Lomba Pidato AHY Muda 2026 di Kuningan, Demokrat Dorong Gen Z Berani Sampaikan Gagasan

Lomba Pidato AHY Muda digelar dalam rangka menyambut HUT ke25 Partai Demokrat

KUNINGAN – Generasi muda tidak hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga perlu memiliki keberanian menyampaikan gagasan dan kritik secara kritis serta konstruktif.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan dalam Lomba Pidato AHY Muda 2026 yang digelar DPC Partai Demokrat Kabupaten Kuningan, Minggu, 9 Agustus 2026.

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat itu diikuti pelajar SMA, SMK, dan MA sederajat dari berbagai wilayah di Kabupaten Kuningan.

Mengusung tema “Bersama Rakyat, Memajukan Ekonomi, Menegakkan Keadilan, Merawat Demokrasi”, para peserta dari kalangan Gen Z ditantang menyampaikan pandangan dan gagasan mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, ekonomi, keadilan, hingga demokrasi.

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Kuningan, Drs. H. Lili Suherli, M.Si., mengatakan lomba tersebut dirancang bukan sekadar sebagai ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan publik.

Menurut Lili, generasi muda perlu mendapatkan ruang yang cukup untuk menyampaikan gagasan. Sebab, kelompok tersebut nantinya akan memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan dan kehidupan berbangsa.

“Anak muda biasanya lebih kreatif. Mereka bisa menyampaikan gagasan, bahkan kritik terhadap situasi masyarakat sekarang, termasuk persoalan ekonomi dan demokrasi,” ujar Lili.

Ia mengatakan peserta terbaik dari tingkat DPC nantinya akan mendapat kesempatan untuk tampil dalam kegiatan Partai Demokrat di Kabupaten Kuningan. Peserta yang memenuhi kriteria juga berpeluang diusulkan mengikuti tahapan di tingkat DPD hingga DPP.

Lili berharap perwakilan dari Kuningan mampu melanjutkan kompetisi ke tingkat yang lebih tinggi dan bersaing secara nasional.

Selain pengalaman dan apresiasi, ajang AHY Muda 2026 juga menawarkan sejumlah kesempatan bagi peserta berprestasi. Di antaranya peluang mengikuti aktivitas kerja Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selama satu hari serta kesempatan memperoleh hadiah utama berupa beasiswa.

Ketua Pelaksana Rangkaian HUT ke-25 Partai Demokrat, Reni Parlina, S.E., S.Y., menegaskan bahwa orientasi kegiatan tidak semata-mata mengejar hadiah.

Menurutnya, kemampuan komunikasi publik merupakan keterampilan yang akan sangat dibutuhkan anak muda ketika melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun terlibat dalam kehidupan sosial.

“Tujuannya memberi ruang kepada generasi muda untuk melatih komunikasi publik dan memberikan gagasan konstruktif terkait isu kebangsaan. Kritis boleh, tetapi kritik tetap harus disampaikan secara sopan dan santun,” kata Reni yang juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Kuningan.

Video Peserta Turut Dinilai

Dalam pelaksanaannya, peserta dinilai berdasarkan sejumlah aspek. Di antaranya kesesuaian materi pidato dengan tema, kemampuan komunikasi, serta kedisiplinan dalam mengatur waktu.

Video pidato peserta juga dipublikasikan melalui media sosial. Respons publik terhadap video tersebut menjadi salah satu unsur yang diperhitungkan dalam proses penilaian. Jumlah penonton, komentar, tanda suka, maupun bagikan dapat menjadi nilai tambahan bagi peserta.

Reni mengapresiasi para pelajar yang telah berani mengikuti kompetisi tersebut. Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para guru dan pembimbing yang mendorong siswa untuk berpartisipasi.

Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi pelajar untuk mengenal ruang publik dan dunia politik secara positif.

Dengan demikian, anak muda tidak hanya memahami politik sebagai aktivitas praktis, tetapi juga melihat pentingnya menyampaikan gagasan dan aspirasi yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Guru Sebut Public Speaking Jadi Life Skill

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari kalangan pendidik. Maman Suparman dan Lina Mariana, guru pembimbing dari salah satu SMA di Kecamatan Darma, menilai lomba pidato dapat menjadi sarana untuk menggali potensi siswa di luar bidang akademik.

Menurut mereka, kemampuan berbicara di depan umum merupakan salah satu life skill yang akan berguna bagi siswa, baik ketika melanjutkan pendidikan maupun saat memasuki dunia kerja.

Mereka melihat para peserta yang tampil memiliki potensi besar. Pidato yang disampaikan tidak sekadar berupa rangkaian kata, tetapi juga membawa pesan dan gagasan yang relevan dengan kehidupan generasi muda.

Bagi peserta, pengalaman tersebut juga menjadi proses pembelajaran. Elisa, salah seorang peserta, mengaku sempat merasa ragu ketika harus tampil di depan banyak orang.

Namun, mengikuti Lomba Pidato AHY Muda 2026 membuatnya lebih berani untuk berbicara dan menyampaikan pemikiran di hadapan publik.

Pengalaman serupa dirasakan peserta lainnya, Dhea. Menurutnya, lomba tersebut mendorong dirinya untuk belajar mengidentifikasi persoalan, berpikir kritis, sekaligus mencari solusi yang relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.

Dorong Generasi Muda Aktif di Ruang Publik

Lomba Pidato AHY Muda 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi kompetisi kemampuan berbicara. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelajar Kuningan untuk belajar menyampaikan pendapat, mengasah keberanian, serta memahami pentingnya keterlibatan generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat.

Kemampuan berbicara yang dibarengi pola pikir kritis dan gagasan konstruktif dinilai menjadi bekal penting bagi generasi muda menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Para peserta kini masih menunggu hasil penilaian untuk mengetahui siapa yang berhak melanjutkan ke tahapan berikutnya. Sebagai bentuk apresiasi, DPC Partai Demokrat Kabupaten Kuningan juga menyerahkan sertifikat penghargaan kepada seluruh peserta yang telah mendaftar.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris DPC Partai Demokrat Kuningan Jajang Nuramin bersama jajaran pengurus DPC, Anggota DPRD Kabupaten Kuningan Fraksi Demokrat Rudi Permana, S.E., serta Hj. Ikah Nurbarkah, S.E.

Melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan tidak berhenti sebagai penonton terhadap perubahan. Mereka didorong untuk berani berbicara, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran dalam membangun masa depan Indonesia. (bubud)