Lapas Kelas IIA Kuningan Kembangkan Wangun Mandiri Farm, Bekali Warga Binaan dengan Keterampilan Kerja

Lapas Kelas IIA Kuningan mengembangkan Wangun Mandiri Farm untuk membekali warga binaan dengan keterampilan kerja dan kemandirian ekonomi.

KUNINGAN – Lapas Kelas IIA Kuningan terus memperkuat pembinaan warga binaan melalui program pemberdayaan dan pengembangan keterampilan kerja. Salah satunya dilakukan melalui Wangun Mandiri Farm, unit usaha peternakan terintegrasi yang disiapkan sebagai sarana pelatihan sekaligus bekal kemandirian setelah warga binaan kembali ke masyarakat.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung aktivitas pembinaan selama menjalani masa pidana. Lebih jauh, Wangun Mandiri Farm menjadi bagian dari upaya mempersiapkan warga binaan agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk bekerja dan membangun kehidupan setelah bebas.

Kepala Lapas Kelas IIA Kuningan, Eries Sugianto, mengatakan pengembangan unit usaha tersebut bertujuan membangun keterampilan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi warga binaan.

Menurut Eries, keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pembinaan di lapas diharapkan dapat menjadi bekal ketika warga binaan telah menyelesaikan masa pidananya.

Salah satu tantangan yang kerap dihadapi mantan warga binaan setelah bebas adalah stigma sosial. Kondisi tersebut juga dapat membuat mereka mengalami kesulitan ketika hendak mendapatkan pekerjaan.

Karena itu, Wangun Mandiri Farm dikembangkan sebagai salah satu alternatif untuk memberikan pengalaman kerja sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga binaan maupun mantan warga binaan.

“Masalah utama yang dihadapi mantan warga binaan adalah stigma dan kesulitan mencari pekerjaan setelah bebas. Karena itu, Wangun Mandiri Farm hadir sebagai salah satu solusi dengan membuka kesempatan kerja bagi mantan warga binaan,” kata Eries, Selasa (22/9/2026).

Empat Tahap Pembinaan

Pengembangan Wangun Mandiri Farm dilakukan secara bertahap melalui Peta Jalan Reintegrasi Sosial dan Pemberdayaan. Skema tersebut dibagi menjadi empat fase yang disesuaikan dengan kemampuan dan tingkat kesiapan masing-masing warga binaan.

Tahap pertama dilakukan melalui asesmen. Pada fase ini, kemampuan, keterampilan, serta potensi warga binaan dipetakan untuk menentukan bidang pekerjaan yang sesuai.

Selanjutnya, warga binaan yang terpilih mengikuti pembekalan dan pelatihan teknis. Materi yang diberikan berkaitan dengan kegiatan operasional peternakan, termasuk proses produksi susu.

Setelah dinilai memiliki kesiapan yang memadai, warga binaan memasuki fase ketiga. Mereka mulai terlibat dalam aktivitas operasional Wangun Mandiri Farm melalui mekanisme kerja profesional.

Pada tahap ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman teknis, tetapi juga belajar memahami tanggung jawab dan pola kerja yang diperlukan dalam lingkungan profesional.

Sementara fase keempat diarahkan pada kemandirian. Warga binaan mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan agar keterampilan yang diperoleh selama mengikuti program dapat diterapkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.

Dalam kegiatan sehari-hari, warga binaan dilibatkan dalam berbagai aktivitas peternakan. Mulai dari merawat ternak, melakukan pemerahan susu, membersihkan kandang, mengolah pakan, mengemas produk, hingga melakukan pemeliharaan lahan.

Produksi Susu Pasteurisasi

Selain menjadi sarana pembinaan dan pelatihan kerja, Wangun Mandiri Farm juga mulai menghasilkan produk susu pasteurisasi.

Proses produksi dilakukan dengan memperhatikan aspek kebersihan dan pengendalian suhu. Tahapannya dimulai dari pemerahan susu, proses pendinginan, hingga pasteurisasi sebelum produk dikemas.

Susu yang telah melalui proses pengolahan kemudian disimpan dengan menerapkan sistem rantai dingin atau cold chain. Sistem tersebut digunakan untuk menjaga kualitas produk selama penyimpanan dan distribusi.

Untuk sementara, produk susu pasteurisasi tersebut dipasarkan secara terbatas. Sasaran pemasarannya antara lain koperasi, kantin, pegawai, serta masyarakat yang berada di sekitar lingkungan Lapas Kelas IIA Kuningan.

Eries berharap program tersebut tidak hanya memberikan manfaat dari sisi ekonomi, tetapi juga mampu mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan.

Menurutnya, keterampilan kerja dan pengalaman profesional yang diperoleh selama mengikuti program dapat menjadi modal penting ketika warga binaan kembali ke masyarakat.

“Harapan terbesar kita adalah mengurangi risiko pengulangan tindak pidana atau residivisme. Dengan membekali mereka menjadi insan siap kerja, kita membantu menghapus stigma dan membuka jalan untuk kembali merajut masa depan di tengah masyarakat,” pungkasnya. (ags)