
CIREBON – Penantian panjang warga Desa Kroya dan Desa Karanganyar, Kabupaten Cirebon, untuk mendapatkan jalan yang layak akhirnya berujung pada aksi gotong royong.
Bertahun-tahun menunggu perbaikan jalan penghubung menuju Desa Lemahtamba, warga kini memilih mengumpulkan dana secara mandiri. Langkah tersebut dilakukan karena kondisi jalan yang rusak dinilai semakin mengganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan pengguna jalan.
Kekecewaan warga semakin besar setelah penanganan jalan dilakukan, tetapi ruas yang diperbaiki hanya sekitar 200 meter.
Tokoh masyarakat setempat, H Sanuri, mengatakan kerusakan jalan tersebut sudah dirasakan warga selama kurang lebih 18 tahun. Selama kurun waktu itu, warga berharap pemerintah melakukan perbaikan secara menyeluruh.
Namun, harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud.
“Sudah terlalu lama kami menunggu. Setelah sekian tahun, ternyata yang diperbaiki hanya sekitar 200 meter. Tentu masyarakat kecewa,” ujar Sanuri.
Menurut dia, kondisi jalan yang berlubang dan bergelombang bukan sekadar membuat perjalanan tidak nyaman. Kerusakan jalan juga berpotensi menimbulkan kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor yang setiap hari melintas.
Salah satu kelompok yang cukup terdampak adalah pedagang pindang. Mereka harus melewati jalan tersebut ketika membawa dagangan.
Sanuri menyebut sejumlah pedagang bahkan pernah terjatuh akibat kondisi jalan yang rusak. Selain kehilangan atau mengalami kerusakan barang dagangan, mereka juga harus menanggung biaya perbaikan kendaraan.
“Kasihan pedagang. Mereka kadang membawa dagangan dengan modal utang. Kalau jatuh, dagangannya rusak dan sepeda motornya juga bisa ikut rusak,” katanya.
Kondisi jalan yang rusak parah, lanjut Sanuri, bahkan sudah menyerupai kubangan. Warga selama ini tidak tinggal diam. Setiap tahun, mereka melakukan penanganan secara swadaya dengan membeli material urugan seperti sirtu untuk menutup lubang di badan jalan.
Sayangnya, upaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan.
Material urugan yang ditaburkan warga kembali rusak setelah terus dilalui kendaraan dan diterpa hujan. Jalan pun kembali berlubang dan sulit dilalui.
Karena tidak ingin terus menunggu, warga akhirnya mengambil langkah lebih jauh dengan membuka penggalangan dana.
Posko donasi ditempatkan di Masjid Kroya dan Masjid Karanganyar. Respons masyarakat ternyata cukup besar.
Dalam satu malam, dana yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp300 juta.
Penggalangan dana kemudian terus berlanjut dengan melibatkan warga dan donatur dari empat desa di sekitar wilayah tersebut. Hingga kini, total dana yang terkumpul disebut mencapai sekitar Rp400 juta.
Dana tersebut rencananya digunakan untuk membeli material dan membiayai pengecoran jalan secara bertahap. Pelaksanaan akan disesuaikan dengan kemampuan dana yang tersedia.
“Kami tidak meminta yang macam-macam. Kami hanya ingin jalan ini aman, terutama untuk anak-anak dan para pedagang. Kalau pemerintah belum bisa cepat, kami berusaha mengerjakannya sendiri,” tegas Sanuri.
Warga sebenarnya telah menyampaikan persoalan jalan tersebut melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Panguragan.
Namun, sembari menunggu adanya penanganan permanen dari pemerintah, warga memilih kembali bergotong royong.
Bagi warga, jalan tersebut bukan sekadar akses penghubung antardesa. Jalan itu menjadi bagian penting dari aktivitas sehari-hari, mulai dari akses anak-anak menuju sekolah, mobilitas warga, hingga jalur para pedagang membawa hasil usaha.
Kekecewaan akibat hanya diperbaiki 200 meter akhirnya mendorong warga mengambil inisiatif sendiri. Pengumpulan sumbangan menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki semangat gotong royong, meski di sisi lain mereka berharap perbaikan jalan dapat dilakukan secara menyeluruh dan permanen.
Warga berharap pemerintah segera memberikan solusi agar mereka tidak harus terus mengandalkan swadaya setiap kali jalan kembali rusak. (awr)















