Pemerintah Bakal Gratiskan Kuliah di PTN, UGJ Dorong Perhatian Lebih untuk PTS

Rektor UGJ minta pemerintah lebih memperhatikan kam;pus swasta jika nanti kuliah digratiskan

CIREBON — Rencana pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp93,7 triliun untuk program kuliah gratis di perguruan tinggi negeri (PTN) pada 2027 mendatang menjadi perhatian perguruan tinggi swasta (PTS).

Kebijakan tersebut dinilai perlu diikuti dengan perhatian yang lebih besar terhadap keberlangsungan PTS, terutama dalam membantu mahasiswa yang mengalami kendala pembiayaan pendidikan.

Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon, Prof. Dr. Achmad Faqih, SP., MM., mengatakan persoalan biaya kuliah masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa di PTS.

Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan dukungan pembiayaan yang lebih luas bagi PTS, termasuk tambahan dana operasional. Dengan begitu, mahasiswa dari keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi tetap mempunyai kesempatan menyelesaikan pendidikan tinggi.

“Pemerintah ke depan dapat lebih bijak dalam menyikapi persoalan pembiayaan pendidikan di perguruan tinggi swasta. Dukungan pendanaan yang lebih memadai sangat dibutuhkan agar mahasiswa tidak sampai putus kuliah karena keterbatasan biaya,” ujar Faqih.

UGJ Targetkan 20 Persen Mahasiswa Terima Beasiswa

Faqih menjelaskan, UGJ sendiri telah menjalankan sejumlah kebijakan untuk membantu mahasiswa dalam memperoleh akses pendidikan melalui program beasiswa.

Sumber beasiswa tersebut berasal dari berbagai pihak, mulai dari alumni, pemerintah, sektor swasta, hingga Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati.

UGJ menargetkan sedikitnya 20 persen mahasiswa dapat memperoleh bantuan beasiswa.

“UGJ terus berkomitmen memberikan berbagai kebijakan beasiswa kepada mahasiswa. Sumbernya berasal dari berbagai jalur, baik alumni, pemerintah, swasta maupun yayasan,” katanya.

Selain memberikan keringanan biaya, UGJ juga terus melakukan pembenahan kualitas pendidikan. Sejumlah strategi ditempuh, di antaranya reformasi kurikulum, transformasi digital, serta penguatan tata kelola perguruan tinggi.

Langkah tersebut diarahkan agar lulusan UGJ memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Faqih mengatakan, peningkatan employability atau kemampuan lulusan untuk memasuki dan bertahan di dunia kerja menjadi salah satu perhatian kampus.

Dengan demikian, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.

UGJ Siapkan Strategi Hadapi Dampak Kuliah Gratis PTN

Terkait potensi dampak kebijakan kuliah gratis di PTN terhadap keberlangsungan PTS, khususnya di wilayah III Cirebon dan sekitarnya, UGJ akan terus memantau perkembangan implementasinya.

Faqih mengatakan, pihaknya juga berencana berdiskusi dengan pimpinan PTS lainnya untuk menyusun langkah strategis dalam menyikapi kebijakan tersebut.

Masukan dari PTS nantinya dapat disampaikan kepada pemerintah melalui audiensi maupun pendekatan dengan pihak-pihak terkait, termasuk melalui Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Seluruh Indonesia (APTSSI).

“Kami akan berdiskusi bersama para pimpinan perguruan tinggi swasta lainnya untuk merumuskan langkah strategis dan memberikan masukan kepada pemerintah. Harapannya, kebijakan yang dibuat dapat memberikan rasa keadilan bagi PTN maupun PTS,” tutur Faqih.

Ia berharap alokasi anggaran pendidikan tinggi yang bersumber dari APBN dapat memberikan manfaat secara proporsional, sehingga mahasiswa di PTN maupun PTS sama-sama memperoleh kesempatan untuk mengakses pendidikan tinggi.

Penerimaan Mahasiswa Baru PTS Mengalami Tantangan

Faqih mengakui, tren penerimaan mahasiswa baru di sejumlah PTS pada tahun ini cenderung mengalami penurunan.

Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya persaingan dengan PTN yang memiliki daya tampung serta peluang penerimaan mahasiswa yang semakin besar.

Selain itu, kondisi ekonomi masyarakat dan penurunan daya beli juga turut memengaruhi kemampuan keluarga dalam membiayai pendidikan tinggi.

Meski demikian, UGJ masih mampu menjaga kondisi penerimaan mahasiswa baru tetap stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Faqih, capaian tersebut tidak terlepas dari upaya kampus meningkatkan kualitas pembelajaran dan layanan pendidikan.

UGJ terus mendorong agar lulusan memiliki kompetensi yang kompetitif, adaptif, serta mempunyai kemampuan kerja yang sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri.

Kejar Akreditasi Unggul dan Internasionalisasi

Di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, UGJ juga terus memperkuat kualitas akademik dan tata kelola kampus.

Salah satu fokusnya adalah mempertahankan serta meningkatkan standar mutu akademik menuju pencapaian akreditasi unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Penguatan sumber daya manusia menjadi bagian dari strategi tersebut. UGJ terus mendorong peningkatan kualifikasi dosen, termasuk penambahan dosen bergelar doktor serta percepatan jabatan fungsional akademik menuju guru besar.

“Peningkatan mutu dan kualitas layanan pendidikan adalah prioritas utama kami untuk memastikan lulusan UGJ memiliki daya saing yang tinggi, baik di tingkat nasional maupun global,” ujar Faqih.

Selain penguatan internal, UGJ juga mulai memperluas program internasionalisasi di berbagai fakultas. Program tersebut antara lain diwujudkan melalui kerja sama dengan mitra global, mobilitas mahasiswa, serta pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Dengan berbagai strategi tersebut, UGJ optimistis dapat terus berkontribusi dalam mencetak lulusan yang kompeten, berkarakter, adaptif, dan mampu menghadapi persaingan di tingkat nasional maupun global. (abd)