
CIREBON – Pelatihan keterampilan tata boga dan barista yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Jawa Barat bersama Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, George Edwin Sugiharto, resmi ditutup pada Jumat (16/10/2026). Program yang berlangsung selama lima hari, sejak 12 Oktober 2026, ini diharapkan mampu membuka peluang usaha baru sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
Pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya mendorong peningkatan keterampilan masyarakat agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja. Tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, peserta juga dibekali kemampuan untuk merintis usaha mandiri di bidang kuliner dan minuman.
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, George Edwin Sugiharto, mengapresiasi keseriusan dan kedisiplinan para peserta selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Menurutnya, perkembangan keterampilan peserta terlihat dari penampilan yang rapi hingga kualitas produk yang dipamerkan saat penutupan pelatihan.
Salah satu agenda penutupan adalah uji rasa atau test food terhadap hidangan yang dibuat peserta tata boga serta racikan kopi hasil praktik peserta barista. Dari hasil penilaian tersebut, George menilai produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang menjanjikan dan berpotensi bersaing dengan produk kuliner yang telah beredar di pasaran.
“Rasanya bisa bersaing dengan berbagai kuliner dan kafe-kafe tempat ngopi yang terkenal. Ini murni hasil karya peserta pelatihan yang luar biasa,” ungkap George, anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Gerindra.
Menurut George, hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan keterampilan yang disertai praktik langsung dapat menjadi bekal penting bagi masyarakat untuk memasuki dunia usaha. Dengan kemampuan yang telah diperoleh, peserta diharapkan tidak hanya bergantung pada kesempatan kerja yang tersedia, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.
Peserta Dibekali Peralatan untuk Memulai Usaha
George menjelaskan, program pelatihan tata boga dan barista dirancang agar manfaatnya tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Karena itu, peserta juga mendapatkan dukungan berupa peralatan yang dapat digunakan sebagai modal awal untuk merintis usaha.
Peserta pelatihan barista memperoleh bantuan peralatan untuk meracik kopi. Sementara itu, peserta tata boga dibekali peralatan pendukung untuk membuat kue dan mengembangkan produk kuliner.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu para alumni mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari tanpa harus memulai seluruh kebutuhan usaha dari awal. Dengan peralatan yang tersedia, peserta memiliki kesempatan untuk mulai menerima pesanan, memasarkan produk, atau mengembangkan usaha sesuai potensi masing-masing.
“Peserta dibekali ilmu krusial mengenai cara menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) hingga teknik menentukan harga jual yang ideal agar usaha mendatangkan keuntungan. Untuk pelatihan barista kami berikan bantuan peralatan untuk meracik kopi, untuk tata boga kami berikan peralatan membuat kue,” bebernya.
Selain keterampilan teknis dan bantuan peralatan, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai perhitungan biaya produksi serta penentuan harga jual. Pengetahuan tersebut dinilai penting agar calon pelaku usaha dapat mengelola bisnis secara lebih terukur.
Pemahaman mengenai Harga Pokok Produksi (HPP), misalnya, membantu peserta memperkirakan biaya bahan baku, penggunaan perlengkapan, dan kebutuhan produksi lainnya. Dengan perhitungan yang tepat, pelaku usaha dapat menetapkan harga jual yang kompetitif sekaligus menjaga peluang keuntungan.
Aspek pengelolaan usaha ini menjadi penting karena kemampuan membuat produk berkualitas perlu diimbangi dengan kecakapan mengelola keuangan dan membaca kebutuhan pasar. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan.
Akses Permodalan Disiapkan bagi Alumni
Untuk memperkuat peluang peserta dalam memulai usaha, program ini juga membuka peluang akses permodalan melalui kerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB).
Fasilitasi tersebut diharapkan dapat membantu alumni yang membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha. Dengan dukungan peralatan, keterampilan, dan akses informasi mengenai pembiayaan, peserta memiliki sejumlah bekal untuk melangkah dari tahap pelatihan menuju praktik usaha.
Meski demikian, keberhasilan program akan sangat bergantung pada kemampuan alumni memanfaatkan fasilitas yang tersedia, menjaga kualitas produk, serta membangun pasar. Konsistensi dalam produksi dan pelayanan juga menjadi faktor penting agar usaha yang dirintis dapat bertahan dan berkembang.
George berharap para peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan. Ia mendorong alumni untuk segera menerapkan ilmu yang diperoleh, baik dengan membuka usaha sendiri maupun memanfaatkan keterampilan tersebut untuk bekerja di sektor kuliner dan jasa minuman.
George Dorong Pelatihan Berlanjut pada 2027
Melihat antusiasme peserta dan manfaat yang diharapkan dari program tersebut, George berkomitmen mendorong keberlanjutan pelatihan berbasis pemberdayaan masyarakat pada tahun anggaran 2027.
Menurutnya, program pelatihan yang menjangkau masyarakat secara langsung merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam menjawab kebutuhan keterampilan dan memperluas kesempatan kerja. Terlebih, bidang kuliner dan minuman memiliki beragam peluang pengembangan, mulai dari usaha rumahan, katering, penjualan kue, hingga kedai kopi.
Keberlanjutan program diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan keterampilan yang relevan, masyarakat diharapkan mempunyai pilihan lebih luas untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
“Para alumni pelatihan diharapkan dapat memanfaatkan ilmu dan fasilitas yang diberikan untuk membuka lapangan usaha baru, menyerap tenaga kerja lokal, serta mendongkrak perekonomian keluarga,” pungkasnya.
Melalui pelatihan tata boga dan barista ini, George berharap semakin banyak masyarakat yang mampu mengubah keterampilan menjadi sumber penghasilan. Selain membantu peserta memasuki dunia kerja, program tersebut juga diharapkan mendorong tumbuhnya wirausaha baru dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di wilayah Cirebon dan sekitarnya. (abd)















