Tak Punya Lahan Luas, Bapas Cirebon Panen 20 Kg Kangkung dari Galon Bekas

Meski tak punya laha, Bapas Kels 1 Cirebon panen 20 kilo kangkung dari media galon bekas

CIREBON – Keterbatasan lahan tak menghalangi Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Cirebon untuk mendukung program ketahanan pangan. Memanfaatkan ruang terbatas dan galon air mineral bekas sebagai wadah tanam, Bapas Cirebon berhasil memanen 140 ikat atau sekitar 20 kilogram kangkung, Selasa (1/9/2026).

Panen tersebut merupakan bagian dari program pertanian perkotaan atau urban farming yang dikembangkan di lingkungan kantor Bapas Kelas I Cirebon.

Dalam pelaksanaannya, Bapas Cirebon memadukan metode hidroponik dengan media tanah. Galon plastik bekas dimanfaatkan sebagai wadah budidaya tanaman sehingga tidak hanya membantu mengoptimalkan lahan yang terbatas, tetapi juga mengurangi limbah plastik.

Pengelolaan tanaman dilakukan secara mandiri oleh jajaran Bapas Kelas I Cirebon. Model budidaya tersebut menjadi salah satu alternatif untuk menghasilkan tanaman pangan di tengah keterbatasan lahan di kawasan perkotaan.

Kepala Bapas Kelas I Cirebon Yuliana mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan lembaganya terhadap program ketahanan pangan nasional.

“Bapas Kelas I Cirebon siap mendukung program ketahanan pangan nasional dengan memaksimalkan lahan minimalis yang ada,” kata Yuliana.

Menurutnya, kegiatan urban farming tersebut tidak semata-mata mengejar hasil panen. Lebih dari itu, program tersebut memiliki nilai edukasi sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Pemanfaatan galon bekas sebagai media tanam, kata dia, diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk memanfaatkan ruang yang terbatas agar tetap produktif dan mampu menghasilkan bahan pangan.

Panen perdana sebanyak 140 ikat atau sekitar 20 kilogram kangkung itu menjadi langkah awal bagi Bapas Cirebon untuk mengembangkan pertanian skala mikro di lingkungan kantor.

Ke depan, budidaya tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga hasilnya tidak hanya memenuhi sebagian kebutuhan internal, tetapi juga menjadi contoh bagi masyarakat maupun instansi lain yang menghadapi persoalan keterbatasan lahan.

Selain mendukung ketahanan pangan, pemanfaatan galon plastik bekas sebagai wadah tanam juga menjadi bagian dari upaya mengurangi limbah. Sampah yang sebelumnya tidak terpakai diubah menjadi media produktif untuk menciptakan ruang hijau di lingkungan perkotaan.

Langkah sederhana tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk mengembangkan pertanian. Dengan memanfaatkan barang bekas dan ruang yang tersedia, lingkungan kantor pun dapat menjadi area produktif yang memberikan manfaat pangan sekaligus lingkungan. (ade)