
CIREBON – Sebanyak 5.837 anak di Kota Cirebon belum mendapatkan imunisasi Campak-Rubella (MR). Kondisi ini membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon terus menggenjot cakupan imunisasi untuk memutus mata rantai penularan campak.
Berdasarkan data Dinkes Kota Cirebon, dari total 38.730 anak yang menjadi sasaran imunisasi MR, baru 32.893 anak yang telah mendapatkan vaksinasi.
Artinya, cakupan imunisasi baru mencapai 84,9 persen, sementara masih terdapat 5.837 anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Anak-anak yang menjadi sasaran tersebut berada pada rentang usia sembilan bulan hingga kurang dari 13 tahun.
Kepala Dinkes Kota Cirebon, dr. Hj. Siti Maria Listiawaty, mengatakan pihaknya terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran kader posyandu di setiap kelurahan.
“Kita masih menerapkan status KLB campak sejak 20 Februari lalu, sampai sekarang belum dapat dicabut karena rantai penularan masih aktif,” ungkap Maria.
Menurutnya, peningkatan cakupan imunisasi menjadi salah satu kunci untuk menghentikan penyebaran campak sekaligus mempercepat pencabutan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Kota Cirebon.
Dinkes menargetkan cakupan imunisasi MR minimal mencapai 95 persen. Angka tersebut diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat.
Untuk mengejar target tersebut, Dinkes Kota Cirebon telah melibatkan 100 kader posyandu bidang kesehatan yang tersebar di 22 kelurahan.
Para kader tersebut akan bertugas memberikan informasi mengenai pentingnya imunisasi sekaligus mendampingi dan memberikan pemahaman kepada orang tua yang masih ragu membawa anaknya untuk mendapatkan vaksinasi.
Maria mengakui, masih terdapat sejumlah faktor yang membuat orang tua enggan memberikan imunisasi kepada anak. Di antaranya kekhawatiran anak mengalami demam setelah vaksinasi hingga pertanyaan mengenai kehalalan vaksin.
Karena itu, para kader terlebih dahulu diberikan pembekalan sebelum turun ke masyarakat. Mereka dibekali teknik komunikasi antarpribadi agar dapat menyampaikan edukasi secara persuasif dan mudah dipahami.
“Kader kita bekali teknik komunikasi agar mampu mengedukasi masyarakat dengan baik,” sebutnya.
Maria berharap keberadaan 100 kader tersebut dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat imunisasi. Dengan informasi yang tepat, orang tua diharapkan dapat mengambil keputusan berdasarkan fakta dan tidak lagi terpengaruh kekhawatiran yang tidak berdasar.
“Semoga melalui upaya ini, para kader mampu mendorong cakupan imunisasi hingga setidaknya mencapai 95 persen untuk menciptakan kekebalan komunitas,” kata Maria. (sep)















