Urban Farming di Pantau DKPPP Kota CirebonSelama Musim Kemarau

DKPPP terus pantau kebaradaan urban farming saat musim kemarau

CIREBON – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon terus melakukan pemantauan terhadap kegiatan urban farming yang berkembang di tengah masyarakat selama musim kemarau.

Kondisi cuaca panas dan keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan menjadi perhatian tersendiri. Selain berdampak pada ketersediaan air, suhu udara yang tinggi juga berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman, khususnya sayuran yang banyak dibudidayakan melalui sistem urban farming.

Kepala DKPPP Kota Cirebon, Elmi Masruroh, mengatakan paparan suhu panas yang berlebihan menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai para pengelola urban farming.

“Sayuran ini usia panennya relatif pendek, tapi rentan dan cenderung lebih cepat layu ketika terpapar suhu tinggi,” ungkap Elmi.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut petani dan pengelola urban farming untuk lebih intensif dalam melakukan perawatan tanaman.

Saat ini, kegiatan urban farming di Kota Cirebon masih didominasi skala rumah tangga. Kegiatan tersebut tersebar di sejumlah titik dan dikelola secara berkelompok, baik oleh kelompok wanita tani (KWT) maupun kelompok tani hortikultura.

Tercatat, terdapat 51 kelompok tani hortikultura dan 35 KWT yang menjalankan kegiatan urban farming. Sebagian besar kelompok tersebut tersebar di Kelurahan Kalijaga dan Pulasaren.

Berdasarkan hasil pemantauan sementara, Elmi menyebut ketersediaan air di sejumlah lokasi urban farming masih relatif aman. Hal itu karena sebagian besar pengelola memanfaatkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan penyiraman tanaman.

“Urban farming kebanyakan menggunakan sumur bor. Jadi airnya masih aman, tidak begitu signifikan terdampak dari ketersediaan air,” sebutnya.

Meski ketersediaan air masih mencukupi, Elmi mengingatkan masyarakat agar tetap menerapkan pola perawatan yang tepat. Penyiraman, kata dia, tidak boleh menunggu hingga tanaman terlihat layu.

Media tanam harus terus dijaga kelembapannya, terutama untuk tanaman yang menggunakan polybag dan ditempatkan pada rak bertingkat. Selain menyiram media tanam, area lantai di bawah rak juga perlu dibasahi untuk membantu menjaga kondisi lingkungan tanaman tetap lembap.

“Sayuran biasanya berumur pendek, harus sering diamati dan disiram supaya tidak gampang layu karena panasnya cuaca,” jelasnya.

Dalam menghadapi musim kemarau, DKPPP Kota Cirebon juga mengoptimalkan peran penyuluh pertanian untuk mendampingi masyarakat.

Sebanyak tujuh penyuluh pertanian telah ditugaskan sesuai wilayah binaan masing-masing. Mereka melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan tanaman sekaligus membantu masyarakat dalam melakukan perawatan.

“Dengan perawatan yang lebih intensif, kami berharap aktivitas urban farming di Kota Cirebon tetap berjalan dan mampu mempertahankan produksi tanaman meskipun berada di tengah kondisi cuaca panas selama musim kemarau,” kata Elmi. (sep)