CIREBON – Pemerintah Kota Cirebon terus melakukan langkah antisipasi menghadapi potensi banjir saat hujan deras. Salah satunya dengan melakukan normalisasi sungai di sejumlah wilayah yang mengalami sedimentasi dan penyempitan aliran.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), Pemkot Cirebon telah melakukan normalisasi di 14 titik sungai dengan total panjang mencapai sekitar 4 kilometer.
Normalisasi dilakukan untuk mengembalikan kapasitas sungai agar aliran air lebih lancar. Langkah tersebut juga diharapkan dapat mengurangi potensi genangan di sejumlah kawasan yang selama ini rawan terdampak saat hujan dengan intensitas tinggi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUTR Kota Cirebon, Adi Mas Doso, mengatakan 14 titik yang telah dinormalisasi tersebar di beberapa sungai.
Di antaranya Sungai Kedungpane, Sungai Kedungmenjangan, Sungai Kijing, Sungai Sijarak 2 yang berada di dua ruas jalan, Sungai Cipadu, Sungai Sijarak 1 di tiga ruas jalan, Sungai Kebat di dua ruas jalan, serta Sungai Cikenis.
“Yang sudah dilakukan normalisasi sudah ada 14 titik sungai atau sekitar 4 kilometer,” kata Doso kepada Rakyat Cirebon, Jumat (25/9).
Saat ini, DPUTR Kota Cirebon masih fokus mengerjakan normalisasi Sungai Cikenis. Sungai tersebut menjadi salah satu perhatian karena diharapkan mampu membantu mengurangi genangan yang kerap terjadi di kawasan Jalan Ciremai Raya.
Doso menjelaskan, pengerjaan normalisasi Sungai Cikenis sudah berlangsung hampir tiga minggu. Hingga saat ini, pekerjaan telah mencapai sekitar 200 meter dan masih akan dilanjutkan sepanjang 100 meter.
“Saat ini sedang fokus normalisasi di Sungai Cikenis. Sungai ini bisa mengurangi genangan air yang berada di Jalan Ciremai Raya yang selama ini dikeluhkan masyarakat,” ujarnya.
Ia menargetkan proses normalisasi Sungai Cikenis dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan.
Menurut Doso, kondisi sedimentasi di Sungai Cikenis cukup dalam. Karena itu, pengerjaan dilakukan dengan memperlebar ruang sungai sekitar tiga meter di sisi kanan dan kiri.
Ketebalan sedimentasi di sungai tersebut bahkan mencapai sekitar dua meter. Sedimentasi yang menumpuk dinilai dapat mengurangi kapasitas sungai dalam menampung dan mengalirkan air.
Setelah pekerjaan di Sungai Cikenis rampung, DPUTR Kota Cirebon akan melanjutkan normalisasi di Sungai Cimanggu dan Sungai Sigujeg.
Doso menegaskan, seluruh sungai di Kota Cirebon menjadi perhatian karena memiliki fungsi penting sebagai jalur aliran air. Terlebih, sungai yang berada di kawasan dengan aktivitas masyarakat cukup padat.
“Semua sungai menjadi prioritas karena aliran air. Yang paling vital adalah Sungai Sijarak karena memang berada di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo,” tegasnya.
Namun, pelaksanaan normalisasi di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan akses bagi alat berat menuju beberapa ruas sungai.
Kondisi tersebut antara lain disebabkan keberadaan bangunan liar maupun permukiman warga yang berada di sekitar bantaran sungai.
Jika alat berat tidak dapat masuk, DPUTR terpaksa melakukan pengerjaan secara manual dengan melibatkan tenaga manusia.
“Biasanya kalau tidak ada akses, kita menggunakan tenaga manusia. Biasanya menurunkan kurang lebih 15 sampai 20 personel,” ungkap Doso.
Selain melakukan normalisasi, DPUTR juga mengajak masyarakat ikut menjaga fungsi sungai. Warga diminta tidak membuang sampah ke badan sungai karena dapat menyumbat aliran dan memperparah sedimentasi.
Masyarakat juga diimbau tidak mendirikan bangunan di sekitar sungai yang berpotensi mempersempit ruang aliran air maupun menyulitkan petugas ketika melakukan normalisasi.
Dengan normalisasi di sejumlah titik tersebut, Pemkot Cirebon berharap kapasitas aliran sungai dapat kembali optimal. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari langkah antisipasi untuk mengurangi potensi genangan di sejumlah kawasan Kota Cirebon, terutama ketika curah hujan tinggi. (its)















