Santri KHAS Kempek Tak Cuma Belajar Agama, Kreativitas dan Mental Ikut Diasah

KHAS Kempek Cirebon membekali santri tak hanya dengan ilmu agama, tetapi juga kreativitas, kepedulian sosial dan kesiapan mental menghadapi zaman.

CIREBON – Menjadi santri di tengah perubahan zaman tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu agama. Pesantren juga memiliki tantangan untuk membekali santri dengan kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan mental sebelum mereka terjun ke tengah masyarakat.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Pesantren KHAS Kempek Cirebon dalam rangkaian Haul KH Aqiel Siroj ke-37, Sesepuh dan Harlah ke-66 KHAS Kempek.

Ketua Panitia, Kiai Afif Yahya, mengatakan lingkungan pesantren harus mampu memberikan ruang yang lebih luas bagi santri untuk mengembangkan berbagai kemampuan. Menurutnya, kegiatan mengaji dan memperdalam ilmu agama tetap menjadi fondasi utama, tetapi santri juga perlu memiliki keterampilan lain.

“Jadi, santri juga selain ngaji harus punya kreativitas yang lain,” ujar Kiai Afif.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui seminar Santri Tau Film. Dalam kegiatan ini, santri diperkenalkan dengan film sebagai salah satu media untuk mengemas pengetahuan agama maupun pelajaran kitab ke dalam bentuk visual yang lebih mudah diterima masyarakat.

Menurut Kiai Afif, pendekatan tersebut penting agar santri tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga mampu mengomunikasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan cara yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Di antaranya adalah kesenian tentang bagaimana mengekspresikan ilmu agama atau pelajaran-pelajaran kitab itu divisualkan dalam bentuk film,” katanya.

Santri Dibekali Mental Hadapi Tantangan

Selain kreativitas, aspek mental menjadi bagian penting dalam pembinaan santri di KHAS Kempek.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, digelar pula seminar mengenai penataan jiwa dan masa depan. Materi tersebut diarahkan untuk membantu santri mempersiapkan diri menghadapi berbagai persoalan setelah mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Kiai Afif menilai perubahan zaman menghadirkan tantangan yang semakin beragam. Karena itu, santri membutuhkan kesiapan yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademis maupun keagamaan.

“Bagaimana kita menghadapi tantangan, harus siap mental, siap pikiran, dan siap segala-galanya,” tegasnya.

Pendidikan santri juga tidak hanya dilakukan melalui kegiatan di dalam lingkungan pesantren. Rangkaian Harlah KHAS Kempek turut diisi dengan kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Salah satunya adalah khitanan massal yang digelar pada Selasa, 15 September 2026. Sebanyak 37 anak mengikuti khitanan gratis tersebut.

Menariknya, panitia tidak hanya memberikan layanan khitanan. Setiap peserta juga mendapatkan sepeda. Selain itu, tersedia pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis bagi masyarakat.

Kegiatan sosial tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran bagi santri untuk melihat secara langsung kehidupan masyarakat sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial.

Jalan Sehat Libatkan Santri dan Masyarakat

Rangkaian Harlah KHAS Kempek juga dimeriahkan dengan jalan sehat yang berlangsung pada Minggu, 13 September 2026.

Santri putra dan putri bersama masyarakat menempuh perjalanan sekitar tujuh kilometer. Rute dimulai dari Kempek, kemudian menuju Gempol, Palimanan, Pegagan dan kembali ke kompleks pesantren.

Selain jalan sehat, sejumlah kegiatan keagamaan dan kebersamaan turut digelar. Di antaranya KHAS Bersholawat yang terbuka bagi masyarakat, Sima’an Al-Qur’an bersama alumni dan santri, serta khataman Juz ‘Amma.

Khataman Juz ‘Amma putri yang digelar Minggu, 20 September 2026, diikuti sekitar 431 santri. Sementara khataman Juz ‘Amma putra yang berlangsung pada malam harinya diikuti 275 santri.

Sebelumnya, rangkaian kegiatan telah dibuka melalui Bahtsul Masa’il Kubro yang bekerja sama dengan LBM PWNU Jawa Barat pada Kamis, 10 September 2026.

Menurut Kiai Afif, seluruh kegiatan tersebut memiliki keterkaitan dengan tujuan besar pendidikan pesantren. Santri diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu menghadapi dinamika kehidupan ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Alhamdulillah, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak, baik dari kalangan keluarga, yang dengan totalitas meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya sehingga seluruh rangkaian acara dapat berjalan sukses dan meriah,” ujarnya.

Pesantren Dinilai Berperan Membentuk Karakter

Sementara itu, Bupati Cirebon Drs H Imron MAg menilai pesantren masih memiliki posisi penting dalam pembentukan karakter generasi muda.

Menurut Imron, derasnya arus globalisasi membuat pendidikan moral dan akhlak menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan.

“Pondok pesantren itu menjadi benteng kemajuan yang tidak lepas dari norma-norma atau akhlak,” kata Imron.

Ia menjelaskan, pembentukan karakter di pesantren tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal. Kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren juga menjadi bagian dari proses pendidikan.

Santri, kata Imron, dapat belajar melalui kebiasaan, perkataan, maupun keteladanan yang ditunjukkan para kiai selama mereka berada di lingkungan pesantren.

“Bukan saja pendidikannya, tetapi secara tidak langsung akhlaknya juga dididik karena santri akan mengikuti pembicaraan dan tingkah laku para kiai,” ujarnya.

Imron berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti ketika santri berada di lingkungan pesantren. Bekal ilmu, akhlak, kreativitas dan kesiapan mental diharapkan dapat dibawa ketika mereka kembali ke masyarakat.

Dengan demikian, para santri dapat mengambil peran lebih luas dan memberikan kontribusi bagi lingkungan, bangsa dan negara.

“Maka santri-santri inilah yang akan bisa meneruskan bangsa dan negara kita,” tegasnya.

Puncak rangkaian Haul KH Aqiel Siroj ke-37 dan Harlah ke-66 KHAS Kempek turut dihadiri Prof Dr KH Said Aqil Siroj MA dan Sultan Kacirebonan Abdul Gani Natadiningrat.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan zikir dan doa bersama yang dipimpin Syaikh As Sayyid Muhammad Fadhil Al Jilani, cucu Sulthonul Auliya Syaikh Qadir Al Jilani ke-25.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, KHAS Kempek menunjukkan bahwa pendidikan santri tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama. Kreativitas, kepedulian sosial, kemampuan berkomunikasi dan kesiapan menghadapi perubahan juga menjadi bekal yang dipandang penting sebelum santri kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat. (zen)