60 Pelajar Kota Cirebon Dibekali Teknik Resensi Buku, Dorong Budaya Literasi

Dispusip Kota Cirebon bekali 60 pelajar dengan teknik literasi buku

CIREBON – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Cirebon membekali 60 pelajar tingkat SMA, SMK, dan MA dengan teknik menulis resensi buku. Pembekalan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Lomba Pembuatan Resensi Buku Berbasis Koleksi Perpustakaan Tahun Anggaran 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 10-11 Agustus 2026, tersebut tidak hanya diarahkan untuk mempersiapkan peserta menghadapi perlombaan. Dispusip juga menjadikannya sebagai upaya memperkuat budaya membaca sekaligus meningkatkan kemampuan literasi generasi muda.

Kepala Dispusip Kota Cirebon Mastara mengatakan, kemampuan literasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi tidak cukup hanya dengan mampu menemukan informasi.

“Generasi muda juga dituntut mampu memilih, memahami, mengolah, menilai, dan menyampaikan informasi secara benar,” kata Mastara.

Menurutnya, pembekalan diberikan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai teknik membuat resensi yang baik dan benar. Peserta juga didorong memanfaatkan berbagai koleksi buku yang tersedia di perpustakaan.

Mastara menegaskan, kemampuan membuat resensi tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca.

“Untuk membuat resensi, mau tidak mau teman-teman peserta harus membaca. Prosesnya memang harus dimulai dari membaca,” ujarnya.

Dari ratusan pelajar yang mendaftar, sebanyak 60 peserta dinyatakan lolos seleksi administrasi dan berhak mengikuti pembekalan sebelum memasuki tahapan lomba.

Pada hari pertama, sebanyak 30 peserta mengikuti pembekalan. Jumlah yang sama mengikuti kegiatan pada hari kedua.

Para peserta berasal dari berbagai sekolah di Kota Cirebon. Rinciannya, SMK Negeri 1 Kota Cirebon sebanyak empat peserta, SMK Negeri 2 sebanyak tiga peserta, SMA Negeri 3 sebanyak delapan peserta, SMA Negeri 7 sebanyak sembilan peserta, SMA Negeri 4 dan SMA Negeri 9 masing-masing satu peserta.

Kemudian SMA Kristen Terang Bangsa sebanyak lima peserta, SMA Putra Nirmala lima peserta, SMA Kristen BPK Penabur satu peserta, SMA Kristen Plus Penabur lima peserta, SMK Presiden satu peserta, SMK Veteran tiga peserta, serta MAN 1 Kota Cirebon sebanyak 14 peserta.

Sekda Cirebon: Jangan Bergantung pada Google dan AI

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon Iing Daiman menilai tingginya jumlah pendaftar menunjukkan antusiasme pelajar terhadap kegiatan literasi.

Menurut Iing, antusiasme tersebut perlu dipelihara agar budaya membaca dan kemampuan literasi tidak berhenti setelah perlombaan selesai.

Ia meminta para peserta menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum untuk meningkatkan kemampuan membaca, memahami isi buku, menganalisis informasi, sekaligus menyampaikan penilaian secara objektif.

“Resensi bukan sekadar memberikan penilaian berdasarkan tampilan sebuah buku, tetapi membutuhkan kemampuan memahami isi, menganalisis, serta menyampaikan penilaian secara objektif,” ujar Iing.

Iing juga mengingatkan para pelajar agar tidak sepenuhnya bergantung pada kemudahan teknologi digital dalam memperoleh informasi. Menurutnya, keberadaan mesin pencari hingga kecerdasan buatan (AI) harus tetap diimbangi dengan kemampuan membaca dan berpikir kritis.

“Apapun tinggal buka Google, apapun dengan AI dan sebagainya. Tetapi bukan itu yang ingin saya tampilkan. Bagaimana kita menilai sebuah buku dan isinya, bagaimana tata tulisnya. Itu yang penting,” katanya.

Ia kemudian membagikan pengalamannya saat menempuh pendidikan. Pada masa tersebut, Iing mengaku harus mencari berbagai jurnal ke sejumlah perpustakaan, bahkan hingga ke luar negeri.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa proses mendapatkan ilmu membutuhkan kesungguhan dan kemauan untuk mencari sumber pengetahuan.

Karena itu, Iing berharap pembekalan dan lomba resensi buku tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial. Para peserta diharapkan mampu menjadi penggerak budaya membaca di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Ia menekankan, budaya membaca tidak bisa dibangun secara instan. Kebiasaan tersebut harus ditanamkan melalui proses yang dilakukan secara konsisten.

“Sebagai pelajar, yang harus dibangun pertama adalah bagaimana kita menjadi sosok-sosok yang berani speak up, berani menganalisis,” pungkasnya. (its)