Sultan Kacirebonan IX Raih Global Citizenship XXI dan Aristocrat Philosopher Word

Sultan Kacirebonan IX Abdul Gani Natadiningrat meraih dua penghargaan global dan membawa pesan budaya Cirebon tentang persatuan dan perdamaian dunia.

CIREBON – Sultan Kacirebonan IX Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat kembali mendapat pengakuan di tingkat internasional. Ia menerima dua penghargaan global dalam Konvensi Supra Nasional Luar Biasa 2026 yang digelar di Bangsal Prabayaksa, Keraton Kacirebonan, Selasa (6/10).

Dua penghargaan yang diterima Sultan Kacirebonan IX tersebut masing-masing Global Citizenship XXI dan Aristocrat Philosopher Word. Abdul Gani hadir sebagai tamu kehormatan dalam kegiatan yang diselenggarakan Asosiasi Supra Nasional.

Konvensi yang berlangsung pukul 13.30 hingga 15.30 WIB itu mengangkat tema “WPF UNESCO dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika dari Kesultanan Kacirebonan untuk Aktif Menata Peradaban Dunia Lebih Baik.”

Penganugerahan dua penghargaan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam forum yang membawa gagasan Creating the Future Today atau menciptakan masa depan mulai dari hari ini.

Dalam forum tersebut, para peserta membahas sejumlah isu yang berkaitan dengan perkembangan dan masa depan peradaban dunia. Pembahasan mencakup perdamaian global, dialog antaragama, etika dalam perkembangan teknologi, hingga pentingnya kepemimpinan spiritual dalam menciptakan kehidupan yang lebih harmonis.

Nilai Bhinneka Tunggal Ika juga menjadi pesan utama dalam konvensi. Perbedaan agama, budaya, pandangan, serta latar belakang dinilai bukan sebagai penghalang, melainkan bagian dari kehidupan bersama yang harus dirawat melalui dialog, toleransi, dan sikap saling menghormati.

Abdul Gani menyampaikan bahwa penghargaan tersebut menjadi momentum untuk membawa nilai-nilai budaya Cirebon ke ruang yang lebih luas. Menurutnya, identitas budaya Cirebon memiliki pesan penting mengenai persatuan, keberagaman, dan perdamaian.

“Kami ingin nilai-nilai budaya Cirebon tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga memberi kontribusi bagi persatuan dan perdamaian dunia,” kata Abdul Gani.

Ia menjelaskan, Cirebon memiliki sejarah panjang sebagai wilayah yang mempertemukan berbagai latar belakang budaya dan agama. Proses pertemuan tersebut kemudian membentuk karakter masyarakat Cirebon yang dikenal memiliki keberagaman.

Karena itu, menurut Abdul Gani, nilai kebinekaan bukan sesuatu yang asing bagi Cirebon. Prinsip tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakatnya.

“Bagi Cirebon, pesan itu memiliki akar yang kuat. Kota ini tumbuh dari pertemuan berbagai pengaruh budaya dan agama. Keragaman tersebut menjadi bagian dari identitas yang terus hidup hingga sekarang,” ujarnya.

Melalui momentum tersebut, Kesultanan Kacirebonan berharap nilai budaya lokal tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah. Budaya juga diharapkan mampu menjadi bagian dari kontribusi masyarakat Cirebon dalam mendorong dialog, persatuan, dan perdamaian di tingkat global.

Dengan diterimanya dua penghargaan tersebut, Sultan Kacirebonan IX Raih Dua Penghargaan Global sekaligus membawa pesan bahwa warisan budaya daerah dapat memiliki relevansi dalam membangun peradaban dunia yang lebih inklusif dan harmonis.