DKUKMPP Cirebon Dorong 5.396 UMKM Naik Kelas Lewat Digital Marketing

DKUKMPP Kota Cirebon mendorong UMKM naik kelas lewat digital marketing

CIREBON – Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUKMPP) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Cirebon terus mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas melalui pemanfaatan digital marketing.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Dekranasda Jelajah Kecamatan, Menggali Potensi yang digelar di Aula Pendopo Caruban, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menggali potensi usaha masyarakat sekaligus memperkenalkan peran Dekranasda hingga ke tingkat kecamatan dan kelurahan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKUKMPP Kota Cirebon, Gandi, mengatakan masih banyak pelaku usaha di tingkat kelurahan dan kecamatan yang belum memahami secara mendalam manfaat pemasaran digital bagi pengembangan bisnis.

“Yang pertama ingin memperkenalkan Dekranasda dulu ke tingkat wilayah, mulai dari kelurahan. Teman-teman di kelurahan dan kecamatan masih awam terhadap Dekranasda, kemudian mengenalkan digital marketing dan manfaatnya bagi pengembangan usaha,” ujarnya.

Menurut Gandi, saat ini terdapat sekitar 5.396 pelaku UMKM yang telah terdata dan menjadi binaan DKUKMPP Kota Cirebon.

Pemerintah Kota Cirebon ingin mendorong para pelaku usaha tersebut agar tidak hanya menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mampu berkembang dan memperluas pasar.

Untuk mendukung upaya tersebut, DKUKMPP menggandeng perusahaan jaringan internet Megavision dalam penguatan pemasaran digital bagi pelaku UMKM.

“Insyaallah dengan menggandeng salah satunya Megavision, sedikit-sedikit kita akan fokuskan UMKM kita ke arah digital marketing. Sehingga mereka walaupun berjualan di wilayahnya masing-masing, di rumahnya dan sebagainya, mereka dapat memasarkan produk-produknya dan bisa bersaing dengan produk dari luar,” katanya.

Gandi menjelaskan, sektor UMKM di Kota Cirebon saat ini didominasi usaha makanan dan minuman atau food and beverage, selain sektor kerajinan.

Namun, melalui kolaborasi bersama Dekranasda, pemerintah juga ingin memberikan perhatian lebih terhadap produk kerajinan yang dinilai memiliki potensi untuk menjadi produk unggulan daerah.

“Di Kota Cirebon ini banyaknya food and beverage, namun kami ingin dari sisi kerajinan juga makanya kami menggandeng pihak Dekranasda Kota Cirebon,” jelasnya.

Meski demikian, Gandi mengakui masih terdapat tantangan dalam mendorong pelaku UMKM masuk ke ekosistem digital. Sebagian pelaku usaha masih memandang kegiatan usahanya hanya sebagai upaya memenuhi kebutuhan rumah tangga, bukan sebagai bisnis yang perlu dikembangkan.

“Memang ada pemahaman yang belum mereka pahami secara dalam. Usaha mereka dianggap hanya sebagai pemenuhan kebutuhan rumah tangga, bukan sebagai bisnis,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Gandi, pelatihan saja tidak cukup. Pemerintah bersama mitra akan melakukan pendampingan secara berkelanjutan agar pelaku UMKM benar-benar mampu memanfaatkan digital marketing, mulai dari proses pendaftaran hingga penggunaannya untuk memasarkan produk.

“Setelah pelatihan ini kita akan melakukan pendampingan sampai mereka benar-benar menggunakan digital marketing yang mereka inginkan,” tuturnya.

Gandi menilai banyaknya usaha berbasis home industry justru menjadi salah satu kekuatan ekonomi Kota Cirebon. Melalui pendampingan, digitalisasi, dan penguatan produk kerajinan, pemerintah berharap lahir UMKM unggulan yang mampu menjadi champion dan membawa nama Kota Cirebon ke pasar yang lebih luas.

“Kita ingin melihat dari sekian UMKM itu suksesnya berapa, sehingga nantinya terasa hasil dari pembimbingan dan pendampingan yang kita lakukan,” pungkasnya.

Sementara itu, General Manager (GM) Jawa Barat Megavision, Agung Purnama, mengatakan kolaborasi tersebut dilakukan karena kebutuhan internet dan pemasaran digital semakin penting bagi pelaku UMKM.

Menurutnya, pelaku UMKM saat ini tidak hanya membutuhkan koneksi internet untuk menunjang aktivitas usaha, tetapi juga untuk berjualan secara daring, melakukan siaran langsung (live selling), serta mempromosikan produk melalui media sosial.

“Kenapa kita lebih menyasar pelaku UMKM? Karena produk kita ada internet dan ini biasanya pelaku UMKM perlu. Apalagi zaman sekarang pelaku UMKM biasanya menjualnya online, live, dan segala macam,” katanya.

Agung menambahkan, pengalaman Megavision dalam memanfaatkan media sosial selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kanal digital dapat membantu menjangkau pelanggan dengan lebih cepat.

Pengalaman tersebut kemudian ingin dibagikan kepada pelaku UMKM di Kota Cirebon melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah.

“Kita di Megavision Bandung sudah 25 tahun dan ternyata dari sosial media lebih cepat untuk merambah pelanggan-pelanggan sehingga intinya kita kolaborasi dengan pak Gandi di sini, dengan Kota Cirebon, lebih ingin sharing saja. Karena di Kota Lembang kita sudah melakukan seperti ini dan hasilnya bagus,” tambahnya.

Agung menilai Kota Cirebon memiliki potensi UMKM yang cukup besar, terutama melalui produk khas daerah seperti batik, kuliner, kerajinan, dan oleh-oleh.

“Kalau potensi UMKM di Kota Cirebon cukup besar karena ada oleh-oleh batik, kuliner dan kerajinan macam souvenir tiruan keraton,” tuturnya.

Dengan dukungan konektivitas internet dan pemanfaatan pemasaran digital, ia berharap pelaku UMKM Kota Cirebon dapat memperluas jangkauan pasar hingga ke luar daerah.

“Sisi konektivitas, Megavision saat ini menawarkan paket internet dengan kecepatan hingga 100 Mbps yang diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan bagi pelaku UMKM dalam menunjang aktivitas digital mereka,” pungkasnya. (its)