Cegah Kebakaran TPA Kopiluhur, DLH Kota Cirebon Siapkan Tanah Urugan dan Tangki Air

DLH Kota Cirebon lakukan antispiasi mencegah kebakaran di TPA Kopi Luhur

CIREBON – Musim kemarau membuat potensi kebakaran meningkat, termasuk di kawasan tempat pembuangan akhir sampah. Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon yang memperkuat kesiapsiagaan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Kopiluhur.

Berbagai langkah antisipasi disiapkan, terutama di area landfill yang menjadi lokasi penumpukan sampah. DLH menempatkan sejumlah sarana untuk mempercepat penanganan apabila sewaktu-waktu muncul titik api.

Beberapa fasilitas yang disiagakan antara lain tanah urugan, tangki air, serta perangkat penyiraman. Material tersebut ditempatkan sedekat mungkin dengan area landfill agar dapat langsung digunakan ketika terjadi kondisi darurat.

Tanah urugan disiapkan di dua sisi area landfill. Fungsinya sebagai material penutup yang bisa segera digunakan untuk menutup timbunan sampah ketika ditemukan titik panas atau api.

Selain itu, satu unit tangki air ditempatkan di area landfill aktif. Tangki tersebut dilengkapi perangkat penyiraman, pipa, dan generator set sehingga proses pembasahan dapat dilakukan langsung di lokasi.

Kepala DLH Kota Cirebon Fina Amalia Purwantini mengatakan, penyediaan sarana tersebut merupakan bagian dari sistem mitigasi untuk mempercepat penanganan kebakaran di kawasan TPA Kopiluhur.

“Tanah urugan kami siapkan di sekitar landfill agar ketika ada indikasi kebakaran, penanganannya bisa langsung dilakukan tanpa harus menunggu material didatangkan dari tempat lain,” kata Fina.

Tidak hanya mengandalkan sarana fisik, DLH juga memperkuat pengawasan di kawasan TPA dengan menerapkan sistem piket selama 24 jam.

Petugas disiagakan untuk memantau kondisi timbunan sampah sekaligus melakukan respons awal apabila ditemukan titik panas maupun api.

“Petugas kami bersiaga selama 24 jam. Jadi, ketika ditemukan tanda-tanda kebakaran, langkah penanganan awal bisa segera dilakukan,” ujarnya.

Kesiapsiagaan tersebut tidak terlepas dari pengalaman kebakaran yang pernah terjadi di kawasan TPA Kopiluhur pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Fina, timbunan sampah memiliki potensi menghasilkan gas metana. Gas tersebut dapat bergerak melalui celah-celah di dalam timbunan dan mencari ruang kosong.

Kondisi itu membuat titik api atau panas tidak selalu muncul tepat di permukaan timbunan sampah. Karena itu, pengawasan terhadap kondisi landfill harus dilakukan secara berkala.

Fina menjelaskan, titik panas di kawasan TPA Kopiluhur tidak terkonsentrasi pada satu lokasi. Sebarannya relatif kecil dan ditemukan di beberapa titik.

Meski demikian, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian karena titik panas berpotensi berkembang apabila tidak segera ditangani.

“Pastinya kita melakukan pemantauan terhadap kondisi landfill secara berkala. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan pada 2025, ditemukan sejumlah titik panas di kawasan TPA Kopiluhur,” pungkasnya.

Dengan sistem piket 24 jam, ketersediaan tanah urugan, serta dukungan tangki dan peralatan penyiraman, DLH Kota Cirebon berupaya memastikan potensi kebakaran di TPA Kopiluhur dapat ditangani sedini mungkin. (sep)