CIREBON – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Cirebon bersama Pemerintah Kabupaten Cirebon menggelar Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) ke-8 tingkat Kabupaten Cirebon.
Porsadin bukan sekadar ajang untuk memperebutkan gelar juara. Di balik berbagai perlombaan olahraga dan seni, terdapat misi untuk menjaring sekaligus membina bibit unggul santri madrasah diniyah agar dapat berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Cirebon, H Slamet MAg mengatakan, Porsadin pada dasarnya menjadi ruang silaturahmi bagi para pegiat pendidikan diniyah di Kabupaten Cirebon.
“Porsadin ini adalah ajang silaturahmi dari rekan-rekan pegiat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) se-Kabupaten Cirebon,” ujar Slamet kepada Radar Cirebon, Rabu (2/9).
Menurut Slamet, kompetisi dalam Porsadin merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang lebih besar. Selain mempertemukan para pegiat pendidikan diniyah, kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mengasah kemampuan sekaligus menemukan potensi terbaik para santri.
“Adapun nanti ada kejuaraan, itu efek samping dari agenda ini,” katanya.
Meski demikian, kompetisi tetap memiliki peran penting dalam proses pembinaan. Dari perlombaan tersebut, para santri yang memiliki kemampuan menonjol dapat teridentifikasi untuk selanjutnya dipersiapkan mengikuti kompetisi di tingkat provinsi.
Slamet menjelaskan, para peraih juara pertama pada Porsadin tingkat Kabupaten Cirebon akan mendapatkan kesempatan untuk mewakili daerah pada Porsadin tingkat Provinsi Jawa Barat.
“Yang mendapatkan juara satu nanti dikirim ke tingkat provinsi,” jelasnya.
Ia berharap para santri terbaik Kabupaten Cirebon mampu menunjukkan kemampuan dan membawa nama daerah dalam persaingan di tingkat Jawa Barat.
Menurutnya, Porsadin menjadi bagian dari upaya pembinaan prestasi pendidikan diniyah. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga pembentukan generasi Qurani yang memiliki akhlak serta daya saing.
Olahraga dan seni menjadi dua bidang utama yang dipertandingkan dalam Porsadin. Melalui dua bidang tersebut, santri diharapkan tidak hanya belajar menjadi pemenang, tetapi juga memahami nilai sportivitas, kerja keras, disiplin, dan keberanian menunjukkan kemampuan terbaik.
“Olahraga dan seni menjadi dua ruang yang dipertandingkan. Dari sana, santri tidak hanya belajar menjadi pemenang, tetapi juga belajar berkompetisi, bekerja keras dan menunjukkan kemampuan terbaiknya,” tuturnya.
Porsadin tingkat Kabupaten Cirebon dilaksanakan selama dua hari. Sementara Porsadin tingkat Provinsi Jawa Barat dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2026, bertepatan dengan momentum Hari Santri.
Sementara itu, Bupati Cirebon, Drs H Imron MAg mengatakan, keberadaan madrasah diniyah memiliki peran penting dalam pembinaan generasi muda sehingga tidak seharusnya dipandang sebelah mata.
Menurut Imron, para santri perlu mendapatkan ruang yang lebih luas untuk menunjukkan kemampuan dan prestasi mereka. Kesempatan tersebut tidak hanya diberikan di lingkungan sekolah atau tingkat kecamatan, tetapi juga hingga tingkat kabupaten, regional, bahkan nasional.
Karena itu, menurutnya, pelaksanaan Porsadin menjadi penting sebagai panggung bagi para santri madrasah diniyah untuk menunjukkan potensi yang dimiliki.
“Sekolah madrasah diniyah harus bisa tampil di tingkat kabupaten, bahkan regional,” kata Imron. (sam)
















