Membanggakan! Festival Cai Diraga Cirebon Tembus KEN 2026, Ini Keunikan Tradisi Larum Cai

Festival Cai Diraga tembus KEN 2026. Tradisi Larum Cai Cirebon masuk 125 event terbaik nasional, angkat budaya lokal dan potensi wisata daerah.

CIREBON – Festival Budaya Cai Diraga 2026 mencatatkan pencapaian penting dengan berhasil menembus agenda Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang digagas Kementerian Pariwisata. Untuk pertama kalinya, festival yang mengangkat tradisi Larum Cai tersebut masuk dalam daftar 125 agenda wisata unggulan nasional.

Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Cirebon. Tidak hanya memperkuat eksistensi tradisi dan kearifan lokal, pengakuan tersebut juga membuka peluang lebih besar untuk memperkenalkan potensi wisata budaya Cirebon kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan dari berbagai daerah.

Festival Budaya Cai Diraga 2026 digelar di lapangan parkir selatan Jempol Waterboom, Kecamatan Ciledug, Sabtu (31/10/2026). Mengusung tema Jati Purwa, kegiatan ini mengajak masyarakat kembali mengenali identitas budaya, menggali nilai-nilai sejarah, serta menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Masuknya Festival Cai Diraga dalam KEN 2026 menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon untuk mengembangkan tradisi lokal menjadi daya tarik pariwisata yang memiliki nilai ekonomi.

Bupati Cirebon, Drs H Imron MAg mengatakan, sektor kebudayaan dan pariwisata mempunyai hubungan yang sangat erat. Kekayaan tradisi, kesenian, sejarah, hingga kearifan lokal merupakan modal penting untuk meningkatkan daya tarik Kabupaten Cirebon sebagai destinasi wisata.

Menurut Imron, festival budaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial atau pertunjukan seni. Lebih dari itu, kegiatan semacam ini menjadi ruang untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus melestarikan tradisi yang diwariskan para leluhur.

“Melalui tradisi Larum Cai, kita diajak untuk mensyukuri anugerah alam, menjaga kelestarian lingkungan, dan merawat budaya warisan leluhur,” ujar Imron dalam sambutannya.

Ia berharap Festival Budaya Cai Diraga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama melalui peningkatan aktivitas ekonomi lokal. Kehadiran pengunjung selama festival diharapkan mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Imron juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan festival. Dukungan tersebut datang dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas budaya, hingga masyarakat.

Penyelenggaraan Festival Budaya Cai Diraga 2026 sendiri memperoleh dukungan dari Kementerian Pariwisata melalui program Kharisma Event Nusantara, Kementerian Kebudayaan melalui program Indonesia Raya, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cirebon.

Tradisi Larum Cai Jadi Daya Tarik Utama Festival Cai Diraga

Sementara itu, Adyatama Parekraf Kementerian Pariwisata, Hana Marliana, mengapresiasi kolaborasi antara Pemkab Cirebon, Yayasan Midang Waringin Jati, dan berbagai elemen masyarakat dalam menyelenggarakan Festival Budaya Cai Diraga.

Ia menyebut keberhasilan festival tersebut masuk dalam KEN 2026 merupakan pencapaian penting. Sebab, program Kharisma Event Nusantara menetapkan 125 agenda terbaik di Indonesia melalui proses kurasi yang dilakukan oleh kurator independen.

“Selamat atas terpilihnya Festival Budaya Cai Diraga untuk pertama kalinya sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara 2026,” kata Hana.

Menurutnya, Festival Budaya Cai Diraga yang kini memasuki penyelenggaraan ketujuh memiliki kekuatan pada tradisi turun-temurun yang sarat makna. Tradisi tersebut menjadi bentuk ungkapan rasa syukur sekaligus penghormatan masyarakat terhadap alam sebagai sumber kehidupan.

Salah satu rangkaian yang menjadi daya tarik utama adalah prosesi penyatuan air dari sembilan sumber mata air. Prosesi ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang persatuan, keselarasan hubungan manusia dengan alam, serta rasa syukur atas karunia sumber kehidupan.

Nilai filosofis tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Festival Cai Diraga untuk dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya. Apalagi, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun memiliki keunikan dan karakter yang dapat menjadi pembeda dengan destinasi wisata lainnya.

Hana menilai, kekayaan tradisi seperti Larum Cai dapat memperkuat citra Kabupaten Cirebon sebagai daerah yang memiliki potensi wisata budaya dan religi.

Dampaknya pun tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kunjungan wisatawan. Festival budaya juga berpeluang menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan, kuliner, kerajinan, hingga industri kreatif masyarakat.

Karena itu, ia berharap seluruh pemangku kepentingan terus menjaga kolaborasi dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan Festival Budaya Cai Diraga pada tahun-tahun mendatang.

Promosi yang lebih luas juga dinilai penting agar festival tersebut semakin dikenal, tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga nasional.

Dengan masuknya Festival Cai Diraga ke dalam KEN 2026, Kabupaten Cirebon memiliki peluang lebih besar untuk mengangkat tradisi Larum Cai sebagai identitas budaya sekaligus produk wisata unggulan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pengakuan nasional tersebut memberikan dampak berkelanjutan. Mulai dari pelestarian tradisi, peningkatan kunjungan wisatawan, hingga terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Jika dikelola secara konsisten, Festival Budaya Cai Diraga berpotensi menjadi salah satu ikon wisata budaya Kabupaten Cirebon yang semakin dikenal di tingkat nasional. (yog)