Tak Lagi Andalkan Buku Tulis, Bank Sampah di Cirebon Kini Punya Aplikasi Digital

Rumah Zakat dan Climato meluncurkan aplikasi Bank Sampah di Cirebon untuk digitalisasi pencatatan, sistem poin, monitoring, dan pengelolaan sampah warga.

CIREBON – Pengelolaan sampah di tingkat masyarakat kini mulai memasuki babak baru. Rumah Zakat menggandeng Climato meluncurkan aplikasi Bank Sampah untuk mendigitalisasi pencatatan sekaligus mempermudah pemantauan aktivitas bank sampah.

Aplikasi tersebut resmi diperkenalkan di Kota Cirebon, Selasa (15/9/2026), yang sekaligus ditetapkan sebagai lokasi awal pilot project program tersebut.

Selama ini, Rumah Zakat tidak hanya menjalankan aktivitas penghimpunan dan penyaluran dana zakat. Lembaga tersebut juga memiliki berbagai program pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui pengembangan bank sampah.

Branch Manager Rumah Zakat Cirebon, Aris Ristian, mengatakan kerja sama dengan Climato dilakukan untuk mengoptimalkan sistem pencatatan dan pengelolaan sampah yang selama ini berjalan di sejumlah unit bank sampah.

Menurut Aris, digitalisasi dibutuhkan agar aktivitas bank sampah dapat tercatat secara lebih terstruktur. Masyarakat juga nantinya bisa mengetahui perkembangan tabungan sampah yang mereka miliki.

“Kota Cirebon dipilih sebagai lokasi awal untuk pelaksanaan proyek percontohan program ini,” ujar Aris.

Ia berharap penggunaan aplikasi tersebut dapat membuat pengelolaan bank sampah menjadi lebih optimal, sekaligus memberikan akses informasi yang lebih mudah kepada masyarakat.

Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Digital

Direktur Chief Impact and Sustainability Rumah Zakat, Landung Tri Sugiarto, menjelaskan aplikasi Bank Sampah dibuat untuk menjawab berbagai tantangan pengelolaan sampah melalui pemanfaatan teknologi digital.

Salah satu fokus utama aplikasi tersebut adalah memperbaiki sistem pencatatan. Setiap aktivitas penimbangan dan pengelolaan sampah diharapkan dapat terdokumentasi secara lebih akurat dan rapi.

Selain pencatatan, aplikasi juga dirancang untuk mengintegrasikan berbagai pemangku kepentingan. Nasabah, pengelola bank sampah, lembaga pembina, hingga pemerintah dapat memiliki data yang lebih terukur untuk memantau perkembangan program.

“Tujuan utamanya untuk pencatatan yang lebih baik serta memastikan seluruh aktivitas pencatatan sampah yang dilakukan oleh bank sampah terekam dengan lebih akurat dan rapi,” kata Landung.

Data tersebut nantinya dapat digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan sekaligus mengevaluasi kinerja masing-masing unit bank sampah.

Saat ini, aplikasi masih dalam tahap uji coba di Kota Cirebon. Jika pelaksanaannya dinilai efektif, Rumah Zakat berencana mengembangkan model tersebut agar dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai daerah di Indonesia.

Dorong Konsep Green Zakat

Landung mengatakan digitalisasi bank sampah juga menjadi bagian dari upaya Rumah Zakat memperkuat kontribusi zakat terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang ditargetkan hingga 2030.

Salah satu perhatian yang didorong melalui program tersebut adalah persoalan perubahan iklim dan pengelolaan limbah berbasis pemberdayaan masyarakat.

Rumah Zakat kini mengembangkan program Green Zakat sebagai bagian dari respons terhadap tantangan lingkungan global.

Melalui program tersebut, masyarakat didorong untuk memulai pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Pemilahan sampah sejak dari sumber diharapkan dapat mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Aplikasi Bank Sampah kemudian menjadi salah satu instrumen digital untuk mendukung gerakan tersebut.

Sejumlah fitur yang ditawarkan antara lain sistem poin bagi nasabah yang menabung sampah. Poin yang diperoleh dapat ditukarkan dengan berbagai kebutuhan melalui warung atau UMKM yang berada di sekitar masyarakat.

Konsep tersebut sekaligus diarahkan untuk mendorong terbentuknya ekonomi sirkular atau circular economy di tingkat lokal.

Dengan mekanisme tersebut, sampah tidak hanya dipandang sebagai barang yang harus dibuang, tetapi juga dapat memiliki nilai ekonomi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain itu, sistem digital diharapkan mampu menghasilkan data yang lebih presisi mengenai volume sampah rumah tangga yang berhasil dikelola.

“Program ini diharapkan dapat menjadi leverage sekaligus percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia,” kata Landung.

