Kopi Ciremai Tembus Pasar Global, Produksi Kuningan Capai 1.236 Ton

Kopi Ciremai menjadi salah satu komoditas unggulan Kuningan yang terus didorong menembus pasar global.

KUNINGAN – Potensi kopi lereng Gunung Ciremai semakin menunjukkan peluang besar untuk menembus pasar global. Hal tersebut mengemuka dalam gelaran Kuningan Kopi Festival 2026 atau Ciremai Coffee Culture Festival yang berlangsung di Pandapa Paramarta, Kompleks Stadion Mashud Wisnusaputra, 4-6 September 2026.

Festival yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan tersebut tidak hanya memperkenalkan potensi kopi lokal, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin) Kabupaten Kuningan, Toni Kusumanto AP MSi, mengatakan festival menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan keragaman kopi Kuningan kepada masyarakat dan pasar yang lebih luas.

Menurutnya, kopi Kuningan memiliki sejumlah varietas, mulai dari Arabika, Robusta hingga Liberika yang memiliki karakteristik dan cita rasa masing-masing.

Festival tersebut menghadirkan 75 stan pameran yang terdiri atas 55 stan di area dalam dan 20 stan di area luar. Selain pameran produk kopi, berbagai kegiatan turut digelar, seperti lomba barista, tarung seduh, public cupping, hingga workshop roasting.

“Selain itu ada business matching, sarasehan kopi, hingga klinik kemasan dan legalitas UMKM,” ujar Toni.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Renganis, menilai kopi dari kawasan Ciremai memiliki sejarah panjang sekaligus potensi besar menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

BI Cirebon selama ini memberikan pendampingan kepada Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai yang menaungi wilayah Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka.

Pendampingan tersebut dilakukan dari sektor hulu hingga hilir, termasuk dalam penguatan kualitas produk, pemasaran, serta pengembangan kapasitas pelaku usaha.

“Bahkan, produk Kopi Buana Ciremai telah diperkenalkan hingga ke panggung internasional pada ajang World of Coffee di Bangkok,” terang Ayu.

Penguatan identitas dan perlindungan terhadap produk kopi Ciremai juga menjadi bagian penting dalam festival tersebut. Hal itu ditandai dengan penandatanganan SK MPIG secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan, Pemerintah Kabupaten Majalengka, dan Bank Indonesia.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga identitas, kualitas, serta cita rasa khas Kopi Ciremai sekaligus memperkuat daya saingnya di pasar nasional maupun internasional.

Bupati Kuningan, DR H Dian Rachmat Yanuar MSi, menegaskan festival kopi harus menjadi pijakan nyata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, bukan sekadar agenda seremonial.

Menurut Dian, produksi kopi di Kabupaten Kuningan menunjukkan tren peningkatan. Produksi yang sebelumnya tercatat sekitar 775 ton pada 2023 meningkat menjadi 1.236 ton dalam kurun waktu satu tahun.

Peningkatan produksi tersebut dinilai harus diikuti dengan strategi pengembangan yang lebih terintegrasi agar potensi kopi Kuningan mampu memenuhi kebutuhan pasar, termasuk permintaan ekspor.

Dian menekankan pentingnya menjaga tiga aspek utama, yakni kuantitas, kualitas, dan kontinuitas pasokan.

Selain itu, potensi lahan kopi Kuningan yang mencapai sekitar 1.500 hektare perlu dikonsolidasikan dan dikembangkan secara optimal. Pemerintah daerah juga mendorong agar peningkatan harga serta nilai ekonomi kopi dapat memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani.

“Yang tidak kalah penting mendorong keterlibatan generasi muda untuk mengambil peran sebagai petani, roaster, barista, maupun pemilik usaha kopi,” tegas Bupati Dian.

Dukungan terhadap penyelenggaraan festival juga datang dari pelaku UMKM kopi lokal. Bugi, perwakilan Kenandra Kopi, mengatakan kegiatan tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan sekaligus bertukar pengalaman dengan sesama pelaku industri kopi.

Menurutnya, festival juga menjadi momentum untuk memperkenalkan produk kopi lokal kepada masyarakat yang lebih luas dan membuka peluang kerja sama bisnis.

“Festival ini menjadi wahana efektif bagi para pelaku UMKM untuk memperluas jaringan, bertukar pengalaman, dan mempromosikan produk ke khalayak luas,” ungkapnya. (iim)