Catat! Memayu Buyut Trusmi Digelar 1 November, Polisi Alihkan Arus Pantura Selama 12 Jam

Polresta Cirebon akan melukan rekayasa lalu linta pada tanggal 1 November 2026 karena ada Memayu Buyut Trusmi

CIREBON – Masyarakat yang hendak melintasi jalur Pantura Kabupaten Cirebon pada Minggu, 1 November 2026, perlu mengatur kembali jadwal perjalanan. Pasalnya, pelaksanaan tradisi Memayu Buyut Trusmi akan berdampak pada arus lalu lintas di kawasan Plered hingga Tengah Tani.

Satlantas Polresta Cirebon telah menyiapkan rekayasa lalu lintas berupa pengalihan arus kendaraan untuk mengantisipasi kepadatan selama berlangsungnya tradisi adat tahunan tersebut.

Pengalihan arus dijadwalkan mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Rekayasa lalu lintas ini mencakup ruas jalan dari kawasan Ramayana Plered, Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Raya Panembahan, hingga SPBU Tengah Tani.

Kasat Lantas Polresta Cirebon AKP Yudha Satyo Rahardjo mengimbau masyarakat, khususnya pengguna kendaraan roda empat, agar memilih jalur alternatif untuk menghindari titik-titik yang terdampak pengalihan arus.

Menurutnya, kendaraan roda empat disarankan memanfaatkan jalur tol sebagai pilihan perjalanan. Selain itu, jalur melalui Sumber juga bisa digunakan untuk menghindari kepadatan di kawasan Plered, Weru, dan Tengah Tani.

“Pengendara roda empat disarankan menggunakan jalur tol, sedangkan jalur melalui Sumber juga dapat menjadi alternatif perjalanan,” ujar Yudha, Kamis (29/10).

Ia menjelaskan, pengaturan lalu lintas tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan Memayu Buyut Trusmi. Tradisi yang berpusat di Kompleks Kramat Buyut Trusmi, Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, itu diperkirakan mengundang banyak pengunjung.

Salah satu kegiatan yang berpotensi menarik perhatian masyarakat adalah prosesi Ider-ideran atau arak-arakan budaya. Aktivitas tersebut diperkirakan meningkatkan mobilitas warga dan kendaraan di sekitar lokasi acara.

Karena itu, pengguna jalan yang biasa melintasi jalur Pantura Plered-Weru-Tengah Tani diharapkan sudah mempersiapkan rute perjalanan sebelum berangkat.

Polisi juga meminta masyarakat mengikuti petunjuk dan arahan petugas yang berjaga di lapangan. Langkah tersebut penting agar pengalihan arus berjalan tertib sekaligus mencegah penumpukan kendaraan di sejumlah persimpangan.

“Kami mengimbau masyarakat memeriksa rute sebelum bepergian dan mengatur waktu keberangkatan selama pengalihan arus berlangsung,” pungkasnya.

Memayu Buyut Trusmi, Tradisi Adat yang Sarat Nilai Sejarah

Memayu Buyut Trusmi merupakan tradisi tahunan masyarakat Cirebon yang menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada Ki Buyut Trusmi, tokoh yang dalam tradisi masyarakat setempat dikaitkan dengan penyebaran Islam dan perkembangan kerajinan batik di Cirebon.

Salah satu prosesi utama dalam tradisi tersebut adalah memayu, yaitu kegiatan mengganti atap bangunan makam menggunakan anyaman alang-alang yang dikenal dengan sebutan welit.

Prosesi penggantian atap ini dilakukan oleh juru kunci bersama para kemit atau penjaga kompleks keramat. Selain memiliki nilai budaya, kegiatan tersebut juga menjadi simbol kepedulian masyarakat dalam merawat peninggalan leluhur.

Rangkaian acara semakin semarak dengan prosesi Ider-ideran. Dalam arak-arakan tersebut, masyarakat dapat menyaksikan berbagai unsur budaya, mulai dari benda pusaka, sesepuh adat, pertunjukan seni tradisional, batik khas Trusmi, hingga hasil bumi.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi agenda kebudayaan masyarakat setempat, tetapi juga daya tarik wisata budaya Kabupaten Cirebon.

Dengan adanya rekayasa lalu lintas pada 1 November mendatang, masyarakat diharapkan tetap dapat beraktivitas dengan lancar. Pengguna jalan yang tidak memiliki kepentingan di sekitar lokasi kegiatan disarankan memilih jalur alternatif selama pengalihan arus berlangsung. (awr)