
CIREBON – Jangan anggap remeh tugas protokol. Kesalahan dalam mengatur sebuah acara resmi bukan hanya berpotensi membuat jadwal berantakan, tetapi juga bisa berdampak pada citra institusi hingga pimpinan yang diwakili.
Hal itu ditegaskan Wakil Wali Kota Cirebon Hj Siti Farida Rosmawati saat menghadiri Pekan Protokol Nasional (PPN) 2026 yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Korps Protokol Mahasiswa (KPM) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Senin (14/9/2026).
Menurut Siti Farida, keprotokolan memiliki posisi penting dalam memastikan tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan berjalan sesuai ketentuan.
“Suatu acara tidak berjalan dengan baik, dampaknya bukan hanya pada jadwal yang terganggu. Akan tetapi dapat memengaruhi citra institusi maupun pimpinan yang diwakili,” tegasnya.
Wakil wali kota yang akrab disapa Rida itu mengatakan, pekerjaan protokol semakin menantang di tengah era keterbukaan informasi.
Setiap kegiatan resmi pemerintah maupun lembaga pendidikan kini dapat dengan cepat diketahui dan menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut membuat pelaksanaan acara tidak cukup hanya berjalan sesuai susunan acara, tetapi juga harus dikelola secara profesional.
Rida menilai, menjadi petugas protokol bukan sekadar mengatur posisi tempat duduk atau menyambut tamu.
Ada banyak hal yang harus dikuasai, mulai dari kemampuan berkomunikasi, mengatur waktu, memahami etika formal, bekerja dengan teliti hingga mengambil keputusan secara cepat ketika muncul persoalan di lapangan.
Karena itu, ia mengapresiasi pelaksanaan PPN 2026 di Kota Cirebon yang diikuti perwakilan korps protokol dari berbagai wilayah di Indonesia.
Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring sekaligus bertukar pengalaman mengenai praktik keprotokolan di berbagai institusi.
“Keikutsertaan dalam organisasi keprotokolan kampus merupakan investasi soft skill yang sangat berharga,” ujar Rida.
Mahasiswa Diminta Serius Belajar Keprotokolan
Rida juga memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan mahasiswa dalam organisasi keprotokolan kampus.
Menurutnya, pengalaman yang diperoleh mahasiswa melalui KPM dapat menjadi bekal penting sebelum mereka terjun ke dunia profesional.
Melalui berbagai kegiatan, mahasiswa tidak hanya belajar mengelola acara. Mereka juga mendapatkan pengalaman dalam berkomunikasi, beradaptasi, memahami etika, bekerja dalam tim serta menyelesaikan persoalan secara cepat dan terukur.
Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr Ahmad Ayus Yusuf SE, mengatakan kebutuhan terhadap tenaga yang memahami keprotokolan cukup tinggi di lingkungan perguruan tinggi.
Pasalnya, agenda kampus berlangsung hampir setiap hari dengan skala yang beragam.
“Di kampus itu event-nya banyak. Setiap hari ada saja kegiatan, mulai dari tingkat fakultas, program studi sampai universitas. Belum lagi kegiatan besar seperti PBAK, kegiatan akademik, kedatangan menteri dan tamu-tamu penting lainnya,” kata Ayus.
Ia menjelaskan, dalam setiap kegiatan resmi terdapat sejumlah detail yang harus dipersiapkan secara matang.
Mulai dari menentukan posisi tamu, mengatur alur kedatangan, melakukan pendampingan, menyiapkan susunan acara hingga memastikan pihak yang harus disebut maupun ditempatkan pada posisi tertentu.
Hal-hal tersebut, menurut Ayus, memiliki aturan dan tata cara tersendiri.
Karena itu, kemampuan keprotokolan tidak bisa diperoleh hanya dengan melihat atau mengikuti sebuah acara. Mahasiswa membutuhkan pengalaman langsung agar memahami bagaimana menghadapi berbagai situasi di lapangan.
Ayus pun mengapresiasi mahasiswa yang aktif di KPM UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Selain membantu kelancaran agenda kampus, organisasi tersebut dinilai menjadi tempat yang tepat bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan sebelum memasuki dunia kerja.
Ia bahkan mendorong aktivitas KPM dikembangkan sebagai ruang latihan sekaligus pengalaman kerja bagi mahasiswa.
“Jadikan aktivitas di KPM ini sebagai media latihan, bahkan sebagai tempat magang,” harapnya.
Ayus juga meminta mahasiswa membangun komunikasi dengan korps protokol dari berbagai institusi, termasuk protokol pemerintah daerah.
Menurutnya, jejaring tersebut dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para praktisi.
“Bagaimana menyapa tamu, mengantarkan ke tempat duduk, dan mendampingi tamu, itu semua ada ilmunya. Tidak bisa dilakukan asal-asalan,” pungkasnya. (abd)















