
KUNINGAN – Ubi jalar asal Kabupaten Kuningan mulai menarik perhatian pasar internasional. Potensi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah daerah terus mendorong diversifikasi pangan lokal, sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan membangun kebiasaan konsumsi makanan sehat di tengah masyarakat.
Bupati Kuningan, DR H Dian Rachmat Yanuar MSi, menyampaikan hal itu saat membuka Lomba Cipta Menu dalam rangka Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-46 di lapangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Rabu (21/10).
Dalam kegiatan tersebut, Tim Penggerak PKK dari 32 kecamatan se-Kabupaten Kuningan ditantang mengolah bahan pangan lokal non-beras dan non-terigu menjadi sajian yang sehat, bergizi, serta memiliki tampilan menarik.
Menurut Dian, bahan pangan lokal seperti ubi jalar, talas, dan jagung memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif makanan sehari-hari. Dengan kreativitas dalam pengolahan dan penyajian, komoditas tersebut dapat menghasilkan hidangan yang lezat sekaligus mampu bersaing dengan makanan cepat saji atau junk food.
Ia menilai, pengembangan pangan lokal tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Perubahan pola konsumsi masyarakat juga perlu menjadi perhatian agar produk pangan daerah semakin diminati.
“Tantangan kita saat ini adalah membangun kebiasaan konsumsi sehat di masyarakat. Pangan lokal jika diolah dengan benar bisa menjadi hidangan lezat berdaya saing tinggi. Saya minta kreasi ini tidak berhenti di ajang perlombaan saja, tetapi diterapkan dalam keseharian dan kegiatan kedinasan,” ujar Dian.
Ubi Jalar Kuningan Berpeluang Masuk Pasar Internasional
Selain mendorong pola konsumsi sehat, Dian menyoroti peluang komoditas pertanian Kuningan untuk menembus pasar global. Ia merujuk pada pengalamannya melihat produk ubi jalar asal Kuningan yang mendapat perhatian dalam festival pangan di Seoul, Korea Selatan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa produk pertanian lokal memiliki peluang untuk dikenal lebih luas, termasuk di pasar luar negeri. Potensi ini perlu ditindaklanjuti melalui pengembangan produk, inovasi pengolahan, serta peningkatan kualitas agar mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi petani.
Jika dikelola secara berkelanjutan, diversifikasi pangan tidak hanya membantu mengurangi ketergantungan terhadap beras dan tepung terigu, tetapi juga membuka kesempatan bagi tumbuhnya usaha pengolahan makanan berbasis komoditas lokal.
Kreativitas dalam mengolah ubi jalar, talas, dan jagung juga dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menciptakan produk pangan yang memiliki daya tarik pasar.
Dengan demikian, pangan lokal berpeluang berkembang dari sekadar bahan konsumsi rumah tangga menjadi produk bernilai tambah yang mampu memperkuat perekonomian daerah.
Lomba Cipta Menu dan Gerakan Pangan Murah
Sementara itu, Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, menjelaskan bahwa peringatan HPS ke-46 di Kabupaten Kuningan diisi dua agenda utama, yakni Lomba Cipta Menu dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
Lomba Cipta Menu menjadi sarana edukasi bagi kader PKK untuk mengembangkan pemanfaatan bahan pangan non-beras. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal beragam sumber pangan lokal yang dapat diolah menjadi makanan sehat dan bergizi.
Adapun Gerakan Pangan Murah dilaksanakan untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus mendukung upaya menjaga stabilitas harga pangan.
Kedua kegiatan tersebut memiliki tujuan yang saling melengkapi, mulai dari memperluas pemanfaatan pangan lokal hingga menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok masyarakat.
Acara itu turut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan Ela Helayati, jajaran pejabat Diskatan, perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), serta para camat se-Kabupaten Kuningan.
Melalui momentum Hari Pangan Sedunia, Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap masyarakat semakin terbiasa mengonsumsi pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Di sisi lain, potensi komoditas seperti ubi jalar diharapkan dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat lebih besar bagi petani dan perekonomian daerah. (iim)















