
MAJALENGKA – Sampah rumah tangga yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah tak berguna ternyata bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Inilah yang dibuktikan warga Desa Kawunghilir, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, melalui program Bank Sampah Unit (BSU) Tunggul Rahayu.
Program yang dirintis sejak 2025 di bawah kepemimpinan Kepala Desa Kawunghilir, Yosa Novita, tersebut mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang dikumpulkan setiap hari.
Kini, BSU Tunggul Rahayu telah memiliki 62 nasabah aktif. Jumlah tersebut menjadi bukti bahwa kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah secara produktif mulai tumbuh. Program ini bahkan menjadi salah satu model percontohan pengelolaan sampah di tingkat kecamatan.
Sampah Dijemput Langsung ke Rumah Warga
Ketua BSU Tunggul Rahayu, Irma Armilah, menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mendukung keberlangsungan program tersebut adalah sistem pelayanan jemput bola. Melalui mekanisme ini, pengurus mendatangi rumah warga untuk mengambil sampah yang telah dikumpulkan.
Penjemputan dilakukan secara berkala ketika jumlah sampah yang tersedia sudah mencukupi kapasitas tertentu, misalnya satu karung. Sistem ini memudahkan masyarakat untuk berpartisipasi tanpa harus mengantarkan sendiri sampah ke lokasi bank sampah.
Setelah tiba di rumah nasabah, petugas langsung menimbang sampah yang akan disetorkan. Selanjutnya, sampah dibawa ke gudang penyimpanan untuk menjalani proses pemilahan berdasarkan jenis material.
Sampah yang dikumpulkan antara lain berupa plastik dan besi. Material tersebut dipisahkan agar lebih mudah dikelola dan memiliki nilai jual sesuai kategori serta kondisi barang.
“Petugas mendatangi rumah penduduk secara berkala saat volume sampah yang terkumpul sudah memenuhi kapasitas tertentu, seperti satu karung,” terang Irma.
Hasil Penjualan Sampah Masuk Rekening Tabungan
Setelah proses pemilahan selesai, sampah yang telah terkumpul dijual kepada Bank Sampah Induk (BSI). Harga penjualan mengikuti patokan harga masing-masing jenis material yang dapat dipasarkan.
Dana dari hasil penjualan tersebut kemudian dimasukkan ke rekening tabungan milik nasabah. Dengan mekanisme ini, sampah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat berubah menjadi simpanan yang bisa dicairkan sesuai kebutuhan.
Konsep tersebut memberikan pengalaman baru bagi masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga. Warga tidak hanya didorong untuk membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga diajak memilah dan mengumpulkan material yang masih memiliki nilai ekonomi.
Melalui kebiasaan sederhana itu, masyarakat dapat memperoleh manfaat ganda. Lingkungan menjadi lebih terjaga karena sampah yang berpotensi menumpuk dapat dikumpulkan dan disalurkan melalui mekanisme pengelolaan yang lebih teratur. Di sisi lain, hasil penjualan sampah memberikan tambahan nilai ekonomi bagi keluarga.
Operasional BSU Tunggul Rahayu sendiri didukung tujuh orang pengurus. Tim tersebut terdiri dari empat petugas perempuan dan tiga petugas laki-laki yang menjalankan kegiatan pengumpulan serta pengelolaan sampah.
Dapat Dukungan Baznas untuk Pengembangan Bank Sampah
Konsistensi Desa Kawunghilir dalam menjalankan program pengelolaan sampah turut mendapat perhatian. Atas perkembangan tersebut, desa ini ditunjuk oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebagai pusat pengembangan bank sampah.
Selain penunjukan tersebut, BSU Tunggul Rahayu dijadwalkan menerima bantuan dana langsung dari Baznas RI untuk mendukung pengembangan program. Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat upaya pengelolaan sampah sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
Keberadaan bank sampah menjadi salah satu alternatif untuk membangun kebiasaan pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga. Dengan dukungan pengurus, pemerintah desa, dan partisipasi warga, sampah yang sebelumnya berakhir sebagai limbah dapat diarahkan menjadi material yang bernilai jual.
Bagi Desa Kawunghilir, keberhasilan BSU Tunggul Rahayu bukan semata-mata diukur dari jumlah nasabah, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Program ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Memilah sampah, mengumpulkan material yang masih bernilai, dan menyetorkannya ke bank sampah bisa menjadi kebiasaan sederhana yang memberikan manfaat nyata.
Dengan 62 nasabah aktif dan dukungan pengembangan dari Baznas, BSU Tunggul Rahayu berpotensi terus memperluas partisipasi warga. Harapannya, semakin banyak rumah tangga yang menerapkan pengelolaan sampah secara teratur sehingga lingkungan lebih bersih dan sampah dapat menjadi sumber tabungan tambahan bagi masyarakat. (iim)















