Kekeringan di Argasunya, BPBD Distribusi Air Bersih untuk 5.914 Warga

BPBD Kota Cirebon distribusikan air bersih untuk 1.776 KK atau 5.914 warga Argasunya yang terdampak kekeringan.

CIREBON – Kekeringan yang melanda Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, membuat ribuan warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut mendapat perhatian Pemerintah Kota Cirebon melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

BPBD Kota Cirebon terus melakukan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak kekeringan. Bantuan dilakukan secara rutin dengan melibatkan sejumlah instansi dan elemen masyarakat.

Plt Kalak BPBD Kota Cirebon Eko Kuswantoro mengatakan, penyaluran air bersih merupakan bentuk respons pemerintah terhadap kebutuhan warga yang terdampak kekeringan.

Menurutnya, bantuan diberikan berdasarkan kondisi di lapangan. Pemerintah memastikan warga yang mengalami kesulitan air bersih mendapatkan bantuan tanpa membedakan wilayah maupun kelompok masyarakat.

“Yang kami lakukan adalah membantu warga Argasunya yang terdampak kekeringan. Tidak ada tebang pilih. Semua masyarakat yang memang terdampak kekeringan akan dibantu oleh Pemerintah Kota Cirebon,” ujar Eko, Rabu (7/10).

Berdasarkan pendataan BPBD, dampak kekeringan di Kelurahan Argasunya saat ini mencakup 1.776 kepala keluarga (KK) atau sekitar 5.914 jiwa.

Jumlah tersebut menjadi sasaran pelayanan distribusi air bersih selama kondisi kekeringan masih berlangsung.

Eko menjelaskan, penanganan kekeringan tersebut merupakan tindak lanjut dari kebijakan Wali Kota Cirebon melalui Surat Keputusan (SK) Siaga Hidrometeorologi Kering.

Dalam pelaksanaannya, bantuan air bersih berasal dari PDAM atas perintah Wali Kota Cirebon. BPBD kemudian berkoordinasi dengan berbagai pihak agar distribusi air dapat menjangkau lokasi warga yang membutuhkan.

Sejumlah unsur yang terlibat dalam penanganan tersebut antara lain PDAM, BPBD, Damkar, DPRKP, PMI, Korpri, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kodim 0614 Kota Cirebon, serta Polytama Propindo.

Koordinasi lintas instansi tersebut dinilai penting karena kebutuhan air bersih cukup besar, sementara distribusi harus dilakukan secara bertahap sesuai kondisi dan permintaan masyarakat.

“Alhamdulillah, koordinasi dengan PDAM dan jajaran lainnya sangat kooperatif dan sangat membantu. Kami bersama-sama memastikan bantuan air bisa sampai kepada masyarakat,” kata Eko.

Warga Bisa Ajukan Bantuan Air Bersih

Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan, mekanisme pengajuannya dibuat cukup sederhana. Warga dapat menyampaikan laporan terlebih dahulu melalui pengurus RT atau RW setempat.

Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada pihak kelurahan untuk selanjutnya disampaikan kepada BPBD Kota Cirebon.

Setelah menerima laporan, BPBD akan menyampaikan kondisi tersebut kepada Wali Kota. Selanjutnya, Wali Kota memberikan instruksi kepada PDAM untuk menyiapkan pasokan air bersih dengan berkoordinasi bersama BPBD.

“Prosesnya sederhana. Masyarakat melapor melalui RT atau RW, kemudian kelurahan menginformasikan kepada BPBD. Setelah itu, kami membuat jadwal pengiriman air,” jelasnya.

Distribusi air bersih dilakukan secara rutin dari Senin hingga Sabtu. Pengiriman bahkan berlangsung hampir setiap hari menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan kondisi di lapangan.

Meski distribusi terus dilakukan, BPBD masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya keterbatasan armada tangki air yang digunakan untuk mengirimkan bantuan ke berbagai titik.

Selain armada, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) juga menjadi tantangan dalam memastikan pelayanan berjalan maksimal.

“Memang kendalanya kami kekurangan armada tangki air dan SDM. Karena itu, kami membutuhkan dukungan dan koordinasi dari semua pihak agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan,” ungkap Eko.

Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, Wali Kota Cirebon juga meminta camat dan lurah ikut mengawal proses pendistribusian air bersih hingga ke lokasi warga.

Langkah tersebut dilakukan agar bantuan tidak hanya berhenti di titik distribusi, tetapi benar-benar diterima masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.

Eko menyebutkan, bantuan air yang disalurkan setidaknya dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga sehari-hari. Meskipun belum menyelesaikan persoalan kekeringan secara keseluruhan, pasokan air tersebut sangat membantu masyarakat dalam menjalankan aktivitas harian.

“Alhamdulillah, masyarakat menyampaikan sangat terbantu. Memang belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan kekeringan, tetapi minimal untuk kebutuhan hidup sehari-hari mereka sudah bisa terpenuhi,” tuturnya.

Tak Hanya Distribusi Air

Penanganan dampak kekeringan di Argasunya tidak hanya dilakukan melalui pengiriman air menggunakan armada tangki.

Pemerintah juga memberikan bantuan berupa torn air dan membuat bak penampungan untuk membantu masyarakat menyimpan pasokan air yang telah didistribusikan.

Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat turut dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadapi kondisi kekeringan.

BPBD berharap berbagai langkah tersebut dapat membantu warga memenuhi kebutuhan air bersih selama kondisi kekeringan masih berlangsung.

Dengan jumlah warga terdampak mencapai 5.914 jiwa, koordinasi antarlembaga menjadi salah satu faktor penting agar distribusi air bersih dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Harapannya, masyarakat bisa terbantu dan kebutuhan air bersih mereka tetap terpenuhi selama kondisi kekeringan berlangsung,” pungkas Eko. (its)