Kenalkan STEM, Sulap Botol Bekas Jadi Karya Kreatif di SDN 1 Kedungjaya Cirebon

Murid SDN 1 Kedungjaya Cirebon sulap botol bekas jadi jam dan lukisan melalui pembelajaran kreatif yang ramah lingkungan.

CIREBON – Botol plastik bekas yang biasanya dibuang setelah digunakan ternyata bisa disulap menjadi berbagai karya kreatif. Inilah yang dilakukan murid kelas 5 SD Negeri 1 Kedungjaya, Kabupaten Cirebon, melalui pembelajaran inovatif yang menggabungkan kreativitas, keterampilan, dan pengenalan sains sejak dini.

Di bawah bimbingan guru kelas 5, Linda Irawati, para murid diajak memanfaatkan botol plastik dan tutupnya untuk membuat beragam benda, mulai dari jam hingga lukisan. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan tangan, tetapi juga menjadi cara menyenangkan untuk mengenalkan konsep STEM kepada anak-anak.

STEM merupakan singkatan dari Science, Technology, Engineering, and Mathematics, yakni sains, teknologi, rekayasa, dan matematika. Pendekatan pembelajaran ini mendorong murid memahami materi melalui praktik langsung, eksperimen, serta proses menemukan solusi dari persoalan sederhana di sekitar mereka.

Alih-alih hanya mengandalkan buku pelajaran dan penjelasan guru di dalam kelas, murid SDN 1 Kedungjaya diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan karya. Mereka mengumpulkan botol bekas, memilah bahan yang dapat digunakan, kemudian mengolahnya menjadi benda yang memiliki nilai guna.

“Anak-anak kami minta mengumpulkan botol bekas untuk didaur ulang. Dari botol dan tutup botol itu, mereka bisa membuat jam, lukisan, dan berbagai karya lainnya,” ujar Linda.

Melalui kegiatan tersebut, proses belajar menjadi lebih interaktif. Murid tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar mengembangkan ide, menyusun bahan, menentukan bentuk karya, hingga mencoba berbagai cara agar hasilnya sesuai dengan rencana.

Belajar STEM Lewat Praktik Langsung

Pengenalan STEM melalui barang bekas memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi murid. Mereka dapat memahami bahwa pengetahuan yang diperoleh di sekolah memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Saat membuat karya, murid berkesempatan mengenal konsep sains melalui sifat bahan yang digunakan. Unsur teknologi dan rekayasa dapat diperkenalkan melalui pemilihan alat, penyusunan komponen, serta proses membentuk benda. Sementara itu, matematika bisa diterapkan ketika mereka mengukur, menghitung, atau menentukan ukuran dan posisi bagian-bagian karya.

Pembelajaran seperti ini juga memberi ruang bagi murid untuk mencoba dan memperbaiki hasil pekerjaan mereka. Ketika sebuah rancangan belum sesuai harapan, mereka dapat mencari alternatif dan mencoba pendekatan lain dengan arahan guru.

Linda menilai, keterlibatan langsung dalam kegiatan praktik membuat murid lebih antusias mengikuti pembelajaran. Suasana kelas pun terasa lebih hidup karena anak-anak memiliki kesempatan untuk berkreasi sekaligus belajar melalui pengalaman.

“Mereka sangat tertarik. Belajarnya seperti ini, langsung dipraktikkan. Jadi belajar sambil bermain, learning by doing,” katanya.

Pendekatan learning by doing atau belajar melalui praktik memungkinkan murid memperoleh pengalaman secara langsung. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi juga memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kreativitas, ketelitian, dan kemampuan memecahkan masalah.

Botol Bekas Jadi Media Belajar Ramah Lingkungan

Bagi Linda, pemanfaatan botol plastik bekas bukan sekadar kegiatan membuat kerajinan. Lebih dari itu, aktivitas tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan materi pelajaran dengan lingkungan tempat murid beraktivitas.

Barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi sesuatu yang menarik dan bermanfaat. Dari proses sederhana ini, murid juga diajak memahami pentingnya menggunakan kembali barang yang masih layak pakai dan mengurangi sampah plastik.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran STEM tidak selalu membutuhkan peralatan canggih atau laboratorium khusus. Guru dapat memanfaatkan bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar sekolah maupun rumah untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Dengan perencanaan yang tepat, benda sehari-hari dapat menjadi media untuk mengenalkan berbagai konsep ilmu pengetahuan. Murid pun memiliki kesempatan untuk belajar secara aktif tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas yang mahal.

Melalui inovasi pembelajaran ini, murid kelas 5 SDN 1 Kedungjaya, Kabupaten Cirebon, diajak melihat lingkungan sekitar dari sudut pandang yang berbeda. Botol bekas bukan lagi sekadar sampah, melainkan bahan yang dapat memunculkan ide dan menghasilkan karya kreatif.

“Dengan memanfaatkan barang bekas dan memberi ruang bagi murid untuk bereksperimen, kegiatan belajar dapat menjadi lebih dekat dengan kehidupan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” pungkas Linda. (awr)