CIREBON – Setelah 12 tahun menanti, SMP Negeri 7 Kota Cirebon kembali meraih penghargaan bergengsi Adiwiyata Mandiri tingkat nasional. Prestasi tersebut menjadi penanda kebangkitan budaya peduli lingkungan yang terus dibangun di sekolah tersebut.
Piala Adiwiyata Mandiri diserahkan kepada Kepala SMPN 7 Kota Cirebon, Dra. Euis Sulastri, M.Pd., dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Stadion Madya Bima, Kota Cirebon, Senin (17/8/2026).
Euis mengaku bersyukur atas keberhasilan SMPN 7 kembali meraih penghargaan tertinggi dalam program Adiwiyata setelah terakhir kali mendapatkannya pada 2012.
“Alhamdulillah, SMP 7 pada akhirnya berhasil membawa kembali piala Adiwiyata Mandiri setelah 12 tahun kosong. Dulu tahun 2012 pernah ada, lalu kosong, dan alhamdulillah kami bisa kembali membawa piala Adiwiyata Mandiri,” ujar Euis kepada Radar Cirebon seusai menerima penghargaan.
Menurut Euis, pencapaian tersebut tidak diraih secara instan. SMPN 7 Cirebon harus melalui proses panjang selama sekitar enam tahun, dimulai sejak 2020.
Perjalanan tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari mengikuti penilaian Adiwiyata tingkat kota, tingkat provinsi, hingga Adiwiyata tingkat nasional. Setelah melalui berbagai tahapan tersebut, SMPN 7 akhirnya berhasil mencapai predikat Adiwiyata Mandiri pada 2026.
“Prosesnya memang tidak sebentar. Kami mulai sejak 2020 dan terus berproses sampai akhirnya bisa mendapatkan Adiwiyata Mandiri,” jelasnya.
Tak Hanya Fokus pada Lingkungan Sekolah
Euis menjelaskan, keberhasilan SMPN 7 menjadi sekolah Adiwiyata Mandiri tidak hanya ditentukan oleh program lingkungan di dalam sekolah.
Sebagai sekolah pengimbas, SMPN 7 juga aktif mendorong kepedulian terhadap lingkungan di luar lingkungan sekolah. Edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan, serta membangun budaya peduli lingkungan turut diberikan kepada masyarakat sekitar.
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan SMPN 7 meraih predikat Adiwiyata Mandiri tingkat nasional.
“Yang kami lakukan bukan hanya di internal sekolah. Kami juga menjadi sekolah pengimbas dengan memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai pentingnya mencintai dan menjaga lingkungan,” ungkap Euis.
Ia menilai, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari keterlibatan seluruh warga sekolah. Guru, siswa, orang tua hingga komite sekolah memiliki peran dalam membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.
Penguatan Karakter Jadi Kunci
Selain berbagai program lingkungan, penguatan karakter siswa menjadi salah satu kunci utama yang diterapkan SMPN 7 Cirebon.
Nilai kepedulian, kecintaan terhadap lingkungan dan keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan ekologis terus ditanamkan dalam keseharian. Dengan begitu, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai program sekolah, tetapi diharapkan menjadi bagian dari karakter peserta didik.
Euis berharap penghargaan Adiwiyata Mandiri yang kembali diraih setelah 12 tahun tersebut tidak menjadi akhir dari perjuangan. Sebaliknya, penghargaan itu diharapkan semakin memperkuat komitmen seluruh warga SMPN 7 untuk mempertahankan budaya sekolah yang peduli terhadap lingkungan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini mendukung perjalanan SMPN 7 menuju Adiwiyata Mandiri.
“Terima kasih kepada guru-guru, siswa, orang tua dan komite sekolah yang selama ini mendukung penuh program SMPN 7 Kota Cirebon menjadi sekolah Adiwiyata Mandiri,” pungkasnya. (abd)













