DPUTR Normalisasi Saluran Irigasi Panguragan Sepanjang 1,2 Kilometer, Upaya Tekan Risiko Banjir

DPUTR Kabupaten Cirebon normalisasi saluran irigasi Panguragan sepanjang 1,2 kilometer setelah puluhan tahun untuk memperlancar aliran air dan menekan banjir.

CIREBON – Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Cirebon melakukan normalisasi saluran irigasi tersier sepanjang 1,2 kilometer di Kecamatan Panguragan. Penanganan ini menjadi langkah untuk mengatasi persoalan saluran yang selama puluhan tahun belum mendapatkan normalisasi dan kerap dikeluhkan pemerintah desa karena memicu banjir.

Normalisasi tersebut dilaksanakan melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUTR Kabupaten Cirebon dengan menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung. Kolaborasi ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi saluran agar aliran air lebih lancar, terutama ketika debit air meningkat saat musim hujan.

Kepala Bidang SDA DPUTR Kabupaten Cirebon, Bambang Afrianto, mengatakan penanganan saluran irigasi di Panguragan merupakan tindak lanjut atas aspirasi para kuwu atau kepala desa yang selama ini menghadapi persoalan banjir di wilayahnya.

Menurut Bambang, kondisi saluran yang telah puluhan tahun tidak dinormalisasi membuat aliran air berpotensi terhambat. Situasi tersebut dikeluhkan pemerintah desa karena kerap berkaitan dengan terjadinya banjir di sejumlah desa di Kecamatan Panguragan.

“Memang ada keluhan dari para kuwu di daerah Panguragan. Saluran tersebut sudah puluhan tahun tidak dilakukan normalisasi, sehingga sering menyebabkan banjir di berbagai desa di wilayah Panguragan,” ujarnya.

DPUTR Kabupaten Cirebon Tangani Saluran Irigasi 1,2 Kilometer

Bambang menjelaskan, normalisasi sepanjang 1,2 kilometer diperlukan untuk memulihkan fungsi saluran irigasi. Dengan kondisi saluran yang lebih optimal, aliran air diharapkan dapat bergerak lebih lancar sehingga potensi terjadinya genangan dapat ditekan.

Penanganan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam merespons keluhan masyarakat terkait persoalan banjir yang berulang. Saluran irigasi yang tidak berfungsi optimal dapat menghambat aliran air, terlebih ketika curah hujan tinggi dan debit air meningkat.

Karena itu, normalisasi menjadi salah satu langkah yang diperlukan untuk mendukung kelancaran aliran air di wilayah yang selama ini menghadapi persoalan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Cirebon juga menggandeng BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam pelaksanaan pekerjaan. Kerja sama ini dinilai penting untuk mendukung penanganan infrastruktur sumber daya air yang membutuhkan perhatian dan perbaikan setelah sekian lama belum dinormalisasi.

Bambang berharap pekerjaan tersebut dapat menjawab aspirasi pemerintah desa sekaligus membantu mengurangi risiko banjir yang selama ini dikeluhkan masyarakat Panguragan.

“Kami berharap penanganan ini dapat menjawab keluhan pemerintah desa sekaligus mengurangi risiko banjir yang selama ini menjadi persoalan warga Panguragan,” pungkasnya.

Pemeliharaan Saluran Jadi Faktor Penting

Meski normalisasi diharapkan dapat memperlancar aliran air, efektivitasnya dalam mengurangi banjir tetap bergantung pada kondisi saluran secara keseluruhan dan pemeliharaan secara berkala setelah pekerjaan selesai.

Pemeliharaan diperlukan agar saluran tidak kembali mengalami pendangkalan atau penyumbatan yang dapat menghambat aliran air. Dengan demikian, fungsi saluran irigasi dapat dipertahankan dan manfaat penanganannya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Melalui normalisasi saluran irigasi tersier sepanjang 1,2 kilometer ini, DPUTR Kabupaten Cirebon bersama BBWS Cimanuk Cisanggarung diharapkan dapat mendukung upaya pengurangan risiko banjir di Kecamatan Panguragan, khususnya di desa-desa yang selama ini terdampak.

Penanganan tersebut menjadi salah satu upaya perbaikan infrastruktur sumber daya air untuk meningkatkan kelancaran aliran sekaligus merespons kebutuhan masyarakat terhadap penanganan banjir. (den)