Mengenal Tari Belentung Jatitujuh Majalengka, Terinspirasi Kodok dan Alam

Tari Belentung, jadi simbol kecemasan alam yang tergerus pembangunan

MAJALENGKA – Di balik gerakannya yang energik dan riang, Tari Belentung menyimpan pesan tentang kegelisahan masyarakat Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, terhadap perubahan lingkungan dan kehidupan sosial akibat pembangunan.

Tari Belentung merupakan karya kreasi tradisi yang lahir ketika wilayah utara Majalengka mulai mengalami pergeseran dari kawasan agraris menuju kawasan industri. Perubahan tersebut memunculkan keresahan di kalangan seniman karena dikhawatirkan mengikis identitas masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan sawah dan pertanian.

Salah seorang pencipta Tari Belentung, Ocky Sandi, mengatakan tarian tersebut lahir dari keresahannya melihat perubahan yang terjadi di Jatitujuh dan wilayah sekitarnya.

“Tari Belentung ini lahir dari keresahan saya ketika kami menghadapi babak atau peradaban baru di Kabupaten Majalengka. Wilayah utara Majalengka tengah menuju kawasan industri, padahal selama ini dikenal sebagai daerah agraris,” kata Ocky.

Meski lahir dari kegelisahan terhadap perubahan lingkungan, Tari Belentung bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan. Karya tersebut menjadi cara para seniman menyampaikan pesan agar kebudayaan dan identitas masyarakat tetap dirawat di tengah perubahan zaman.

“Kami tidak menolak pembangunan. Namun, di tengah perubahan yang terjadi, kami ingin budaya yang selama ini menjadi bagian dari identitas masyarakat tetap dirawat dan dilestarikan,” ujarnya.

Tari Belentung merupakan karya kolaboratif. Ocky Sandi menyusun naskah, Ecin Kuraisin menciptakan gerakan, sedangkan musik pengiring digarap Komunitas Konser Kampung.

Ocky menjelaskan, Tari Belentung memiliki dua sisi utama, yakni kecemasan dan kebahagiaan. Sisi kecemasan merepresentasikan perubahan kehidupan masyarakat dari agraris menuju industri yang berpotensi mengurangi lahan pertanian.

“Tari Belentung memiliki dua wajah, yakni kecemasan dan kebahagiaan. Kecemasan itu berkaitan dengan peralihan zaman yang berpotensi mengikis lahan-lahan pertanian,” tuturnya.

Sementara sisi kebahagiaan menggambarkan kehidupan masyarakat agraris yang menyambut datangnya musim hujan dan musim tanam dengan penuh suka cita.

“Tari ini juga menggambarkan kebahagiaan. Biasanya ditampilkan untuk menyambut musim hujan atau musim tanam,” katanya.

Secara keseluruhan, Tari Belentung terdiri atas 14 gerakan. Sebanyak tujuh gerakan menggambarkan hubungan manusia dengan alam, sedangkan tujuh gerakan lainnya merepresentasikan hubungan manusia dengan Tuhan.

Puncak tarian ditandai dengan gerakan yang menyerupai orang sedang berdzikir. Gerakan tersebut menyiratkan pesan bahwa perjalanan manusia pada akhirnya bermuara kepada Tuhan melalui kebudayaan.

Tari Belentung tercipta pada 2018 setelah melalui proses kreatif hampir dua tahun. Proses tersebut mencakup penyusunan naskah, pengembangan teater tubuh dan drama tubuh, hingga penciptaan gerakan tari.

“Garapan Tari Belentung memakan waktu hampir dua tahun dan tercipta pada 2018. Prosesnya mencakup penyusunan naskah, pengembangan teater tubuh dan drama tubuh, hingga penciptaan gerak tari,” ujar Ocky.

Dalam perkembangannya, Tari Belentung kemudian diperkenalkan kepada masyarakat luas. Pada 2018, tarian tersebut pernah dicatat dalam Rekor RHR setelah ditampilkan secara massal oleh sekitar 2.700 orang dalam Festival Tanah Air Konser Kampung.

Terinspirasi Kodok

Pencipta gerak Tari Belentung, Ecin Kuraisin, mengatakan tarian tersebut terinspirasi dari kodok yang memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat Jatitujuh.

Bagi masyarakat agraris, keberadaan kodok menjadi salah satu penanda ekosistem sawah dan lingkungan yang masih memiliki sumber air. Karena itu, kodok digunakan sebagai simbol kesuburan, kelimpahan, dan kekayaan alam.

“Tari Belentung ini menggambarkan seekor kodok. Kenapa kodok? Karena Jatitujuh banyak mengalami pembangunan. Sawah-sawah semakin berkurang akibat pembangunan,” ujar Ecin.

Gerakan Tari Belentung kemudian menggambarkan kodok yang berjalan dan melompat dengan penuh kegembiraan. Terdapat pula gerakan sembah sebagai simbol rasa syukur atas kekayaan alam yang dimiliki masyarakat.

“Sembah itu menggambarkan bahwa kita bersyukur. Dengan adanya kodok, berarti alam kita masih berlimpah. Masyarakat Jatitujuh memiliki kekayaan alam,” tuturnya.

Gerakan Tari Belentung sengaja dibuat sederhana agar mudah dipelajari masyarakat. Harapannya, tarian tersebut tidak berhenti sebagai pertunjukan seni, tetapi menjadi bagian dari identitas budaya Jatitujuh yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kami ingin masyarakat Jatitujuh dan sekitarnya bisa melakukan dan mempelajari tarian ini untuk dilestarikan. Ini menjadi tarian kreasi tradisi yang menjadi ciri khas Jatitujuh,” jelas Ecin.

Ia berharap Tari Belentung terus berkembang dan menjadi ruang yang mampu mempererat kebersamaan masyarakat.

“Harapannya Tari Belentung semakin berkembang karena melalui tarian ini masyarakat bisa bersatu,” pungkasnya. (bae)