Bukan Sekadar Ritual, Ini Makna Ruatan Murwakala yang Masih Dijaga di Cirebon

Tradisi Ruatan Murwakala kembali digelar di Cirebon. Sebanyak 35 peserta mengikuti prosesi adat, siraman hingga pagelaran wayang kulit.

CIREBON – Tradisi Ruatan Murwakala kembali menjadi bagian penting dalam upaya menjaga warisan budaya leluhur di Cirebon. Prosesi yang sarat nilai spiritual dan adat tersebut dipersiapkan dengan tetap mempertahankan tata cara serta etika yang diwariskan secara turun-temurun.

Persiapan pelaksanaan Ruatan Murwakala berlangsung di kediaman P Pangeran Panji Jaya Prawirakusuma, Minggu (20/9). Suasana sakral berpadu dengan keakraban terlihat dalam rangkaian kegiatan yang diisi latihan tari topeng dan pertunjukan wayang dengan iringan gamelan secara langsung.

Latihan tersebut bukan sekadar kegiatan seni. Bagi para pelaku adat, rangkaian itu menjadi bagian dari persiapan menuju puncak pelaksanaan Ruatan Murwakala.

Sultan Sepuh Aloeda II, R Rahardjo Djali, mengatakan pelestarian tradisi seperti Ruatan Murwakala penting dilakukan karena menjadi bagian dari identitas kebudayaan masyarakat Cirebon.

Ia mengapresiasi para panggawa dan tetua adat yang selama ini konsisten menjaga tradisi agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

“Ini satu kegiatan yang sangat positif dalam rangka kita memelihara, melestarikan, dan melindungi adat budaya yang sudah berakar di masyarakat Cirebon,” ujar Rahardjo.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada P Pangeran Panji Jaya Prawirakusuma yang selama ini dinilai konsisten merawat tradisi tersebut.

“Saya bersyukur di sini ada Mama Pangeran Panji Jaya Prawirakusuma yang sampai saat ini adalah satu-satunya yang bisa merawat ini semua. Saya berharap setelah polemik di Keraton Kasepuhan ini selesai, Mama Pangeran Panji Jaya tetap bisa mendampingi saya untuk bersama memelihara kebudayaan di Cirebon,” katanya.

Sementara itu, P Pangeran Panji Jaya Prawirakusuma selaku Tetua Adat Mertasinga menjelaskan bahwa pelaksanaan Ruatan Murwakala tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Setiap tahapan memiliki aturan, etika, serta tata cara yang harus dihormati.

Salah satunya adalah prosesi lamaran atau permisi kepada pemilik hajat sekaligus lingkungan tempat kegiatan dilaksanakan.

“Prosesi ini bagian dari Ruatan Murwakala, yaitu lamaran, siraman tawandari. Sebelum acara wayang dimulai, sebagai orang ketimuran kita harus menjunjung tinggi etika, moral, dan adab, yaitu izin pekarangan. Izin kepada tuan rumah dan yang ‘bawa reksa’ di dalam rumah maupun lingkungan sekitar,” jelasnya.

Menurut Panji Jaya, salah satu bagian penting dalam rangkaian ruatan adalah prosesi siraman. Calon anak yang mengikuti ruatan akan dimandikan menggunakan air kembang tujuh rupa, baik sebelum maupun setelah rangkaian utama dilaksanakan.

Prosesi tersebut memiliki makna simbolis sebagai bentuk penyucian diri.

“Tujuannya agar anak ruat yang tadinya bersih menjadi tambah bersih. Inti sari ruatan adalah mensucikan diri, menghilangkan kesialan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tuturnya.

Ruatan massal tersebut secara rutin digelar setiap tiga tahun sekali. Pelaksanaan tahun ini menjadi putaran keempat setelah tradisi tersebut berjalan selama 12 tahun.

Jumlah peserta juga cukup beragam. Sebanyak 35 orang mengikuti ruatan tahun ini. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah Cirebon dan sekitarnya, tetapi juga dari Indramayu hingga para pekerja migran Indonesia yang berada di Taiwan, Qatar, dan Singapura.

Rangkaian tersebut kemudian akan mencapai puncaknya melalui pagelaran wayang kulit. Pertunjukan wayang menjadi salah satu bagian utama dalam tradisi Ruatan Murwakala karena menyatukan unsur seni, budaya, serta nilai-nilai filosofi yang diwariskan leluhur.

Ki Dalang Anom Anung Suyatna dipercaya membawakan pertunjukan tersebut. Ia mengatakan pagelaran wayang ruatan dipersiapkan secara khusus karena memiliki konteks sakral dalam keseluruhan rangkaian tradisi.

“Untuk wayangan dari sore sampai semalam suntuk, atas permintaan khusus dari Mama Panji, kami akan menyuguhkan lakon kolosal dari galur Ramayana, yaitu ‘Indrajit Gugur’,” ungkapnya.

Pelaksanaan Ruatan Murwakala menjadi gambaran bagaimana tradisi leluhur masih berusaha dipertahankan di tengah perubahan zaman. Kolaborasi antara unsur keraton, tetua adat, serta para seniman menjadi bagian penting agar tradisi tersebut tetap memiliki ruang di tengah masyarakat.

Bagi masyarakat Cirebon, keberadaan tradisi seperti Ruatan Murwakala tidak hanya berkaitan dengan ritual adat. Di dalamnya terdapat nilai etika, penghormatan terhadap lingkungan, seni tradisional, serta pesan spiritual yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (wan)