
CIREBON – Persoalan pelayanan dasar di wilayah pinggiran Kota Cirebon kembali menjadi sorotan. Warga RT 05, RT 06, dan RT 07 RW 09, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, mengaku harus mengandalkan swadaya masyarakat untuk menangani persoalan kebersihan lingkungan.
Selain rutin menggelar kerja bakti, warga juga secara sukarela patungan untuk membiayai pengangkutan sampah. Kondisi tersebut dilakukan karena warga mengaku belum mendapatkan fasilitas armada pengangkut sampah maupun bantuan operasional dari Pemerintah Kota Cirebon.
Mantan Ketua RT 06 RW 09 Kelurahan Argasunya, Ubaidillah, mengatakan, warga selama ini berupaya menjaga kebersihan lingkungan secara mandiri. Namun, ia menyayangkan persoalan pengangkutan sampah yang menurutnya semestinya menjadi bagian dari pelayanan pemerintah daerah justru masih harus ditangani secara swadaya.
“Kendaraan angkut sampah yang ada saat ini murni hasil inisiatif dan modal pribadi dari Ketua RT 05 yang merogoh koceknya sendiri demi melayani kebersihan warga di tiga wilayah sekaligus, yakni RT 05, RT 06, dan RT 07,” ujar Ubaidillah kepada Radar Cirebon, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, kendaraan tersebut dibeli menggunakan dana pribadi Ketua RT 05 karena tidak adanya fasilitas armada pengangkut sampah yang diterima warga dari Pemkot Cirebon.
Ubaidillah mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Terlebih, persoalan pengangkutan sampah bukan satu-satunya masalah yang dihadapi warga di wilayah tersebut.
“Boro-boro infrastruktur jalan atau drainase yang layak, urusan angkut sampah saja warga tidak diberikan fasilitas oleh Pemkot Cirebon. Sampai-sampai Ketua RT 05 terpaksa memodali sendiri beli kendaraan angkut sampah demi kepentingan warga di RT 05, 06, dan 07,” tegasnya.
Ia menyebut kondisi minim pembangunan dan fasilitas publik di wilayah tersebut telah berlangsung cukup lama. Bahkan, menurut Ubaidillah, warga merasa hampir sembilan tahun wilayah mereka minim pembangunan.
Kondisi itu membuat dirinya mempertanyakan perhatian pemerintah daerah maupun para wakil rakyat terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah Argasunya.
Melalui persoalan tersebut, Ubaidillah mempertanyakan sejauh mana perhatian anggota DPRD Kota Cirebon, khususnya para wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3, terhadap kondisi masyarakat di wilayahnya.
“Di mana letak perhatian para anggota DPRD dari wilayah Dapil 3 serta kepedulian Pemerintah Kota Cirebon. Selama ini warga RW 09 Argasunya, khususnya di RT 05, 06, dan 07, seolah dianaktirikan dan dibiarkan berjuang sendiri tanpa kehadiran negara,” katanya.
Ia menilai kondisi di tingkat masyarakat tersebut perlu menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan. Menurutnya, pelayanan dasar seperti kebersihan lingkungan semestinya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh warga Kota Cirebon.
Ubaidillah pun menyampaikan keresahan yang kini dirasakan warga terkait masa depan pelayanan publik di wilayah mereka.
“Apakah kami warga RT 05, 06, dan 07 di wilayah RW 09 Kelurahan Argasunya masih bisa berharap kepada Pemerintah Kota Cirebon? Dan apakah para anggota DPRD dari Dapil 3 masih bisa kami harapkan untuk memberikan pelayanan umum yang layak bagi masyarakat di sini?” pungkasnya. (abd)















