
MAJALENGKA – Kabupaten Majalengka menghadapi ratusan kejadian bencana sepanjang 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka mencatat sedikitnya 343 peristiwa bencana terjadi sejak 1 Januari hingga 3 Oktober 2026.
Dari jumlah tersebut, bencana alam masih menjadi ancaman paling dominan. Tercatat sebanyak 326 kejadian bencana alam melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Majalengka.
Dari berbagai jenis bencana tersebut, tanah longsor atau pergerakan tanah menjadi kejadian yang paling sering terjadi. BPBD Majalengka mencatat sebanyak 160 kejadian longsor hingga awal Oktober 2026.
Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa wilayah dengan karakter geografis berupa perbukitan, lereng, dan dataran tinggi masih memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi.
Selain longsor, BPBD Majalengka mencatat 83 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kemudian terdapat 57 kejadian cuaca ekstrem atau angin kencang, 16 kejadian banjir, serta 10 kasus kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka, Agus Tamim, mengatakan kondisi geografis menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah wilayah di Majalengka memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.
Menurutnya, karakter wilayah Majalengka yang memiliki kawasan pegunungan, dataran tinggi, hingga lereng dengan kemiringan cukup terjal membuat potensi pergerakan tanah perlu mendapat perhatian serius.
“Kecamatan di kawasan dataran tinggi seperti Lemahsugih, Bantarujeg, Argapura, hingga Majalengka menjadi beberapa wilayah dengan frekuensi kejadian bencana cukup tinggi,” kata Agus Tamim, Sabtu (3/10).
17 Bencana Non-Alam
Selain bencana alam, BPBD Kabupaten Majalengka juga mencatat 17 kejadian bencana non-alam sepanjang periode yang sama.
Dari jumlah tersebut, sebanyak delapan kejadian merupakan kebakaran bangunan atau permukiman warga. Sementara sembilan kejadian lainnya masuk dalam kategori bencana non-alam lainnya.
Dengan demikian, total laporan kejadian yang diterima Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Majalengka mencapai 343 laporan.
Dari ratusan laporan tersebut, tim reaksi cepat BPBD telah melakukan penanganan terhadap 342 kejadian. Sementara satu laporan masih dalam tahap penyelesaian penanganan.
Besarnya jumlah kejadian bencana tersebut membuat BPBD Majalengka terus memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Langkah pencegahan tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi juga melalui edukasi kepada masyarakat, pemetaan kawasan rawan bencana, serta peningkatan kemampuan warga dalam menghadapi kondisi darurat.
Agus mengatakan penanganan bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kesiapsiagaan masyarakat di tingkat lingkungan menjadi salah satu faktor penting untuk mengurangi dampak ketika bencana terjadi.
“Upaya pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan terus kami optimalkan bersama seluruh elemen masyarakat demi mewujudkan Majalengka yang aman dan tangguh bencana,” pungkasnya.
Dengan masih adanya potensi cuaca ekstrem dan perubahan kondisi lingkungan, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan deras berlangsung dalam waktu cukup lama. (iim)















