MAJALENGKA – Temuan tak biasa muncul di kawasan pemakaman umum Blok Danaraja, Desa Ampel, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka. Saat menggali liang makam, warga menemukan susunan bata kuno berukuran lebih besar dibandingkan bata modern yang diduga merupakan bagian dari struktur bangunan masa lalu.
Temuan tersebut bukan kali pertama terjadi. Setiap kali dilakukan penggalian makam di kawasan tersebut, warga kerap menemukan bata-bata kuno yang tersusun dalam pola tertentu.
Sejumlah susunan bata bahkan terlihat membentuk struktur menyerupai pagar, lantai, hingga bangunan melingkar. Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa kawasan tersebut menyimpan jejak peninggalan masa lalu yang belum teridentifikasi.
Ketua Grup Madjalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana, mengatakan informasi mengenai temuan bata kuno tersebut pertama kali diterimanya sekitar setahun lalu dari Apid, kuncen Kompleks Makam Buyut Giwang.
Menurut Nana, temuan serupa terus muncul ketika warga melakukan penggalian makam.
“Setiap kali menggali kuburan selalu ditemukan bata-bata kuno. Kadang tersusun seperti pagar, lantai, bahkan ada bangunan melingkar seperti meja,” kata Nana, Jumat (14/8/2026).
Penasaran dengan temuan tersebut, Nana kemudian mendatangi lokasi untuk melihat langsung struktur bata yang ditemukan warga. Dari pengamatannya, bata-bata tersebut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan material bangunan modern.
Temuan itu kemudian dilaporkan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Majalengka.
Pada Rabu (12/8/2026), tim Bagian Kebudayaan Disparbud bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) melakukan peninjauan ke lokasi.
Dalam peninjauan tersebut, tim kembali menemukan struktur bata kuno di sekitar galian sumur yang berada tidak jauh dari rumah warga. Susunan bata terlihat memanjang dan sekilas menyerupai struktur benteng.
Sampel bata dari lokasi juga telah diambil untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh Disparbud Kabupaten Majalengka.
Diduga Peninggalan Masa Lalu
Nana berharap temuan tersebut segera ditindaklanjuti melalui penelitian arkeologis untuk mengungkap usia, fungsi, serta asal-usul struktur bata tersebut.
Ia menilai, tanpa penelitian oleh ahli, belum dapat dipastikan apakah struktur itu merupakan bagian dari permukiman kuno, bangunan dari masa kolonial, atau peninggalan keagamaan seperti candi.
“Harapan saya, temuan ini segera ditindaklanjuti untuk dilakukan penelitian dan identifikasi. Apakah ini sisa bangunan penduduk zaman dulu atau sisa reruntuhan candi,” ujarnya.
Salah satu hal yang menurut Nana menarik adalah teknik penyusunan bata yang ditemukan di lokasi. Ia menyebut tidak terlihat adanya sisa kapur, adukan pasir, maupun semen pada struktur tersebut.
“Kalau bekas bangunan penduduk atau bangunan Belanda biasanya terdapat sisa kapur, adukan pasir, atau semen. Ini tidak ditemukan, hanya bata-bata yang disusun layaknya bangunan candi,” tuturnya.
Berada Dekat Pertemuan Dua Sungai
Selain karakteristik bata, kondisi geografis kawasan juga dinilai menarik. Lokasi temuan berada tidak jauh dari pertemuan aliran Sungai Cimanuk dan Sungai Cikeruh.
Keberadaan sungai pada masa lalu dapat menjadi faktor penting dalam perkembangan suatu kawasan karena berkaitan dengan ketersediaan air, jalur mobilitas, serta aktivitas masyarakat.
Namun, keberadaan struktur bata tersebut belum bisa langsung disimpulkan sebagai candi atau peninggalan tertentu.
Nana menegaskan, dugaan mengenai adanya bangunan kuno masih sebatas indikasi berdasarkan temuan di lapangan. Kepastian mengenai usia, fungsi, dan asal-usul struktur tersebut tetap harus menunggu hasil penelitian arkeologis.
Jika hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan bahwa struktur tersebut memiliki nilai sejarah atau budaya, temuan di Blok Danaraja berpotensi menjadi bagian penting dalam penelusuran sejarah kawasan Ligung dan Majalengka.(ono)
















