81 Peserta Berebut 75 Kursi Program Pelatihan Bahasa Jepang

Sebanyak 81 orang ikut pelatihan bahasa Jepang

CIREBON – Persaingan mengikuti Program Pelatihan Bahasa dan Budaya Jepang “From Zero to Hero” Batch II Tahun 2026 semakin ketat. Sebanyak 81 peserta harus bersaing untuk memperebutkan 75 kursi pelatihan setelah sebelumnya menyisihkan sekitar 1.400 pendaftar.

Proses seleksi berlangsung di Aula Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Cirebon, Jalan Slamet Riyadi, Rabu (2/9/2026). Seleksi dilakukan melalui sejumlah tahapan untuk mengukur kemampuan fisik, kompetensi dasar, serta kesiapan mental peserta sebelum mengikuti pelatihan kerja ke Jepang.

Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, mengatakan setiap peserta harus melewati sejumlah indikator penilaian. Tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan peserta yang terpilih benar-benar siap mengikuti pelatihan hingga nantinya bekerja di lingkungan Jepang.

“Seleksinya terdiri dari tes kesamaptaan dan kemampuan. Untuk kesamaptaan, peserta menjalani uji fisik yang bertujuan mengukur kebugaran, kekuatan, dan daya tahan tubuh,” ujar Novi.

Selain tes fisik, peserta juga menjalani pengujian kemampuan dasar bahasa Jepang, matematika dasar, dan materi lainnya. Setelah itu, peserta yang lolos akan mengikuti psikotes serta pemeriksaan kesehatan atau Medical Check Up (MCU).

Menurut Novi, seluruh tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyaringan peserta. Setiap peserta diminta mengikuti seluruh rangkaian seleksi secara sungguh-sungguh dan tetap menjunjung tinggi sportivitas.

“Semua tahapan wajib diikuti. Mereka harus berkompetisi secara sportif untuk bisa lolos ke tahap berikutnya,” katanya.

Dari 81 peserta yang mengikuti seleksi, tim penguji nantinya hanya menetapkan 75 orang untuk mengikuti Program Pelatihan Bahasa dan Budaya Jepang. Peserta yang dinyatakan lolos akan melanjutkan pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di Depok.

Novi menegaskan, penentuan peserta sepenuhnya menjadi kewenangan tim penguji berdasarkan hasil penilaian pada setiap tahapan seleksi. Dengan demikian, peserta yang melanjutkan ke tahap pelatihan merupakan mereka yang dinilai memenuhi kriteria dan memiliki kesiapan.

“Penguji akan menentukan siapa yang layak melanjutkan ke tahap berikutnya sebelum mereka mengikuti pelatihan di LPK Depok,” ujarnya.

Selama menjalani pelatihan di Depok, peserta tidak hanya dibekali kemampuan berbahasa Jepang. Mereka juga akan mendapatkan pembelajaran mengenai budaya, aturan, etos kerja, tata krama, serta kebiasaan masyarakat Jepang.

Pembekalan tersebut dinilai penting karena peserta nantinya tidak hanya menghadapi lingkungan kerja baru, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan kehidupan sosial dan budaya yang berbeda.

“Ketika nanti bekerja di Jepang, mereka harus mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja maupun lingkungan sosial. Kemampuan beradaptasi dan sikap yang baik menjadi kunci untuk mendapatkan kepercayaan dan meraih kesuksesan,” kata Novi.

Program tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Cirebon dalam meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja lokal. Terlebih, peluang kerja bagi tenaga asing di Jepang masih terbuka di sejumlah sektor yang membutuhkan keterampilan tertentu.

Novi menyebutkan, peluang tersebut antara lain terdapat di sektor manufaktur, konstruksi, pertanian, perikanan, hingga pekerjaan sebagai caregiver.

Karena itu, Novi meminta para peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperoleh setelah berhasil menyisihkan ribuan pendaftar.

“Kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” katanya.

Menurut Novi, keberangkatan untuk bekerja ke luar negeri bukan sekadar persoalan mendapatkan pekerjaan. Peserta juga membutuhkan kompetensi, kesiapan mental, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi dengan budaya dan sistem kerja yang berbeda.

Pemkab Cirebon, lanjutnya, akan terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal agar memiliki peluang lebih besar menembus pasar kerja internasional.

“Pemerintah Kabupaten Cirebon berkomitmen meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal agar mampu bersaing di tingkat global. Kita ingin menciptakan sumber daya manusia yang profesional, memiliki karakter, dan siap menghadapi kebutuhan dunia kerja internasional,” pungkas Novi. (yog)