MAJALENGKA – Budidaya jangkrik ternyata bisa menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan. Hal itu dibuktikan Toto Rumanta, warga Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka.
Meski baru sekitar satu bulan menekuni usaha tersebut, Toto sudah mampu menghasilkan hingga 100 kilogram jangkrik dalam satu kali panen. Dari hasil budidaya itu, ia mengaku bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp3 juta.
Menariknya, usaha tersebut tidak membutuhkan modal besar. Toto mengawali budidaya jangkrik dengan modal sekitar Rp1 juta. Uang tersebut digunakan untuk membuat box atau kandang sebagai tempat pembesaran jangkrik.
Sementara untuk bibit, Toto memanfaatkan sistem kemitraan. Ia mendapatkan telur jangkrik dari mitra sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya khusus untuk membeli bibit.
“Modal awal Rp1 juta. Itu cuma untuk box-nya saja. Kalau jangkriknya menggunakan sistem kemitraan, kita dikasih telur dari mitra,” kata Toto kepada wartawan, Kamis (10/9/2026).
Saat ini, Toto memiliki sekitar 10 box yang digunakan untuk membesarkan jangkrik. Dalam satu siklus, ia menggunakan sekitar 2 kilogram telur jangkrik.
Menurutnya, proses budidaya dari telur hingga jangkrik siap dipanen membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Selama periode tersebut, perawatan jangkrik relatif sederhana dan tidak membutuhkan perlakuan yang rumit.
Salah satu perawatan rutin yang dilakukan adalah menyemprotkan air setiap hari. Air tersebut dibutuhkan sebagai sumber minum bagi jangkrik.
“Perawatannya simpel, paling menyemprot air setiap hari untuk minumnya. Tantangannya kalau banyak cicak, karena jangkriknya bisa dimakan,” ujarnya.
Selain gangguan predator, kebutuhan pakan juga menjadi bagian penting dalam proses pembesaran. Toto menggunakan pakan anak ayam yang dibelinya dengan harga sekitar Rp270 ribu per karung.
Dalam satu bulan, ia biasanya menyiapkan dua karung pakan. Namun, hingga memasuki masa panen, jumlah yang benar-benar digunakan rata-rata hanya sekitar satu setengah karung.
Untuk menunjang pertumbuhan, jangkrik juga mulai diberi rumput ketika memasuki usia sekitar 15 hari.
Setelah dipelihara selama kurang lebih satu bulan, jangkrik kemudian dipanen. Dalam satu siklus budidaya, Toto menyebut hasil panennya bisa mencapai sekitar 100 kilogram.
“Satu kali panen itu 100 kilogram. Keuntungannya sekitar Rp3 juta,” kata Toto.
Tidak Perlu Pusing Memasarkan Hasil Panen
Salah satu keuntungan yang dirasakan Toto dalam menjalankan usaha tersebut adalah adanya sistem kemitraan. Ia tidak perlu mencari pembeli sendiri setelah jangkrik memasuki masa panen.
Jangkrik yang telah siap dipanen akan diambil oleh mitra untuk kemudian dipasarkan sebagai pakan burung maupun ikan.
“Jangkriknya biasanya untuk pakan burung dan ikan. Kita hanya membesarkan saja. Kalau urusan penjualan, itu dari kemitraan kita,” jelasnya.
Mitra Toto adalah Dadan melalui usaha Humaira Bird Food yang berada di Desa Cisetu, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka.
Dengan pola tersebut, Toto bisa lebih fokus pada proses pembesaran jangkrik sejak telur hingga siap dipanen. Sementara pemasaran menjadi bagian dari mitra.
Meski baru berjalan sekitar satu bulan, Toto menilai budidaya jangkrik memiliki prospek yang cukup menarik sebagai sumber penghasilan tambahan.
Apalagi, usaha tersebut bisa dijalankan bersamaan dengan pekerjaan utamanya. Sehari-hari, Toto diketahui menjalankan usaha berjualan kerupuk.
“Ya, sangat menguntungkan untuk tambahan penghasilan. Saya sehari-hari usaha jualan kerupuk,” pungkasnya.
Kisah Toto menunjukkan bahwa budidaya jangkrik dapat menjadi salah satu pilihan usaha rumahan dengan modal relatif terjangkau. Dengan dukungan kemitraan, peternak cukup berkonsentrasi pada proses pembesaran hingga panen, sementara hasilnya dapat langsung diserap oleh mitra. (bae)














