CIREBON – Lebih dari 2.000 mahasiswa baru Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) mengikuti rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun akademik 2026/2027.
Kegiatan tersebut resmi dimulai Senin (5/10/2026) dan dipusatkan di Auditorium Kampus I UGJ. Para mahasiswa baru tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang menjadi pintu masuk sebelum mereka menjalani aktivitas perkuliahan di lingkungan kampus.
PKKMB UGJ berlangsung selama empat hari, mulai Senin hingga Kamis (5-8/10/2026). Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan agenda inaugurasi yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (10/10/2026) di Kampus I UGJ.
Rektor UGJ Prof Dr Achmad Faqih SP MM mengatakan, PKKMB merupakan bagian penting dari rangkaian awal tahun ajaran baru. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan kampus, tetapi juga momentum bagi mahasiswa untuk memahami arah pendidikan yang akan mereka jalani.
Menurutnya, UGJ terus berkomitmen melakukan inovasi dan kreasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus capaian lulusan.
“PKKMB ini merupakan rangkaian kegiatan awal tahun ajaran baru. Ini menjadi momentum penting bagi UGJ untuk terus berinovasi dan berkreasi dalam meningkatkan kualitas capaian lulusan,” ujar Achmad Faqih.
Memasuki tahun akademik 2026/2027, UGJ juga melakukan perubahan besar pada sistem pembelajaran, terutama dari sisi kurikulum. Perguruan tinggi tersebut mulai menerapkan pola kurikulum 2+1+1 dengan komposisi pembelajaran 60:40.
Pola tersebut dirancang untuk memberikan keseimbangan antara penguasaan teori dan pengalaman praktik mahasiswa.
Pada dua tahun pertama, mahasiswa akan mendapatkan penguatan teori. Tahap ini difokuskan pada penguasaan pengetahuan yang mendukung pencapaian Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), termasuk profil lulusan yang kemudian dijabarkan dalam Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK).
Setelah itu, mahasiswa memasuki satu tahun pembelajaran berbasis praktik lapangan. Pada tahap ini, pengalaman mahasiswa akan diperkuat melalui program magang maupun praktik langsung di dunia kerja.
Sementara satu tahun berikutnya diarahkan pada program “kitam” serta penguatan branding mahasiswa. Tahapan tersebut diharapkan dapat membangun kesiapan mental, kompetensi, dan kemampuan mahasiswa sebelum benar-benar terjun ke tengah masyarakat maupun dunia profesional.
Achmad Faqih menegaskan, perubahan kurikulum tersebut merupakan bagian dari upaya UGJ menciptakan lulusan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
“Melalui perubahan mendasar pada kurikulum ini, UGJ berfokus menyiapkan lulusan yang benar-benar adaptif. Sistem baru ini dirancang agar sejalan atau link and match dengan kebutuhan dunia industri, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai instansi terkait,” katanya.
Ia berharap pola pembelajaran baru tersebut dapat membuat lulusan UGJ tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mempunyai keterampilan dan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati (YPSGJ) Prof Dr Mukarto Siswoyo MSi mengatakan, pihak yayasan bersama universitas telah menyepakati langkah besar dalam pembaruan sistem pendidikan UGJ.
Kebijakan tersebut dikemas melalui konsep “Big Bang Curriculum Reformation” atau reformasi besar-besaran kurikulum yang diterapkan pada seluruh program studi di UGJ.
Mukarto mengatakan, reformasi kurikulum tersebut diarahkan agar pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa semakin relevan dengan perkembangan kebutuhan pasar kerja.
“Memasuki tahun akademik 2026/2027, yayasan dan universitas telah bersepakat melakukan perombakan besar-besaran melalui kebijakan Big Bang Curriculum Reformation bagi seluruh program studi,” kata Mukarto.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah fokus utama dalam reformasi kurikulum tersebut. Salah satunya adalah orientasi pembelajaran terhadap kebutuhan pasar kerja, dunia usaha, dan dunia industri.
Selain itu, kompetensi mahasiswa juga akan diselaraskan dengan kebutuhan di luar kampus. Pengetahuan, ilmu, dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa diharapkan memiliki keterkaitan langsung dengan standar dan kebutuhan dunia profesional.
UGJ juga menetapkan komposisi pembelajaran dengan porsi 60 persen teori dan 40 persen praktik atau keterampilan (skill).
“Komposisi pembelajaran 60:40. Mahasiswa akan dibekali pendidikan dengan porsi 60 persen teori dan 40 persen praktik atau keterampilan,” bebernya.
Mukarto menilai transformasi tersebut menjadi langkah penting bagi UGJ dalam menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.
Dengan reformasi kurikulum dan pola pembelajaran baru tersebut, UGJ berharap mahasiswa tidak hanya lulus dengan bekal ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi, pengalaman, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi dunia industri dan masyarakat.
Rangkaian PKKMB yang diikuti lebih dari 2.000 mahasiswa baru pun menjadi momentum awal penerapan visi tersebut pada tahun akademik 2026/2027. (abd)
















