MAJALENGKA — Kenaikan harga daging ayam broiler di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Majalengka dalam dua pekan terakhir menjadi angin segar bagi para peternak. Setelah sebelumnya dihantam anjloknya harga ayam dan tingginya angka kematian akibat cuaca panas ekstrem, peternak kini mulai mendapat ruang untuk menutup sebagian kerugian.
Harga ayam hidup di tingkat peternak yang sebelumnya sempat terpuruk hingga Rp17.000 per kilogram, kini berangsur naik dan stabil di kisaran Rp24.500 hingga Rp25.000 per kilogram.
Kondisi tersebut dirasakan langsung para peternak ayam pedaging di Majalengka. Mereka menilai kenaikan harga memberikan harapan setelah usaha peternakan sempat berada dalam tekanan akibat kombinasi cuaca ekstrem dan rendahnya harga jual.
Salah seorang peternak ayam broiler di Kabupaten Majalengka, Surahmat, mengatakan kondisi penjualan saat ini mulai kembali normal. Stabilnya harga ayam juga dinilai mampu mengurangi sebagian kerugian yang sebelumnya dialami peternak.
“Alhamdulillah sekarang penjualan ayam mulai normal dan harganya pun cukup stabil. Ini memberikan harapan besar bagi kami para peternak, sekaligus bisa mengobati sedikit kerugian akibat anjloknya harga dan tingginya tingkat kematian ayam beberapa waktu lalu,” ujar Surahmat.
Namun, kenaikan harga ayam justru menjadi persoalan bagi pedagang daging ayam di pasar tradisional.
Sejumlah pedagang di Pasar Rajagaluh, Leuwimunding hingga Sindangkasih mengaku mengalami penurunan omzet sejak harga daging ayam di tingkat konsumen mengalami kenaikan.
Harga daging ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp28.000 per kilogram, kini menembus Rp36.000 hingga Rp44.000 per kilogram.
Kenaikan tersebut membuat sebagian konsumen mengurangi pembelian sehingga volume penjualan pedagang ikut tertekan.
Wati, salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Rajagaluh, mengatakan omzet penjualannya turun lebih dari 20 persen setiap hari sejak harga ayam mengalami kenaikan.
“Waktu harga ayam masih di kisaran Rp25 ribu hingga Rp28 ribu, penjualan masih cukup stabil dan cenderung meningkat. Sekarang harganya sudah mencapai Rp36 ribu hingga Rp44 ribu per kilogram, sehingga penjualan kami menurun drastis,” terang Wati.
Kondisi ini menunjukkan adanya dua sisi dari kenaikan harga ayam. Di satu sisi, peternak mulai memperoleh harga jual yang lebih baik setelah sebelumnya mengalami kerugian. Namun di sisi lain, pedagang dan konsumen harus menghadapi dampak kenaikan harga di tingkat pasar.
Bagi peternak, stabilnya harga ayam menjadi momentum untuk memulihkan usaha setelah menghadapi tekanan akibat cuaca panas dan rendahnya harga jual. Sementara bagi pedagang, tingginya harga jual menjadi tantangan baru karena berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Dengan kondisi tersebut, para pelaku usaha di sektor perunggasan berharap harga ayam dapat tetap berada pada level yang wajar dan tidak kembali jatuh seperti sebelumnya, sehingga peternak maupun pedagang dapat sama-sama mempertahankan keberlangsungan usahanya.
(pai)
















