MAJALENGKA – Kemampuan menulis dinilai semakin penting di tengah derasnya arus informasi pada era digital. Keterampilan tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh wartawan, tetapi juga menjadi modal bagi para pemuda dan kader organisasi untuk menyampaikan gagasan secara efektif di ruang publik.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Ngobrol Pintar (Ngopi) yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Majalengka bersama Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) di Saung Eurih, Sabtu (15/8).
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi untuk memperkuat sinergi antarlembaga sekaligus mendorong peningkatan literasi media, khususnya di kalangan pemuda dan alumni organisasi.
Ketua PA GMNI Jawa Barat, DR Hj Ineu Purwadewi Sundari SSos MM, mengatakan perubahan pola komunikasi di era digital membuat kemampuan menulis semakin dibutuhkan. Menurutnya, alumni GMNI yang kini tersebar di berbagai bidang harus mampu menggunakan cara-cara kreatif untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi masyarakat.
“Tantangan penulisan saat ini lebih berat karena harus mampu menyesuaikan dengan karakter media sosial. Kemampuan menulis menjadi modal penting agar ide dan kritik yang disampaikan tetap konstruktif,” ujar Ineu.
Ineu menilai media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh sekaligus menyebarkan informasi. Kondisi tersebut memberikan peluang besar bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi yang tidak akurat dan kurang memperhatikan etika.
Karena itu, kemampuan mengolah informasi, menulis secara bertanggung jawab, serta memahami karakter setiap platform digital dinilai menjadi bagian penting dari literasi media.
Dalam kesempatan yang sama, Ineu yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi PDIP DPRD Jawa Barat turut menyinggung kondisi keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menurut dia, pemerintah daerah saat ini tengah melakukan efisiensi anggaran sehingga sejumlah kegiatan harus disesuaikan.
Meski demikian, Ineu memastikan sejumlah program strategis yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat tetap menjadi perhatian. Salah satunya pengalokasian anggaran sekitar Rp4 triliun untuk perbaikan infrastruktur jalan di berbagai wilayah Jawa Barat.
“Kita tetap mendorong program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, meskipun dalam kondisi efisiensi anggaran,” katanya.
Ketika ditanya mengenai dinamika politik dan kemungkinan pencalonan pada periode mendatang, Ineu memilih tidak banyak berspekulasi. Ia menegaskan saat ini lebih memprioritaskan aktivitas turun langsung ke masyarakat.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi masyarakat membutuhkan perhatian dan kerja nyata. Sementara mengenai rencana pencalonan kembali di tingkat legislatif maupun eksekutif, Ineu mengatakan belum menjadi fokusnya saat ini.
Sementara itu, Ketua PA GMNI Majalengka, Andika, mengatakan pihaknya terbuka untuk memfasilitasi kader yang memiliki ketertarikan terhadap dunia jurnalistik dan penulisan.
Andika melihat pola penyampaian informasi telah mengalami perubahan besar. Jika dahulu aktivitas menyampaikan gagasan lebih banyak dilakukan melalui pola pergerakan konvensional, kini ruang digital memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk memproduksi dan mendistribusikan konten.
Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diikuti pemahaman mengenai etika dan aturan dalam menyampaikan informasi.
“Kita ingin kader memiliki kemampuan menyampaikan gagasan secara baik, termasuk memahami etika jurnalistik dan aturan yang berlaku di ruang digital,” ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari Ketua PWI Majalengka, Pai Supardi SPdI MPd. Ia berharap Sekretariat PWI Majalengka tidak hanya menjadi tempat bagi wartawan menyusun berita, tetapi juga berkembang sebagai ruang diskusi yang terbuka bagi berbagai kalangan.
Menurut Pai, ruang diskusi semacam itu penting untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam membahas persoalan publik. Dari forum tersebut diharapkan lahir gagasan dan solusi yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“PWI juga membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga guna mendukung pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang berdampak pada peningkatan insentif para jurnalis,” pungkasnya.
Kegiatan Ngopi PWI dan PA GMNI Majalengka tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara organisasi profesi dan organisasi kemasyarakatan dalam memperkuat budaya literasi. Di tengah cepatnya produksi informasi digital, kemampuan menulis secara kritis, berimbang, dan bertanggung jawab menjadi bekal penting bagi generasi muda. (iim)
















