
MAJALENGKA – Desa Kedungsari, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, ditetapkan menjadi Kampung Sosial melalui program intervensi sosial terpadu yang digulirkan Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Barat, Selasa (27/10/2026).
Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat penanganan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi keluarga. Pelaksanaannya melibatkan pemerintah provinsi, kabupaten, kecamatan, pemerintah desa, serta komunitas masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Dinsos Jabar menghadirkan empat program utama, yakni Kampung Sosial, Jalan-Jalan Sosial, Modal Sosial, dan Kawal Bansos. Keempatnya dirancang untuk menjawab persoalan sosial masyarakat melalui pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga penguatan ekonomi produktif.
Melalui program Kampung Sosial, sebanyak 130 keluarga Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) menjadi sasaran intervensi. Dari jumlah tersebut, 50 keluarga menerima paket sembako untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Selain bantuan pangan, pemerintah juga menyalurkan alat bantu bagi warga yang membutuhkan. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat sekaligus meningkatkan akses terhadap pelayanan kesejahteraan sosial.
Tidak hanya berfokus pada bantuan langsung, Dinsos Jabar turut mendorong pemberdayaan ekonomi melalui program Modal Sosial. Dalam kegiatan ini, sebanyak 30 perempuan yang masuk kategori Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) mendapatkan bantuan peralatan usaha.
Bantuan tersebut diharapkan menjadi modal awal bagi para penerima untuk mengembangkan usaha produktif, meningkatkan pendapatan, serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya bergantung pada bantuan sosial, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membangun sumber penghasilan secara mandiri.
Tanam 150 Pohon Produktif, Warga Diajak Peduli Lingkungan
Aspek lingkungan juga menjadi bagian dari intervensi sosial di Desa Kedungsari. Melalui program Jalan-Jalan Sosial, kegiatan diisi dengan penyuluhan sosial dan penanaman 150 bibit pohon produktif.
Bibit yang ditanam terdiri dari 75 pohon petai dan 75 pohon mangga. Pelaksanaannya melibatkan Komunitas Peduli Lingkungan dan Budaya Desa Kedungsari.
Penanaman pohon produktif tersebut tidak hanya bertujuan mendukung kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang manfaat ekonomi bagi masyarakat dalam jangka panjang. Jika dirawat dengan baik, pohon-pohon itu berpotensi menghasilkan komoditas yang dapat dimanfaatkan warga.
Keterlibatan komunitas lokal juga menjadi bagian penting dalam membangun kepedulian bersama. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin aktif menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki desa.
Kawal Bansos agar Tepat Sasaran
Program keempat, Kawal Bansos, difokuskan pada pengawasan dan pendampingan penerima bantuan sosial. Petugas melakukan verifikasi data, memberikan edukasi, serta mendampingi keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu memastikan bantuan sosial tersalurkan kepada masyarakat yang berhak. Verifikasi data juga menjadi bagian penting dalam mendukung ketepatan sasaran program perlindungan sosial.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Iis Rostiasih, menegaskan bahwa penanganan persoalan sosial membutuhkan pendekatan komprehensif dan kolaborasi berbagai pihak.
Menurut dia, upaya mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan pemberian jaminan sosial. Diperlukan intervensi terpadu yang mampu menjawab kebutuhan warga sekaligus memperkuat kemampuan mereka untuk mandiri.
“Penanggulangan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masih perlu intervensi terpadu dan kolaborasi berbagai pihak,” ujar Iis.
Pemkab Majalengka Dorong Kemandirian Masyarakat
Hadir mewakili Bupati Majalengka, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Majalengka, Dr. H. Ida Heriyani, SKM., MH., mengapresiasi sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa dalam menjalankan program tersebut.
Menurut Ida, penanganan kemiskinan perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat agar warga mampu bangkit, mengembangkan potensi diri, dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga secara berkelanjutan.
“Penanganan kemiskinan tidak cukup hanya melalui pemberian bantuan, tetapi juga harus diarahkan pada peningkatan kemampuan masyarakat untuk bangkit, mengembangkan potensi, dan memperbaiki kondisi kesejahteraan keluarga,” kata Ida.
Sementara itu, Kuwu Desa Kedungsari, Eka Rasmika, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan pemerintah provinsi maupun kabupaten terhadap warganya.
Ia berharap bantuan peralatan usaha, pendampingan sosial, dan berbagai kegiatan pemberdayaan yang diberikan melalui program Kampung Sosial dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Penetapan Desa Kedungsari sebagai Kampung Sosial diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat penanganan masalah sosial secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi pemerintah dan partisipasi masyarakat, program ini diharapkan tidak hanya meringankan beban keluarga rentan, tetapi juga membuka peluang bagi warga untuk meningkatkan taraf hidup dan mencapai kemandirian ekonomi. (iim)















