
CIREBON – Ribuan warga memadati kawasan Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon, Minggu (1/11/2026), untuk menyaksikan tradisi tahunan Memayu Buyut Trusmi atau dikenal dengan Ider-ideran. Sejak pagi, masyarakat berbondong-bondong datang demi menyaksikan langsung kemeriahan arak-arakan budaya yang menjadi salah satu tradisi khas masyarakat Cirebon tersebut.
Antusiasme warga terlihat dari padatnya sejumlah ruas jalan dan gang di sekitar kawasan Trusmi. Bahkan, sebagian pengunjung sudah datang sejak selepas subuh untuk mendapatkan posisi terbaik di sepanjang jalur arak-arakan. Kepadatan mulai terlihat di sejumlah titik, termasuk persimpangan jalan di depan Gapura Batik Trusmi.
Tradisi Memayu Buyut Trusmi memang selalu menjadi magnet bagi masyarakat. Tidak hanya warga dari desa sekitar, pengunjung dari berbagai kecamatan di Kabupaten Cirebon turut hadir untuk menikmati beragam pertunjukan budaya yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
Salah seorang pengunjung, Eman (40), warga Kecamatan Plumbon, mengaku sengaja berangkat sejak selepas subuh bersama istri dan anaknya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan menyaksikan arak-arakan dari lokasi yang strategis.
Menurutnya, datang lebih awal menjadi pilihan tepat karena kawasan Trusmi biasanya dipadati pengunjung ketika rangkaian kegiatan mulai berlangsung.
“Dari setelah subuh sudah berangkat. Kalau agak siangan, susah dapat tempat yang enak. Jalan-jalan sudah keburu macet dan padat,” ujarnya.
Selama menyaksikan kegiatan, Eman bersama keluarganya juga tidak melewatkan kesempatan mengabadikan berbagai atraksi yang melintas. Kamera ponsel mereka terus digunakan untuk merekam kemeriahan ogoh-ogoh dan beragam penampilan peserta arak-arakan.
Ogoh-ogoh hingga kesenian tradisional jadi daya tarik
Sepanjang jalur arak-arakan, suasana berlangsung meriah. Berbagai kelompok peserta menampilkan kreasi budaya dengan bentuk dan tampilan yang beragam. Salah satu yang paling menarik perhatian pengunjung adalah ogoh-ogoh dengan ukuran besar serta desain unik.
Selain ogoh-ogoh, rombongan arak-arakan juga menampilkan beragam kostum, replika berukuran besar, dan pertunjukan kesenian tradisional. Sejumlah peserta turut membawa benda-benda pusaka dengan melibatkan para sesepuh adat sebagai bagian dari rangkaian tradisi.
Tidak hanya menampilkan unsur budaya dan sejarah, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai kekayaan lokal Cirebon.
Kreasi batik, tarian tradisional, sajian makanan khas, hingga pertunjukan musik turut mewarnai jalannya arak-arakan. Beragam penampilan itu membuat Memayu Buyut Trusmi tidak sekadar menjadi ritual adat, tetapi juga perayaan budaya yang mampu menarik perhatian berbagai kalangan.
Kemeriahan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi lokal masih memiliki tempat tersendiri di tengah kehidupan masyarakat modern. Generasi muda pun dapat mengenal kekayaan budaya daerah melalui pertunjukan yang dikemas secara menarik dan melibatkan banyak unsur masyarakat.
Memayu Buyut Trusmi bukan sekadar arak-arakan
Di balik kemeriahan dan banyaknya pengunjung, Memayu Buyut Trusmi menyimpan nilai sejarah, budaya, serta religi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi ini berkaitan erat dengan penghormatan masyarakat terhadap Ki Buyut Trusmi, sosok yang dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam sekaligus pengembang kerajinan batik di wilayah Cirebon.
Salah satu prosesi penting dalam rangkaian Memayu Buyut Trusmi adalah mengganti atap bangunan makam Kramat Buyut Trusmi menggunakan anyaman alang-alang yang dikenal dengan sebutan welit.
Prosesi tersebut memiliki makna tersendiri bagi masyarakat adat. Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, kegiatan ini juga dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur serta doa untuk memohon keselamatan dan keberkahan.
Penggunaan welit sebagai material pengganti atap menjadi salah satu ciri khas yang membuat tradisi Memayu Buyut Trusmi tetap memiliki identitas kuat. Praktik tersebut juga menunjukkan bagaimana masyarakat setempat berupaya mempertahankan nilai-nilai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, Memayu Buyut Trusmi tidak hanya menarik sebagai tontonan budaya. Tradisi ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga hubungan antara sejarah, identitas masyarakat, dan nilai-nilai spiritual yang tumbuh di lingkungan setempat.
361 personel gabungan amankan jalannya tradisi
Besarnya jumlah pengunjung membuat aspek keamanan dan kelancaran lalu lintas menjadi perhatian selama kegiatan berlangsung.
Untuk memastikan seluruh rangkaian Memayu Buyut Trusmi berjalan tertib, sebanyak 361 personel gabungan diterjunkan untuk melakukan pengamanan di sejumlah titik strategis.
Pengamanan dipimpin Kapolresta Cirebon Kombes Pol Imara Utama, didampingi Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman.
Personel yang dilibatkan berasal dari berbagai unsur, di antaranya Polresta Cirebon, Polsek jajaran, Kodim 0620 Kabupaten Cirebon, Denpom III/3 Siliwangi, Satpol PP, Dinas Perhubungan, serta Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Cirebon.
Sebelum kegiatan dimulai, Kapolresta Cirebon terlebih dahulu memimpin apel kesiapan, arahan pimpinan pasukan, serta Tactical Wall Game (TWG). Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman Mapolsek Weru.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan seluruh personel memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing, terutama dalam mengantisipasi kepadatan pengunjung, potensi gangguan keamanan, serta peningkatan volume kendaraan di sekitar lokasi kegiatan.
Imara mengatakan, pengamanan dilakukan agar masyarakat dapat menikmati seluruh rangkaian tradisi tanpa merasa khawatir. Pihaknya juga mengedepankan koordinasi lintas instansi agar kegiatan budaya masyarakat dapat berjalan lancar.
“Melalui pengamanan ini, kami ingin memastikan masyarakat dapat mengikuti dan menikmati seluruh rangkaian tradisi Memayu Buyut Trusmi dengan aman dan nyaman. Kami juga mengedepankan sinergi bersama TNI, pemerintah daerah, serta seluruh unsur terkait agar kegiatan budaya masyarakat dapat berlangsung tertib dan kondusif,” ujarnya.
Selain pengamanan personel, petugas gabungan juga menerapkan rekayasa lalu lintas di sekitar jalur arak-arakan. Pengaturan tersebut dilakukan untuk mengurangi kepadatan kendaraan sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat yang ingin menyaksikan kegiatan.
Seluruh rangkaian Memayu Buyut Trusmi pada Minggu (1/11/2026) akhirnya selesai sekitar pukul 10.00 WIB. Kegiatan berlangsung aman dan tertib.
Tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa Memayu Buyut Trusmi masih menjadi tradisi yang dinantikan setiap tahun. Lebih dari sekadar tontonan, kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat Cirebon untuk merawat warisan leluhur sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi berikutnya. (awr)















