Mahfuz Sidik Ungkap Prediksi Perang Dingin Baru AS-Tiongkok, Kapan Terjadi?

Mahfuz Sidik memprediksi rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok dapat berkembang menjadi perang dingin baru dalam 5 hingga 15 tahun mendatang.

JAKARTA — Rivalitas perebutan hegemoni global antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kini dinilai bukan lagi sekadar persaingan ekonomi dan perdagangan. Persaingan kedua negara telah berkembang menjadi perebutan supremasi geopolitik jangka panjang yang berpotensi berdampak luas terhadap tatanan dunia.

Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, bahkan memprediksi persaingan tersebut dapat berkembang menjadi perang dingin baru antara AS dan Tiongkok dalam rentang waktu lima hingga 15 tahun mendatang.

Prediksi tersebut disampaikan Mahfuz dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertajuk “Perang Supremasi AS vs Tiongkok: Skenario Konflik Geopolitik Global”, Jumat (4/9/2026) malam.

Menurut Mahfuz, perang dingin baru yang dimaksud bukan berarti perang militer secara langsung, melainkan periode persaingan geopolitik, ketegangan, dan konfrontasi tanpa pertempuran terbuka antara kedua negara.

“Kita memprediksi dalam rentang waktu 5 hingga 15 tahun ke depan antara AS vs Tiongkok akan terjadi perang dingin baru,” kata Mahfuz dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).

Empat Skenario Rivalitas AS-Tiongkok

Mahfuz mengatakan, selain skenario perang dingin baru, rivalitas AS dan Tiongkok juga berpotensi melahirkan fragmentasi ekonomi dan pemisahan teknologi global.

Menurut dia, terdapat sejumlah skenario lain yang dapat terjadi akibat persaingan geopolitik kedua negara. Salah satunya adalah pembagian area pengaruh secara pragmatis atau forced coexistence (koeksistensi terpaksa).

Skenario lainnya adalah konflik militer langsung secara terbuka dengan titik rawan di kawasan Selat Taiwan.

“Lainnya adalah kelemahan domestik, di mana salah satu pihak melemah akibat krisis politik atau ekonomi internal,” ujarnya.

Mahfuz menilai perkembangan tersebut harus menjadi perhatian serius bagi Indonesia, khususnya dalam menentukan posisi di tengah rivalitas dua kekuatan besar dunia.

Ia mengimbau Indonesia tidak mengambil posisi secara dikotomis atau menutup diri terhadap salah satu pihak. Sebaliknya, Indonesia perlu memainkan peran sebagai bridge builder atau pembangun jembatan hubungan antara AS dan Tiongkok.

Dengan posisi tersebut, Indonesia dinilai dapat memanfaatkan peluang ekonomi, politik, dan pertahanan dari kedua pihak tanpa meninggalkan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif.

“Pendekatan realistis ini dinilai krusial agar Indonesia dapat memetik manfaat ekonomi, politik, dan pertahanan dari kedua blok tanpa mengorbankan kedaulatan serta kebebasan politik luar negeri bebas-aktif,” katanya.

Indonesia Diminta Waspadai Persaingan Indo-Pasifik

Mantan Ketua Komisi I DPR periode 2010-2017 tersebut menilai posisi kawasan Indo-Pasifik yang berada di tengah pusaran persaingan AS dan Tiongkok menuntut kewaspadaan tinggi dari negara-negara Asia Tenggara.

Menurutnya, dinamika tersebut menjadi ujian bagi Indonesia dalam mempertahankan konsistensi politik luar negeri bebas-aktif.

“Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi ujian nyata terhadap konsistensi prinsip politik luar negeri bebas-aktif agar mampu menjaga stabilitas nasional serta tidak terkooptasi dalam blok kekuatan mana pun,” katanya.

Mahfuz menilai kekuatan Tiongkok saat ini semakin mengancam dominasi kekuatan lama. Salah satu faktor pendorongnya adalah kemampuan Tiongkok dalam mengembangkan teknologi canggih.

Selain itu, Tiongkok dinilai semakin berani menantang sistem ekonomi kapitalisme serta memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dan pelayaran internasional, termasuk kawasan Laut China Selatan dan Selat Malaka.

Mahfuz menyebut eskalasi ketegangan AS dan Tiongkok merupakan bagian dari long-term strategic competition atau persaingan strategis jangka panjang.

Ia menguraikan sedikitnya empat faktor utama yang mendorong pergeseran kekuatan antara Washington dan Beijing dalam perebutan supremasi global.

Keempat faktor tersebut yakni pergeseran hegemoni dan Thucydides Trap, dominasi teknologi masa depan, benturan model ideologi, serta persoalan keamanan maritim dan chokepoint strategis seperti Laut China Selatan.

“Konflik supremasi ini sekarang sudah terbukti berdampak langsung pada rantai pasok energi global, ketahanan pangan, hingga fragmentasi ekonomi dunia,” katanya.

AS dan Tiongkok Siapkan Strategi Berbeda

Mahfuz mengatakan Amerika Serikat saat ini menjalankan sejumlah strategi untuk menghadapi perkembangan kekuatan Tiongkok.

Strategi tersebut antara lain pengetatan pembatasan ekspor teknologi, penguatan penangkalan militer di jalur laut vital, pembentukan aliansi strategis seperti QUAD dan AUKUS, hingga penerapan kebijakan proteksionisme ekonomi.

Sementara itu, menurut Mahfuz, Tiongkok tidak berupaya menghadapi AS secara frontal melalui perang terbuka. Beijing lebih berfokus pada penguatan kemandirian internal sekaligus penataan ulang ekonomi global.

Strategi tersebut antara lain diwujudkan melalui upaya mencapai swasembada pangan dan energi, pengembangan pertahanan militer yang efisien, percepatan dedolarisasi, serta perluasan infrastruktur global melalui Belt and Road Initiative dan jalur Silk Road.

Jika rivalitas tersebut terus meningkat, menurut Mahfuz, dampaknya tidak hanya dirasakan AS dan Tiongkok, tetapi juga negara-negara lain, termasuk Indonesia yang berada di kawasan strategis Indo-Pasifik. (abd)