
CIREBON – Keterbatasan lahan pertanian menjadi tantangan bagi Kabupaten Cirebon untuk terus meningkatkan produksi pangan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon kini memilih strategi lain, yakni mengoptimalkan lahan yang sudah tersedia dengan menambah musim tanam.
Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP). Lahan yang selama ini hanya mampu ditanami satu kali dalam setahun didorong agar bisa memasuki musim tanam kedua.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Dr. Deni Nurcahya, ST, M.Si., mengatakan peningkatan indeks pertanaman menjadi salah satu strategi untuk menggenjot produksi tanpa harus memperluas areal pertanian.
Menurutnya, lahan yang saat ini baru mampu melakukan satu musim tanam atau MT1 ditargetkan dapat meningkat menjadi MT2. Sementara lahan yang sudah mampu ditanami dua kali dalam setahun diupayakan dapat memasuki MT3.
“Yang MT1 kita dorong menjadi MT2. Kemudian yang MT2 kita dorong menjadi MT3,” kata Deni, Kamis (27/8/2026).
Deni menjelaskan, semakin tinggi indeks pertanaman, semakin besar pula peluang peningkatan produksi dari lahan yang sama. Strategi tersebut dinilai penting mengingat penambahan luas lahan pertanian bukan perkara mudah di tengah keterbatasan ruang dan perkembangan wilayah.
Namun, upaya menambah musim tanam masih menghadapi persoalan utama, yakni ketersediaan air irigasi.
Terlebih pada musim kemarau, tidak semua lahan pertanian memiliki pasokan air yang cukup untuk kembali ditanami setelah masa panen. Kondisi ini membuat pengelolaan sumber daya air menjadi faktor penting dalam meningkatkan indeks pertanaman.
“Yang paling penting memang ketersediaan air. Kalau airnya tersedia, setelah panen lahan bisa kembali ditanami,” ujarnya.
Karena itu, pemenuhan kebutuhan irigasi menjadi bagian penting dari strategi peningkatan produksi pertanian di Kabupaten Cirebon. Pemerintah daerah perlu memastikan pasokan air mampu menopang pola tanam yang lebih intensif, terutama pada lahan yang berpotensi ditingkatkan dari MT1 menjadi MT2 maupun MT2 menjadi MT3.
Selain faktor air, ketersediaan sarana produksi pertanian juga turut menentukan keberhasilan peningkatan produktivitas. Pupuk dan obat-obatan tanaman diperlukan untuk menjaga pertumbuhan serta kesehatan tanaman hingga memasuki masa panen.
Deni menegaskan, peningkatan produksi pertanian tidak semata-mata diukur dari banyaknya hasil panen atau tonase komoditas. Aspek kualitas juga harus menjadi perhatian agar peningkatan produktivitas tetap menghasilkan komoditas pertanian yang bermutu.
Dengan kondisi lahan yang terbatas, peningkatan indeks pertanaman di Kabupaten Cirebon menjadi salah satu pilihan strategis untuk menjaga dan meningkatkan produksi pertanian. Optimalisasi MT1 menjadi MT2 serta MT2 menjadi MT3 diharapkan mampu memberikan tambahan produksi tanpa perlu membuka lahan pertanian baru.
Kunci keberhasilannya tetap bergantung pada sejumlah faktor, terutama ketersediaan air, dukungan sarana produksi, serta pengelolaan lahan yang tepat. (zen)















