CIREBON – Kawasan Pecinan Jalan Winaon, Kota Cirebon, bakal menjadi ruang perjumpaan lintas budaya melalui Kenduri Kue Bulan Peranakan Tionghoa 2026.
Festival yang berlangsung selama tiga hari, 25-27 September 2026, tersebut tidak hanya menghadirkan kuliner dan pertunjukan seni. Perayaan ini juga membawa pesan tentang keberagaman, toleransi, serta pentingnya menjaga hubungan antarmasyarakat di Kota Cirebon.
Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung Sabtu (26/9/2026) mulai pukul 17.00 WIB. Salah satu agenda utama adalah peresmian Gapura Pecinan Cirebon oleh Wali Kota Cirebon Effendi Edo.
Gapura yang dibangun melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Cirebon itu diharapkan menjadi penanda identitas kawasan sekaligus memperkuat potensi Pecinan sebagai destinasi wisata budaya.
Lebih dari sekadar bangunan penanda kawasan, gapura tersebut membawa pesan mengenai sejarah Cirebon yang tumbuh dari pertemuan berbagai latar belakang masyarakat, mulai dari suku, agama, hingga tradisi.
Inisiator kegiatan dari Kolektief Peranakan Tionghoa, Budiman Tanah Djaya, mengatakan festival dirancang terbuka bagi seluruh masyarakat.
Menurutnya, warga Cirebon tidak hanya diharapkan datang sebagai penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari perayaan sekaligus mengenal lebih dekat warisan budaya Peranakan Tionghoa.
“Kue Bulan memang berakar dari tradisi Tionghoa, tetapi pesan utama tentang kehangatan keluarga, kebersamaan, dan rasa saling menghargai adalah nilai universal milik kita bersama,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua I DPRD Kota Cirebon Harry Saputra Gani. Ia menilai ruang interaksi antarkelompok masyarakat penting untuk membangun pemahaman dan mengurangi prasangka.
Menurutnya, perjumpaan melalui kegiatan budaya, santap bersama, maupun pertunjukan seni dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga.
Kondisi tersebut juga sejalan dengan perjalanan sejarah Cirebon yang sejak dahulu menjadi salah satu simpul perdagangan dan pertemuan berbagai kebudayaan.
Sementara itu, Ketua Pelaksana sekaligus Ketua PSMTI Kota Cirebon, Husen Gietosusilo, menjelaskan bahwa Kenduri Kue Bulan mengadaptasi semangat Mid-Autumn Festival.
Tradisi tersebut dikenal sebagai perayaan bulan purnama pada bulan kedelapan kalender lunar dan memiliki berbagai kisah budaya, termasuk legenda Chang’e dan Hou Yi.
Namun, dalam pelaksanaannya di Cirebon, makna perayaan diperluas menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Meski latar belakang, keyakinan, dan tradisi kita beragam, kita berpijak di tanah yang sama. Kita selalu punya ruang untuk duduk bersama dan merayakan perbedaan,” katanya.
Selain agenda budaya, pengunjung juga dapat menikmati Festival UMKM yang menghadirkan beragam kuliner serta produk lokal.
Rangkaian kegiatan turut diisi pertunjukan seni tradisional dan hiburan edukatif yang memperkenalkan kebudayaan Peranakan Tionghoa kepada masyarakat.
Gagasan penyelenggaraan festival tersebut berawal dari aspirasi komunitas Tionghoa di Kota Cirebon yang menginginkan adanya ruang publik untuk memperkenalkan sejarah dan warisan budaya mereka.
Aspirasi itu kemudian diwujudkan melalui program Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD Kota Cirebon bersama Disparbud Kota Cirebon.
Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan dari berbagai elemen, di antaranya Perkumpulan INTI, Xiao Yu Fei, Vihara Dewi Welas Asih, Aspertina, Peranakan Story, Lions Club International, serta sejumlah organisasi masyarakat lainnya.
Dengan konsep tersebut, Kenduri Kue Bulan Peranakan Tionghoa 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda budaya tahunan, tetapi menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat identitas Cirebon sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman budaya. (wan)
















