Kenapa Kata “Aing-Manéh” Kini Makin Diterima? Budayawan Ungkap Makna di Baliknya

Penggunaan kata Aing Maneh dianggap sebagai simbol kesetaraan

MAJALENGKA – Bahasa Sunda tak sekadar menjadi alat komunikasi. Di tengah perubahan sosial masyarakat Jawa Barat, bahasa juga menjadi bagian dari perbincangan mengenai identitas, kesetaraan, hingga masa depan kebudayaan.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bertema “Aing Manéh, Hirup Kumbuh Wawasan Kasundaan Kiwari” yang digelar di Rumah Makan Omaopa, Jalan Satari, Majalengka, Sabtu (12/9/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan akademisi dan budayawan, salah satunya Prof. Dr. Yoyon Suryono. Sejumlah peserta turut menyampaikan pandangan mengenai perkembangan bahasa dan kebudayaan Sunda di tengah kehidupan masyarakat modern.

Salah seorang peserta, Oom Somara de Uci yang akrab disapa Agan Oom, mengatakan penggunaan kata aing dan manéh kini mengalami perubahan makna dalam ruang sosial.

Menurutnya, dua kata tersebut tidak lagi semata-mata dipahami sebagai bentuk bahasa percakapan sehari-hari. Lebih jauh, aing-manéh dapat menjadi simbol perubahan cara pandang masyarakat Sunda terhadap relasi sosial.

“Sekarang kata aing sudah bisa dipakai di mal. Akademis juga bisa,” ujarnya.

Oom menilai perubahan tersebut menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi instrumen kebudayaan untuk membongkar sekat sosial yang selama ini menciptakan jarak antarkelompok.

Aing-Manéh dan Gagasan Egaliter

Fenomena penggunaan aing-manéh di ruang publik, menurut Oom, juga terlihat dalam gaya komunikasi sejumlah tokoh, termasuk Dedi Mulyadi (KDM).

Gaya bahasa tersebut dinilai mampu menghadirkan komunikasi yang lebih dekat dan egaliter antara pemimpin dengan masyarakat.

“Dengan aing-manéh, nyaris semua orang menjadi egaliter,” katanya.

Namun, Oom mengingatkan agar fenomena itu tidak hanya dilihat sebagai gaya komunikasi seorang tokoh. Di balik penggunaan bahasa tersebut terdapat gagasan yang lebih besar, yakni kesetaraan dan kesempatan yang sama bagi masyarakat.

Ia menyebut kesamaan visi menjadi salah satu kekuatan yang dapat menggerakkan perubahan kebudayaan. Dukungan terhadap gagasan tersebut, kata dia, tidak harus lahir dari kedekatan personal.

“Visi itu yang menjadi amanatnya, jadi power-nya,” ujarnya.

Menurut Oom, kalangan akademisi, pengusaha, pemikir, seniman hingga budayawan dapat bergerak bersama selama memiliki tujuan yang sama.

“Kita sedang berusaha dalam satu garis, arus besarnya. Tinggal kita visinya sama, kenapa tidak?” katanya.

Kasundaan Jangan Berhenti di Filosofi

Oom melihat kondisi tersebut sebagai momentum untuk menghidupkan kembali wawasan Kasundaan dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Menurutnya, masyarakat Sunda memiliki banyak nilai, idiom, dan filosofi luhur. Namun, persoalannya adalah bagaimana nilai tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Ia menilai Kasundaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui kebanggaan terhadap bahasa, tradisi maupun simbol budaya.

Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan dan hubungan sosial.

“Nyaris ini persoalannya sama seperti agama. Idiom-idiomnya luhur, tetapi ketika diwujudkan agak berbenturan,” ujarnya.

Karena itu, wawasan Kasundaan kiwari perlu diarahkan menjadi etos kehidupan. Nilai keberanian, kesetaraan, kerja keras dan kesempatan yang sama harus menjadi bagian dari praktik kehidupan masyarakat.

Oom juga menilai semangat egalitarian bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam kebudayaan Sunda.

Menurutnya, nilai egaliter telah lama hidup dalam masyarakat Sunda, bahkan sebelum gagasan serupa berkembang luas di Eropa. Namun, perkembangan struktur sosial dan pengaruh feodalisme membuat nilai tersebut mengalami perubahan dalam perjalanan sejarah.

“Egaliter itu ternyata lebih dulu kita dibandingkan Eropa,” katanya.

Dari Bahasa ke Kepemimpinan

Karena itu, penggunaan aing-manéh di ruang publik dinilai memiliki makna lebih luas. Pilihan kata tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri sekaligus memosisikan orang lain.

Dalam diskusi tersebut, sosok Dedi Mulyadi juga dibicarakan sebagai salah satu figur Sunda yang membawa simbol-simbol Kasundaan ke ruang politik yang lebih luas.

Perkembangan itu dinilai menarik karena identitas Sunda kini tidak hanya menjadi pembicaraan di tingkat lokal, tetapi juga bersinggungan dengan persoalan kepemimpinan dan kehidupan kebangsaan.

Meski demikian, Oom mengingatkan agar kebangkitan identitas Sunda tidak berkembang menjadi sikap sektarian.

Sebaliknya, identitas budaya harus menjadi pijakan untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi Indonesia.

“Bukan lagi soal Sunda ingin menjadi pemimpin, tetapi filosofi itu memang mengharuskan seorang pemimpin tidak hanya terhadap wilayah sektarian, harus pada skup Nusantara besar,” katanya.

Dengan perspektif tersebut, Kasundaan tidak ditempatkan sebagai identitas eksklusif. Kasundaan justru diharapkan menjadi kekuatan budaya yang dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat dan bangsa.

“Aing Bisa” sebagai Semangat

Pada akhirnya, semangat yang dibicarakan dalam diskusi tersebut bermuara pada gagasan mengenai masyarakat yang lebih egaliter.

Setiap orang dinilai harus memiliki kesempatan untuk bekerja, berusaha dan berkembang tanpa terhambat sekat sosial maupun kepemilikan modal.

“Aing bisa. Aing bisa. Sumpah bisa,” ujar Oom.

Ungkapan tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai semangat percaya diri dan kesetaraan yang ingin dibangun.

Diskusi “Aing Manéh, Hirup Kumbuh Wawasan Kasundaan Kiwari” pun menjadi ruang refleksi mengenai posisi bahasa Sunda di tengah kehidupan kontemporer.

Bahasa tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga perlu terus dihidupkan dan diberi makna baru sesuai tantangan zaman.

Dari aing-manéh, pembicaraan kemudian berkembang menjadi persoalan yang lebih besar: bagaimana nilai Kasundaan diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan hingga kemanusiaan.

Pada titik itulah Kasundaan tidak berhenti sebagai identitas yang dibanggakan. Bahasa menjadi pintu masuk, kesetaraan menjadi nilai, sementara tindakan menjadi ukuran apakah wawasan Kasundaan benar-benar hidup di tengah masyarakat. (bae)