INDRAMAYU – Penanganan kebocoran pipa saluran sumur BDA 004 milik PT Pertamina EP Jatibarang Field di Desa Pagedangan, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, masih berlangsung.
Peristiwa yang terjadi sejak 30 September 2026 itu kini mulai menunjukkan perkembangan. Semburan dari pipa disebut sudah jauh berkurang dibandingkan saat awal kejadian. Kendati demikian, bau gas masih tercium di sejumlah titik, terutama ketika arah angin menuju permukiman warga.
Di tengah proses penanganan tersebut, ratusan warga yang terdampak mendapatkan kompensasi dari pihak Pertamina. Pemberian kompensasi merupakan hasil kesepakatan antara Pertamina, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat terdampak.
Kasi Trantibum Kecamatan Tukdana, Darto SIP, mengatakan kondisi semburan saat ini sudah tidak separah ketika pertama kali kebocoran terjadi. Meski demikian, pemantauan di sekitar lokasi tetap dilakukan bersama unsur terkait.
“Kalau dari semburan sudah tidak seperti awal, karena kita selalu pantau. Memang bau ini bisa dirasakan warga sekitar, itu tergantung arah angin,” ujar Darto, Minggu (4/10).
Menurut dia, pemerintah kecamatan turut mengawal realisasi kompensasi bagi masyarakat Desa Pagedangan. Kompensasi tersebut diberikan selama proses penanganan kebocoran masih berlangsung.
Beberapa kebutuhan warga yang menjadi bagian dari kesepakatan antara lain konsumsi makanan tiga kali sehari, masker, hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
“Ada beberapa kesepakatan kompensasi antara pihak Pertamina dengan warga, yakni pemberian makan tiga kali sehari, pemberian masker, serta pemberian fasilitas pelayanan kesehatan bagi warga,” jelasnya.
Selain kebutuhan sehari-hari, kompensasi juga mencakup kerugian terhadap tanaman pertanian dan hewan ternak milik warga yang terdampak.
Rumah dan fasilitas umum juga dapat memperoleh kompensasi apabila berdasarkan pendataan dan verifikasi dinyatakan terdampak akibat kebocoran pipa tersebut.
Darto menjelaskan, pemberian kompensasi dilakukan berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi terhadap warga maupun objek yang terdampak. Dampak berupa kebisingan dan bau yang dirasakan masyarakat juga menjadi bagian yang diperhitungkan.
“Pemberian kompensasi dilakukan melalui proses pendataan dan verifikasi terhadap masyarakat maupun objek yang terdampak. Kemudian pemberian kompensasi terkait dampak kebisingan dan bau yang dirasakan oleh masyarakat akibat kejadian kebocoran pipa tersebut,” katanya.
808 Warga Terdampak
Sekretaris Desa Pagedangan, Ade, membenarkan bahwa Pertamina telah merealisasikan kompensasi kepada sejumlah warga yang terdampak kebocoran pipa sumur BDA 004.
Ia menyebut kondisi penanganan juga mulai membaik. Salah satu perubahan yang dirasakan warga adalah suara bising dari lokasi kebocoran yang kini sudah tidak terdengar seperti sebelumnya.
Namun, persoalan bau gas belum sepenuhnya hilang. Sebagian warga masih mencium bau tersebut sehingga penggunaan masker tetap dianjurkan.
“Jadi, warga tetap gunakan masker. Warga yang dievakuasi itu hanya warga yang punya penyakit, lansia, dan balita. Mereka numpang di rumah saudaranya,” kata Ade.
Berdasarkan pendataan pemerintah desa, warga terdampak tersebar di tiga RT.
Rinciannya, sebanyak 163 jiwa berada di RT 01, kemudian 301 jiwa di RT 02, dan 344 jiwa di RT 07.
Dengan demikian, total warga yang tercatat terdampak mencapai 808 jiwa.
Ade menegaskan, kesepakatan kompensasi berlaku sampai proses penanganan kebocoran dinyatakan selesai. Selama masa tersebut, kebutuhan konsumsi dan kesehatan warga terdampak menjadi bagian dari tanggung jawab Pertamina.
“Untuk kompensasi sudah ada kesepakatan itu sampai penanganan selesai, termasuk kebutuhan konsumsi warga sehari-hari ditanggung Pertamina, dan kebutuhan kesehatan juga,” ujarnya.
Ia berharap penanganan kebocoran dapat segera dituntaskan sehingga aktivitas masyarakat kembali normal.
“Semoga bisa cepat selesai, meskipun sekarang sudah tidak bising lagi, tapi masih tercium bau gas,” pungkasnya. (oni)
















