CIREBON – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tidak sekadar soal jualan. Di baliknya ada perjuangan untuk bertahan, bangkit, dan tumbuh bersama.
Semangat tersebut dibawa Forum UMKM Cakrabuana melalui Cakrabuana Karnaval dalam rangka memeriahkan Hari UMKM Nasional 2026.
Ketua UMKM Cakrabuana, Muhammad Idrus, mengatakan momentum Hari UMKM Nasional bukan sekadar perayaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi sekaligus memperkenalkan potensi produk lokal Cirebon.
“Forum UMKM Cakrabuana sendiri lahir setelah pandemi Covid-19. Ketika aktivitas ekonomi lesu dan banyak pelaku UMKM kehilangan pasar, sejumlah pelaku usaha memilih tidak tinggal diam,” ujar pria yang akrab disapa Gus Idrus itu kepada Radar Cirebon, Kamis (13/8).
Dari kondisi tersebut, para pelaku UMKM kemudian membentuk forum yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga membangun kekuatan bersama.
“Tidak hanya sebatas profit-oriented. Kami ingin menggabungkan energi potensi insaniyah dengan energi potensi ilahiyah,” katanya.
Enam tahun berjalan, Forum UMKM Cakrabuana kini telah mendampingi lebih dari 100 pelaku UMKM. Sedikitnya 103 produk telah dibina, mulai dari usaha yang sebelumnya belum memiliki produk hingga yang telah mengantongi berbagai legalitas, seperti P-IRT, NIB, dan sertifikasi halal.
“Angkanya memang belum sebesar perusahaan besar. Tetapi jika dikumpulkan, denyut ekonominya cukup terasa,” tuturnya.
Gus Idrus memperkirakan, perputaran uang dari komunitas UMKM Cakrabuana dapat mencapai lebih dari Rp1 miliar setiap bulan.
Salah satu contohnya adalah produk olahan bandeng yang produksinya mencapai 10 hingga 20 kilogram per hari. Hal serupa juga dilakukan pelaku usaha rengginang yang mampu memproduksi hingga 20 kilogram per hari.
“Kalau dihitung dari seluruh produk yang ada, saya meyakini perputaran keuangan komunitas UMKM Cakrabuana dalam satu bulan bisa mencapai Rp1 miliar lebih,” katanya.
Sejumlah produk, lanjut Gus Idrus, bahkan dinilai telah cukup siap untuk menembus pasar nasional. Beberapa di antaranya yakni bandeng gepuk, rengginang, serta siwang atau terasi bawang.
Namun, tantangan produksi masih menjadi persoalan yang harus dihadapi. Salah satunya dialami pelaku usaha rengginang yang bergantung pada sinar matahari untuk proses penjemuran.
“Rengginang misalnya, membutuhkan sinar matahari untuk proses penjemuran. Ketika musim hujan datang, produksi ikut tersendat,” paparnya.
Di sisi lain, dukungan pemerintah saat ini dinilai masih lebih banyak berupa fasilitasi perizinan. Sementara untuk pembiayaan, Forum UMKM Cakrabuana masih mengandalkan kekuatan internal komunitas.
Ke depan, Gus Idrus berharap produk-produk UMKM Cakrabuana tidak berhenti pada inovasi, tetapi juga dapat dipertemukan dengan pemerintah, reseller, investor, hingga pasar nasional.
Sementara itu, Kepala Dinkop dan UKM Kabupaten Cirebon, Alex Suheriyawan, mengatakan geliat UMKM memiliki kontribusi besar terhadap pergerakan ekonomi masyarakat.
“Berdasarkan data BPS, kontribusi UMKM terhadap perekonomian masyarakat disebut mencapai sekitar 97 persen,” katanya.
Karena itu, membeli produk UMKM bukan sekadar transaksi jual beli. Di dalamnya terdapat mata rantai ekonomi yang ikut bergerak, mulai dari menjaga keberlangsungan usaha, membuka peluang kerja, hingga memperkuat ekonomi di lingkungan sekitar.
“Dengan membeli produk UMKM, masyarakat turut membantu menghidupkan usaha, membuka peluang kerja, dan memperkuat perekonomian di lingkungan sekitar,” pungkasnya. (sam)
















