa setiap kali musim kemarau berkepanjangan melanda.

Pemerintah Kota Cirebon diharapkan dapat memastikan kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi, terutama di kawasan dengan kondisi geografis yang menyulitkan distribusi. Dengan penanganan yang tepat, beban warga terdampak kekeringan di Argasunya diharapkan dapat segera berkurang. (abd)