Banjir Mengintai Saat Musim Hujan, BPBD Kota Cirebon Siapkan Peralatan Evakuasi

BPBD siapkan peralatan evakuasi banjir di Kota Cirebon jelang musim hujan.

CIREBON – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir menjelang musim hujan. Sejumlah peralatan kebencanaan telah diperiksa untuk memastikan kesiapan petugas dalam melakukan penanganan dan evakuasi apabila terjadi bencana.

Selain memastikan kelengkapan peralatan, BPBD Kota Cirebon juga akan melakukan pemantauan terhadap sejumlah sungai dan titik rawan banjir. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengantisipasi bencana hidrometeorologi basah yang berpotensi terjadi seiring meningkatnya curah hujan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Eko Kuswantoro, mengatakan pemeriksaan peralatan kebencanaan, khususnya untuk penanganan banjir, telah dilakukan oleh personel logistik bersama petugas terkait.

Menurutnya, hasil pengecekan menunjukkan bahwa kelengkapan peralatan yang dibutuhkan untuk menghadapi potensi banjir telah memenuhi kebutuhan kesiapsiagaan awal.

“Alhamdulillah di BPBD, terkait dengan alat-alat kebencanaan banjir sudah dipersiapkan. Kemarin sudah dicek oleh anggota logistik dan teman-teman yang lainnya, terkait dengan kesiapan alat. Alhamdulillah sudah dicek dan kelengkapannya sudah memenuhi,” ujar Eko kepada Rakyat Cirebon, Senin (26/10).

Kesiapan tersebut diharapkan dapat mendukung respons petugas apabila banjir terjadi, mulai dari penanganan awal hingga proses evakuasi warga yang terdampak. Dengan peralatan yang telah diperiksa, BPBD berupaya memastikan penanganan di lapangan dapat dilakukan secara lebih cepat dan terkoordinasi.

BPBD Pantau Sungai dan Titik Rawan Banjir

Tidak hanya menyiapkan peralatan, BPBD Kota Cirebon juga menjadwalkan pemantauan sejumlah sungai yang berpotensi memicu banjir. Kegiatan monitoring direncanakan berlangsung mulai pekan ini hingga pekan depan.

Pemantauan tersebut difokuskan pada lokasi yang selama ini dikenal rawan terdampak luapan air. Melalui kegiatan ini, petugas dapat mengamati kondisi sungai sekaligus mengidentifikasi titik yang perlu mendapat perhatian lebih menjelang musim hujan.

Eko menjelaskan, langkah antisipasi dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah perangkat daerah. Di antaranya Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) serta Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kota Cirebon.

Koordinasi lintas instansi diperlukan karena penanganan banjir tidak hanya berkaitan dengan kesiapan personel dan peralatan evakuasi, tetapi juga kondisi aliran sungai serta infrastruktur pendukung pengendalian air.

Ia menyebutkan, penanganan sejumlah aliran sungai di Kota Cirebon, termasuk Sungai Sukalila, telah dilaksanakan dan sebagian besar pekerjaan dilaporkan hampir rampung.

“Kemarin sudah berkolaborasi dengan stakeholder lain seperti PUTR, DPRKP, dan yang lainnya. Perbaikan di Kota Cirebon sendiri, mulai dari Sukalila dan sungai-sungai yang lainnya, alhamdulillah sudah rampung, hampir rampung semuanya,” ungkapnya.

BPBD berharap kombinasi antara kesiapan peralatan, pemantauan sungai, dan koordinasi antarlembaga dapat membantu menekan risiko banjir. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama.

“Mudah-mudahan kejadian banjir di Kota Cirebon itu bisa diminimalisasi,” tambah Eko.

Harjamukti dan Kesambi Jadi Wilayah Rawan

Dalam upaya mengantisipasi banjir, BPBD Kota Cirebon turut memberikan perhatian terhadap sejumlah kawasan yang selama ini kerap terdampak. Kecamatan Harjamukti dan Kesambi menjadi wilayah yang disebut memiliki titik rawan banjir, termasuk kawasan Cipto.

Menurut Eko, wilayah Harjamukti menjadi salah satu kawasan yang cukup sering mengalami persoalan banjir. Kondisi tersebut berkaitan dengan aliran air dari wilayah sekitar yang bergerak menuju kawasan hilir di Kota Cirebon.

Aliran air dari Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan dapat meningkatkan debit air yang melintasi wilayah kota. Ketika debit meningkat bersamaan dengan kondisi air laut pasang, aliran menuju laut berpotensi terhambat sehingga air tertahan di sejumlah titik.

“Debit air dari Kabupaten Cirebon dan Kuningan menuju hilir ke laut. Kemarin debit airnya cukup tinggi dan air lautnya pasang, jadi terbendung di wilayah kota,” jelasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko banjir di Kota Cirebon juga dipengaruhi faktor di luar wilayah administrasi kota. Karena itu, pemantauan aliran sungai dan koordinasi antardaerah menjadi hal penting dalam upaya mengurangi dampak banjir.

Selain Harjamukti dan kawasan Cipto, sejumlah lokasi lain yang pernah mengalami banjir cukup signifikan antara lain Kelurahan Kalijaga, kawasan Suradinaya, serta Perumnas.

Eko menyebut, aliran sungai dari Kalijaga menuju kawasan Perumnas menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan. Pada kejadian banjir sebelumnya, ketinggian air di Kalijaga dilaporkan hampir setinggi orang.

“Di Kalijaga kemarin ketinggian airnya hampir setinggi orang. Terus di daerah Suradinaya dan daerah Perumnas yang merupakan aliran sungai dari Kalijaga menuju Perumnas,” tuturnya.

Pengalaman banjir sebelumnya menjadi bahan perhatian dalam menentukan lokasi pemantauan. Dengan mengenali kawasan yang berulang kali terdampak, langkah antisipasi diharapkan dapat dilakukan lebih terarah.

Kerugian Material Jadi Dampak yang Perlu Diantisipasi

Meski banjir berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan merusak barang milik warga, Eko menyampaikan bahwa selama dirinya bertugas di BPBD Kota Cirebon sejak 2023, ia belum mengetahui adanya korban jiwa akibat banjir di wilayah tersebut.

Dampak yang umumnya terjadi, kata dia, berupa kerugian material. Karena itu, kesiapsiagaan petugas dan upaya mengurangi risiko sejak dini dinilai penting untuk melindungi masyarakat serta meminimalkan kerusakan akibat bencana.

“Alhamdulillah, sejak saya di sini dari tahun 2023 belum ada korban jiwa terkait masalah banjir. Paling dampaknya biasanya kerugian material,” pungkasnya.

Menjelang musim hujan, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan deras berlangsung cukup lama. Warga juga perlu memperhatikan perubahan kondisi aliran sungai dan mengikuti informasi resmi dari petugas kebencanaan.

Melalui pemeriksaan peralatan evakuasi, monitoring sungai, serta koordinasi dengan perangkat daerah terkait, BPBD Kota Cirebon berharap risiko banjir dapat ditekan dan penanganan bencana bisa dilakukan lebih siap apabila kondisi darurat terjadi. (its)