Ia menilai sinergi antara pemerintah, dinas terkait, pegiat lingkungan, lembaga pembina, dan masyarakat menjadi faktor penting agar persoalan sampah dapat ditangani dari hulu hingga hilir.

Sebelum sistem digital diterapkan, sampah yang telah dipilah dan dikumpulkan melalui program Rumah Zakat dikelola melalui kerja sama dengan pihak industri.

Sebagian sampah diolah langsung di pabrik. Sementara sebagian lainnya dimanfaatkan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, termasuk pembuatan kerajinan tangan atau handicraft yang kemudian digunakan sebagai cendera mata bagi para donatur.

Atasi Masalah Pencatatan Manual

Pendiri Climato, Muhammad Riswanda Napriansyah, mengatakan aplikasi Bank Sampah dikembangkan untuk membantu pegiat bank sampah mengelola data administrasi dan operasional secara lebih modern.

Menurut dia, pertumbuhan jumlah bank sampah dan nasabah selama ini belum sepenuhnya diikuti sistem pencatatan yang memadai.

Di sejumlah tempat, pencatatan masih dilakukan secara manual menggunakan buku tulis. Sistem tersebut memiliki sejumlah risiko, terutama ketika dokumen hilang, rusak, atau mengalami kerusakan akibat terkena air.

Tidak hanya itu, data aktivitas bank sampah dari tahun ke tahun juga berpotensi tidak terdokumentasi dengan baik.

“Melalui aplikasi Bank Sampah dari Climato, seluruh data kini dapat direkap secara rapi, terpusat, dan terpantau secara real-time,” ujar Riswanda.

Aplikasi tersebut menyediakan sejumlah fitur untuk membantu operasional bank sampah.

Di antaranya pendataan nasabah yang memungkinkan pengelola mengetahui jumlah nasabah aktif pada masing-masing unit.

Kemudian terdapat fitur rekapitulasi sampah yang mencatat hasil penimbangan sampah dari para nasabah.

Fitur lainnya adalah pencatatan keuangan untuk merekam pendapatan yang diperoleh bank sampah. Rumah Zakat sebagai lembaga pembina juga dapat melakukan monitoring terhadap perkembangan masing-masing unit yang berada di bawah naungannya.

Bagi Rumah Zakat, data digital tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dalam menentukan program pengembangan berikutnya.

Unit bank sampah yang menunjukkan pertumbuhan dapat dipetakan, sementara unit yang masih menghadapi kendala dapat memperoleh perhatian dan pendampingan lebih lanjut.

Dengan demikian, strategi pengembangan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing unit, baik yang telah mandiri maupun yang masih berada dalam tahap rintisan.

Pengalaman Program Sampah Berhadiah

Direktur Radar Cirebon, Yuda Sanjaya, mengapresiasi peluncuran aplikasi tersebut sebagai inovasi untuk memperkuat gerakan peduli sampah di masyarakat.

Menurut Yuda, pemanfaatan teknologi digital dapat membuat aktivitas pengelolaan sampah lebih praktis, transparan, sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Langkah ini diharapkan mampu mempermudah warga dalam mengelola, menyetor, dan mendaur ulang sampah rumah tangga secara lebih efektif, transparan, dan bernilai ekonomis,” ujarnya.

Yuda mengatakan, inovasi tersebut juga sejalan dengan sejumlah program kepedulian lingkungan yang sebelumnya telah dijalankan.

Radar Cirebon sebelumnya pernah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon melalui program Sampah Berhadiah Emas yang diperkenalkan kepada masyarakat.

Program tersebut dilakukan dengan pendekatan langsung ke desa-desa. Sosialisasi dilakukan melalui berbagai cara, termasuk pengumuman menggunakan pengeras suara masjid atau woro-woro, serta melibatkan pengurus RW dan pemerintah setempat.

Pendekatan tersebut dinilai membantu memperluas jangkauan program sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah.

Dalam konsep pengelolaan berbasis aplikasi, proses penyetoran sampah juga dirancang lebih praktis.

Warga membawa sampah rumah tangga yang telah dipilah ke titik layanan untuk kemudian ditimbang dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya.

Sampah yang disetorkan kemudian dihargai sesuai jenis dan beratnya. Selain itu, transaksi juga dapat dikonversi menjadi nomor kupon undian.

Berbagai hadiah seperti penanak nasi atau peralatan elektronik dapat diberikan sebagai tambahan insentif dalam program tersebut.

Yuda menilai antusiasme masyarakat terhadap program pengelolaan sampah cukup tinggi. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar partisipasi tersebut tidak berhenti sebagai program sesaat.

“Harapannya, melalui kemudahan yang ditawarkan oleh Aplikasi Bank Sampah, semangat dan konsistensi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dapat terus terjaga dalam jangka panjang,” pungkasnya. (abd)